Skip to main content

Puisi-puisi Dudi Irawan (5)

ENIGMA (1)

Tak perlu ditanya
Karena  jemari telah jenuh mengeja
Kebisuan yang  bertentang mata
Mereka-reka tanpa ada tanda tanya

Diam ternyata percuma
Tetap saja matahari meneteskan bara
Gelap di pikiranmu, tersesat di ujung lorong buntu
Sungguh tak dinyana
Perbincangan itu telah melahirkan jemu
Kontraksi di otakku, meronta-ronta dirahim benakmu

Tak tahukah engkau?
Itulah bias hasil persetubuhan .
Antara kebodohan dan ketololan dimasa lalu
Berputar-putar jawabpun tak bertemu

Kita bercumbu
Membongkar teka-teki waktu
Bertanya tentang takdir yang di titiskan Tuhan
Pada gurat garis-garis tangan kiri dan kanan

Sepenggal Enigma tentang hidup sesudah kematian
Seperti serumpun kamboja yang bungkam diatas pusara
Tak pernah tahu kapan ia luruh
Lalu raib dalam tanah yang kau tiduri kemudian…


KAMPUNG DIATAS AWAN (2)


 Kampungku diantara riak awan
Beratap merah dengan menara jingga
Hilir-mudik anak-anak peri bersayap putih
Menari berdansa pada semburat matahari..

Lanskap langit seumpama permadani
Membentang biru tak terjangkau imajinasi
Disitu, fantasi  kaum penyair
Menjelma dalam senyum bidadari..

Kampungku diatas awan
Ada pelangi yang membentang
Ada warna-warna romantika yang dapat kau jelang
Putih, biru, jingga, kelabu dihamparan jalan

Itulah Kampungku diatas awan…
(Palembang, 17 Juni 2011)


BISA APA AKU? (3)

Pada raut wajah tua
Keriput –keriput  yang menyiratkan senja
Kutangkap makna dibalik bening mata
Engkau ingin aku mengubah warna suram dinding-dinding rumah kita

Tapi bisa apa, aku?

Tengoklah kedalamnya, lurus dari pintu
Perabot kayu, perapian tungku batu masih utuh
Bingkai plastik potret masa lalu yang Engkau dekap pilu
Membisu, berdebu-debu disekujur tubuh

Lusuh gantungan baju
Almanak tua satu dasawarsa
Adalah sebagian cerita yang membiaskan kepergian
Satu demi satu kenangan dibenakmu

Padaku kau bebankan impian
Sisa harapan yang kau tunggui sepanjang malam
Masih engkau simpan di ingatan
Masih engkau ayun dalam buaian..

Tapi bisa apa, aku?  (Tanganku Cuma satu!)


MAGIC COM (4)


Uap mengepul
Lampu hijau berkedip-kedip manja
Setelah sebelumnya menyala merah
Emak tersenyum simpul

Tak perlu bersusah payah
Butir-butir nasi harum mewangi
Telah siap di saji pada makan malam nanti

Panci penanak nasi
Dandang pengukus tergantung jadi rumah tikus
Emak tak perduli
Telah jatuh cinta Ia pada Magic Com yang aku beli


(Palembang, 19 Juni 2011)

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…