Sunday, June 5, 2011

Puisi-puisi Dudi Irawan

istana untukmu.

kita bangun impian
dari gumpalan awan menjadi kediaman
bernaung rona senja yang semburat disela-sela ventilasi jendela

aku nyalakan pelita
dimana cahayanya telah kuminta pada purnama dan
bintang yang berserakan diangkasa

kupastikan sepanjang hidupmu
takkan ada gelap disetiap malam'mu
karena tlah kubangun istana cinta untuk kita hingga hari tua..


sebuah janji..

embun diwajahku
menetes satu-satu
direrumputan,
dimahkota kelopak bunga
kita kecup ketakjuban fajar
janji pada pagi
untuk memulai hari dengan cinta dan asmara abadi
engkau dan aku kan melukis siang dengan warna-warni pelangi..
 
 
Kata Hati Lewat Puisi

aku tengadah pada langit malamku yang retak berserakan. rembulan pecah, bintang gemintang berlarian entah kemana. gelap merajai peraduan, imajinasiku tentang kehidupan dimasa yang akan datang menguap sebelum fajar datang. setiap saat ditikam rindu, yang entah akupun tak tahu pada siapa rindu mesti ku alamatkan. abu-abu dimataku, kelabu dalam dimensi dimana aku terjebak sepanjang waktu.

Aku terseok-seok meniti jalanan berduri, telapak kaki melepuh, jelaga diwajahku. lelah mendera. pada Tuhan kutanyakan makna hidupku untuk semesta, Tuhan pun membisu. angin telah menawarkanku pada seseorang nun jauh disana. jelita elok parasnya, halus budi pekertinya selayaknya peri khayangan yang ku impikan, ketika hendak kujamah sebentuk bayangnya, seketika itu pula aku meradang. kembali aku bercumbu pada semu.

bilamana aku bisa meminta, maka kan kuputar bola waktu kebelakang. aku jemu pada harapan kosong yang dijanjikan sang malam sewaktu kulelap dalam buaian. sungguh realita tak seindah Maya. tapi itulah warna yang seharusnya bisa aku tangkap dan kujadikan fatwa. sajak basi, puisi kosong tanpa arti lalu pena pun kehabisan tinta begitu pula lidah yang akhirnya kelu untuk bersumpah serapah atau sekedar menyampaikan salam pada kematian yang Engkau janjikan.

sampai dimana jejak kaki kan membekas? tanpa arah aku berlari-lari, sesaat berhenti, kutengok kebelakang tak ada siapa-siapa, aku tertinggal sendiri rupanya. sahabat-sahabat masa kecil, cinta yang pernah singgah atau impian-impian semusim yang pernah aku lukiskan pada senja tlah memudar lalu menguap tiba-tiba. aku sepi lalu senandungkan lagu sunyi. berdansa pada derita, terik memainkan orkestra kepiluan yang mendayu-dayu. keringat memercik didahiku, aku bersidekap rapuh, tak berkawan, tak punya masa depan, keheningan menjadi jubahku dalam perjalanan. dalam kekalutan yang bergemuruh, aku pasrahkan jiwa pada malaikat pencabut nyawa. aku diam, kekalahan dalam pergulatan hidup telah memakan semangatku yang dahulu menggebu-gebu. aku tumbang lalu layu sebelum kudapat setangkai bunga mekar, sebelum dapat kuhirup semerbak wangi sang mawar. aku takluk, sesaat sebelum terpejam dapat kulihat kegelapan yang tak jua terbit terang.....

By : Dudi Irawan, 31 Mei 2011.