Skip to main content

Puisi-puisi Dudi Irawan

istana untukmu.

kita bangun impian
dari gumpalan awan menjadi kediaman
bernaung rona senja yang semburat disela-sela ventilasi jendela

aku nyalakan pelita
dimana cahayanya telah kuminta pada purnama dan
bintang yang berserakan diangkasa

kupastikan sepanjang hidupmu
takkan ada gelap disetiap malam'mu
karena tlah kubangun istana cinta untuk kita hingga hari tua..


sebuah janji..

embun diwajahku
menetes satu-satu
direrumputan,
dimahkota kelopak bunga
kita kecup ketakjuban fajar
janji pada pagi
untuk memulai hari dengan cinta dan asmara abadi
engkau dan aku kan melukis siang dengan warna-warni pelangi..
 
 
Kata Hati Lewat Puisi

aku tengadah pada langit malamku yang retak berserakan. rembulan pecah, bintang gemintang berlarian entah kemana. gelap merajai peraduan, imajinasiku tentang kehidupan dimasa yang akan datang menguap sebelum fajar datang. setiap saat ditikam rindu, yang entah akupun tak tahu pada siapa rindu mesti ku alamatkan. abu-abu dimataku, kelabu dalam dimensi dimana aku terjebak sepanjang waktu.

Aku terseok-seok meniti jalanan berduri, telapak kaki melepuh, jelaga diwajahku. lelah mendera. pada Tuhan kutanyakan makna hidupku untuk semesta, Tuhan pun membisu. angin telah menawarkanku pada seseorang nun jauh disana. jelita elok parasnya, halus budi pekertinya selayaknya peri khayangan yang ku impikan, ketika hendak kujamah sebentuk bayangnya, seketika itu pula aku meradang. kembali aku bercumbu pada semu.

bilamana aku bisa meminta, maka kan kuputar bola waktu kebelakang. aku jemu pada harapan kosong yang dijanjikan sang malam sewaktu kulelap dalam buaian. sungguh realita tak seindah Maya. tapi itulah warna yang seharusnya bisa aku tangkap dan kujadikan fatwa. sajak basi, puisi kosong tanpa arti lalu pena pun kehabisan tinta begitu pula lidah yang akhirnya kelu untuk bersumpah serapah atau sekedar menyampaikan salam pada kematian yang Engkau janjikan.

sampai dimana jejak kaki kan membekas? tanpa arah aku berlari-lari, sesaat berhenti, kutengok kebelakang tak ada siapa-siapa, aku tertinggal sendiri rupanya. sahabat-sahabat masa kecil, cinta yang pernah singgah atau impian-impian semusim yang pernah aku lukiskan pada senja tlah memudar lalu menguap tiba-tiba. aku sepi lalu senandungkan lagu sunyi. berdansa pada derita, terik memainkan orkestra kepiluan yang mendayu-dayu. keringat memercik didahiku, aku bersidekap rapuh, tak berkawan, tak punya masa depan, keheningan menjadi jubahku dalam perjalanan. dalam kekalutan yang bergemuruh, aku pasrahkan jiwa pada malaikat pencabut nyawa. aku diam, kekalahan dalam pergulatan hidup telah memakan semangatku yang dahulu menggebu-gebu. aku tumbang lalu layu sebelum kudapat setangkai bunga mekar, sebelum dapat kuhirup semerbak wangi sang mawar. aku takluk, sesaat sebelum terpejam dapat kulihat kegelapan yang tak jua terbit terang.....

By : Dudi Irawan, 31 Mei 2011.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…