Thursday, June 9, 2011

Puisi-puisi Gun's Gunawan

Sepucuk Surat KepadaMu 

Aku…
Yang terkadang enggan berbagi
Secuilpun kepahitan hidup 
Aku..
Kian mencari-mendambakan
Seonggok bangkai elang yang halal 
Aku…
Berkehendak mematikan rerumput liar
Di halaman berpagar kawat duri 
Aku…
Merindukan udara padang Mahsyar
Sewaktu sujud di lantai dingin rumahMu 
Sepatah duka-cita dan pengharapan rasa ikhlasku
Sengaja tak kukirimkan ke alamatmu
Kaupun tak 'kan marah
Selama wujudMu tiada bermukim di salah satu rumah 
Entah dimana Engkau?
Di langit tinggi ataukah di palung perut bumi
Akh, Aku tiada pantas mencari
Buatapalah
Jika dimana dan kemana Ia tiap inci
Terserahlah 
Bangsat!
Ternyata Ia dekat sekali
Datangnya lebih cepat melebihi degupan jantung
Memompa darah 
Sampai juga molekul tauhid menyatu-padu
Dengan embrio penyakit hatiku 
-cukup sampai disini- 
Sebab Kau pemurah, Aku tak kan mengharap balasan surat dariMu.
                                                                                                             -Jkt juli '08-

 
                           Kerinduan
                *Sepucuk Surat Pada Ibu

Ibu, di tempat dimana Aku berjarak dengan mu
Pabila seraut wajahmu membayang
Terasa tersiksa batinku
Belum mampu mempersembahkan suatu senyuman 
Ibu, tersebutlah Aku dimasa dahulu
Terkadang bualan sengaja Aku lontarkan
Tiada lebih, hanyalah untuk secerah kebahagiaan
-kesedihan yang berat 
Sebab Aku tahu dengan pasti
Kerutan keningmu dan onak kecewa
Akan meneteskan air mata yang harus ku bendung
Yang harus ku teguk asinnya
-bagai air laut 
Ibu, kan ku mulai pada paruh tangisan hidup ini
Membangun monument drajat
Sebagai hadiah kecil bagimu
Dari estetika-estetika yang sengaja ku pilih
Dengan sepenuh tekad kuat
Yang bukan hanya sesaat 
Ibu, setelah Allahku: si penyayang Illahi
Padamulah sebentuk kecintaan dan kasih sayang
'kan kucurahkan selayaknya untuk istriku nanti
                                                                                     -Jkt juli '08-



                           Surat Dari Jiwa

Setangkup angan dan sesesak perjalanan kehidupan
Telah ku kenyam.
Meski belumlah cukup
Lusa
Ia 'kan ku peluk sepenuh asmara,
Terlanyangkan dari peristiwa demi peristiwa
Tragis maupun bahagia
Mengisyaratkan searah jalur berat
Beribadahlah
Berkarya
Lantas bertindak bersama rakyat
                                                                              -Cianjur juli '08-