Skip to main content

Puisi-puisi Gun's Gunawan

Sepucuk Surat KepadaMu 

Aku…
Yang terkadang enggan berbagi
Secuilpun kepahitan hidup 
Aku..
Kian mencari-mendambakan
Seonggok bangkai elang yang halal 
Aku…
Berkehendak mematikan rerumput liar
Di halaman berpagar kawat duri 
Aku…
Merindukan udara padang Mahsyar
Sewaktu sujud di lantai dingin rumahMu 
Sepatah duka-cita dan pengharapan rasa ikhlasku
Sengaja tak kukirimkan ke alamatmu
Kaupun tak 'kan marah
Selama wujudMu tiada bermukim di salah satu rumah 
Entah dimana Engkau?
Di langit tinggi ataukah di palung perut bumi
Akh, Aku tiada pantas mencari
Buatapalah
Jika dimana dan kemana Ia tiap inci
Terserahlah 
Bangsat!
Ternyata Ia dekat sekali
Datangnya lebih cepat melebihi degupan jantung
Memompa darah 
Sampai juga molekul tauhid menyatu-padu
Dengan embrio penyakit hatiku 
-cukup sampai disini- 
Sebab Kau pemurah, Aku tak kan mengharap balasan surat dariMu.
                                                                                                             -Jkt juli '08-

 
                           Kerinduan
                *Sepucuk Surat Pada Ibu

Ibu, di tempat dimana Aku berjarak dengan mu
Pabila seraut wajahmu membayang
Terasa tersiksa batinku
Belum mampu mempersembahkan suatu senyuman 
Ibu, tersebutlah Aku dimasa dahulu
Terkadang bualan sengaja Aku lontarkan
Tiada lebih, hanyalah untuk secerah kebahagiaan
-kesedihan yang berat 
Sebab Aku tahu dengan pasti
Kerutan keningmu dan onak kecewa
Akan meneteskan air mata yang harus ku bendung
Yang harus ku teguk asinnya
-bagai air laut 
Ibu, kan ku mulai pada paruh tangisan hidup ini
Membangun monument drajat
Sebagai hadiah kecil bagimu
Dari estetika-estetika yang sengaja ku pilih
Dengan sepenuh tekad kuat
Yang bukan hanya sesaat 
Ibu, setelah Allahku: si penyayang Illahi
Padamulah sebentuk kecintaan dan kasih sayang
'kan kucurahkan selayaknya untuk istriku nanti
                                                                                     -Jkt juli '08-



                           Surat Dari Jiwa

Setangkup angan dan sesesak perjalanan kehidupan
Telah ku kenyam.
Meski belumlah cukup
Lusa
Ia 'kan ku peluk sepenuh asmara,
Terlanyangkan dari peristiwa demi peristiwa
Tragis maupun bahagia
Mengisyaratkan searah jalur berat
Beribadahlah
Berkarya
Lantas bertindak bersama rakyat
                                                                              -Cianjur juli '08-

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…