Monday, June 6, 2011

Puisi-puisi Hudan Studiawan (1)

Rindu

rindu ini mulai menelusup perlahan
ke dalam hati yang kau pinjamkan

rindu ini tidak dapat didefinisikan
dirumuskan, atau dimodelkan

rindu ini bukan ruang atau waktu
dia cuma keinginan untuk bersatu

dan lalu,
maukah kau pinjamkan hatimu
selamanya padaku?

di suatu sela waktu mimpiku, 2011


Kamu?

engkau datang di waktu yang tidak tepat?
ataukah aku yang menyambutmu terlalu cepat?

aku hanya takut
kepalsuan datang dan
mereinkarnasi dirinya sendiri
secara berulang-ulang dan
lebih keji.
aku tersesat di hatimu, 2011

Roman(tis)

beberapa hari
setelah akad nikah kita
aku mengajakmu ke taman tengah kota

kugandeng tanganmu, mesra
kau menyambutnya, manja

lalu kudekatkan mukaku ke wajahmu,
kubilang, “maukah kau menjadi pacarku?”

engkau pun mengangguk segera,
tersenyum, tanpa kata

aku pun semakin erat menggandeng tanganmu
engkau membalasnya.

inikah cinta?
biar kami berdua saja yang menjawabnya.

cinta suci hanya ada dalam bingkaiNya, 2010

Foya

pesta pora
lampu-lampu disko menyala-nyala
musik dangdut koplo bergegap gempita

foya-foya
di tiap gelas anggurnya
berisi penuh variabel dan konstanta.

teler tesis, 2010

Kapan?

tumpukan undangan pernikahan
yang datang kepadaku
cuma membuatku tercenung dan
terpaku
kapan giliranku?

sebagai wayang, masih menunggu instruksi dari Sang Dalang, 2010

Temaram

langit temaram melarikan ombak berdeburan
melarikan diri
melarikan hati
sayatan tajam tepat di urat nadi.

selat Bali, 20 Juli 2010 dini hari

Berlari

perak pendar bulan yang belum sempurna
di tiap pikselnya adalah air mata.

tawakkal, 2010

Masih

perak pendar bulan
bulan mati dan
bulan bersetengah-setengah lingkaran

perak pendar bulan
bulan mati
bulan diselingkuhi

perak pendar bulan
bulan ini tak lebih dari
bulan pengkhianatan.

roda kehidupan, 2010

Keladi

tua-tua merpati
makin tua makin keladi

berpindah-pindah ke lain hati
siapa bilang merpati tak pernah ingkar janji?

Kampus, 2010

Hilang

aku hilang
ditelan masa

lalu
waktu
memakanku

kemudian
memuntahkanku
perlahan

begitu?

Dukuh Kupang, 2010

Pancaroba

katamu,
biar waktu berganti
musim tetap jadi dua

lalu,
aku menimpali
di mana pancaroba?

kita sedang berlarian ke sana
jawabmu sambil menutup mata.

Dukuh Kupang, 2010