Skip to main content

Puisi-puisi Hudan Studiawan (1)

Rindu

rindu ini mulai menelusup perlahan
ke dalam hati yang kau pinjamkan

rindu ini tidak dapat didefinisikan
dirumuskan, atau dimodelkan

rindu ini bukan ruang atau waktu
dia cuma keinginan untuk bersatu

dan lalu,
maukah kau pinjamkan hatimu
selamanya padaku?

di suatu sela waktu mimpiku, 2011


Kamu?

engkau datang di waktu yang tidak tepat?
ataukah aku yang menyambutmu terlalu cepat?

aku hanya takut
kepalsuan datang dan
mereinkarnasi dirinya sendiri
secara berulang-ulang dan
lebih keji.
aku tersesat di hatimu, 2011

Roman(tis)

beberapa hari
setelah akad nikah kita
aku mengajakmu ke taman tengah kota

kugandeng tanganmu, mesra
kau menyambutnya, manja

lalu kudekatkan mukaku ke wajahmu,
kubilang, “maukah kau menjadi pacarku?”

engkau pun mengangguk segera,
tersenyum, tanpa kata

aku pun semakin erat menggandeng tanganmu
engkau membalasnya.

inikah cinta?
biar kami berdua saja yang menjawabnya.

cinta suci hanya ada dalam bingkaiNya, 2010

Foya

pesta pora
lampu-lampu disko menyala-nyala
musik dangdut koplo bergegap gempita

foya-foya
di tiap gelas anggurnya
berisi penuh variabel dan konstanta.

teler tesis, 2010

Kapan?

tumpukan undangan pernikahan
yang datang kepadaku
cuma membuatku tercenung dan
terpaku
kapan giliranku?

sebagai wayang, masih menunggu instruksi dari Sang Dalang, 2010

Temaram

langit temaram melarikan ombak berdeburan
melarikan diri
melarikan hati
sayatan tajam tepat di urat nadi.

selat Bali, 20 Juli 2010 dini hari

Berlari

perak pendar bulan yang belum sempurna
di tiap pikselnya adalah air mata.

tawakkal, 2010

Masih

perak pendar bulan
bulan mati dan
bulan bersetengah-setengah lingkaran

perak pendar bulan
bulan mati
bulan diselingkuhi

perak pendar bulan
bulan ini tak lebih dari
bulan pengkhianatan.

roda kehidupan, 2010

Keladi

tua-tua merpati
makin tua makin keladi

berpindah-pindah ke lain hati
siapa bilang merpati tak pernah ingkar janji?

Kampus, 2010

Hilang

aku hilang
ditelan masa

lalu
waktu
memakanku

kemudian
memuntahkanku
perlahan

begitu?

Dukuh Kupang, 2010

Pancaroba

katamu,
biar waktu berganti
musim tetap jadi dua

lalu,
aku menimpali
di mana pancaroba?

kita sedang berlarian ke sana
jawabmu sambil menutup mata.

Dukuh Kupang, 2010

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…