Friday, June 10, 2011

Puisi-puisi Indra Wisudha (2)

Vodka

Cuma ada kau yang tertinggal di kota pengap ini,
setangkup harapan yang mati dan sublim dan kisahnya
dihilangkan sisa pembakaran mesin bus kota diteriki matahari
disepak-sepak di jalan kehidupan yang entah siapa menentukan,
melenyap senyap dikunyah bumi.

Besok kau akan jadi kenangan, lebih dari itu tidak. Kau berkata
usai menenggak vodka yang bening airmata.

Saatnya nanti kau pun hanya segumpal kenangan, karena memang
begitulah kau akan menjadi bagiku. Kusiapkan airmata sebening vodka.

Di sini adalah tempat pertemuan terakhir kita. Sebuah bar dingin
yang dipanasi musik hidup yang bikin telinga pekak, sebuah tempat
pestapora yang berlaku seonggok stasiun. Masing-masing dari kita
akan pergi.

Aku akan membunuhmu sekarang. Ya, sekarang juga. Tak perlu hari esok.

Aku akan membunuhmu perlahan, tidak sekarang. Meskipun aku
sudah mati.

Bening vodka bening airmata.

Surabaya-Jakarta, 1-2 Juni 2009


Bolehkah?

--buat J yang jatuh cinta--

“Bolehkah aku sambangi hatimu, mengetuk pintunya lalu masuk?”

“Aku ingin persilakan kau masuk ke dalam hati yang sederhana ini.
Selekuk hati dengan sebuah bilik, sebentuk jendela, dan sepalang pintu.
Tapi kau tak mungkin masuk saat ini. Ada seseorang yang memiliki kunci
lupa dimana menyimpannya. Sehingga jika kau datang, aku hanya bisa
melihatmu dari balik jendela. Pintu hatiku terkunci rapat-rapat. Maaf.”

“Bolehkah aku lompati jendela itu?”

“Ah, kau bukan maling kan?”

“Yah, kalau begitu biarkan aku sering-sering singgah di serambi hatimu.
Sekedar membacakan puisi cinta di pagi hari sambil menikmati
secangkir kopi yang dimanisi senyummu. Sampai kau benar-benar memintaku
pergi atau juru kunci itu kembali.”

Pada persinggahan lain aku membawa kemah. Akan kudirikan
di halaman hatimu. Saat malam datang akan kunyalakan api unggun
biar hatimu hangat, juga hatiku. Aku akan menyanyikan lagu-lagu Cinta
berpengharapan, Cinta yang tidak cengeng, Cinta yang penuh penghormatan.
Sampai pagi datang berulang-ulang. Sampai kau benar-benar mengerti:

bukankah Cinta mesti diperjuangkan?

Jakarta, 4 Juni 2006


Berlagak Neruda

Maafkan aku si pemaksa ini,
yang serta-merta memasok
cinta pada hati yang terluka.
Aku tak mau tahu bagaimana
kau itu. Adakah kau disakiti
tukang daging di Kramat Jati
atau sopir mikrolet di Paseban.

Aku sudah katakan suatu waktu
sebelum pedagang Kwitang jatuh
telentang setelah kutemukan
Neruda bersampul kusam.

Tahukah kau, berapa jarak
yang kutempuh untuk bisa
menciummu. Meski sesat telah
kutemukan dirimu. Kita harus
saling mencinta biar yang lainnya
balau.

Hari itu, aku berlagak Neruda.
Maafkan.

Jakarta, 16 Juni 2009


Hantu Tanpa Kepala

Sampaikan salamku pada hantu di rumahmu
yang selalu datang tiba-tiba nyalakan
televisi, hidupkan radio, ngetik
di komputermu. Sial!

Dia selalu mengagetkanku dan selalu saja
spontan kutanya kenapa kau melakukan itu?

Aku mencari kepalaku yang dipenggal
jagal di malam Natal. Ketika orang
nyanyikan Malam Kudus aku mati
di tanah tandus tak terurus.

Aku mencari di televisi, siapa tahu
suara-suara itu berasal dari kepalaku;

Aku dengarkan radio, berharap ada
kabar kepalaku ditemukan;

Aku ketikkan kalimat di komputer itu,
semoga terbaca kemauanku.

Sampaikan salamku pada hantu di rumahmu

yang akan selalu di situ
yang kepalanya dipenggal

Bapakmu.

Jakarta, 16 Juni 2009


Beginilah, Gao....

Gao Xingjian mengusikku ketika angin pagi memanja uap kopi.
Bau kertas tua makin apak, kutubuku melubang lapak.
Sastrawan Cina itu katakan, yang terbaik adalah mengalami
keberadaan dan menjaganya. Bagaimana bisa ia mengatakannya?
Memberikan bayangan kematian pada kehidupan. Sudah pernah
matikah, kau?

Bisa jadi kau benar, Gao. Kehidupan identik dengan keberadaan,
meski di sisi keping lain, kehidupan tak serupa keberadaan. Orang
modern yang aneh. Manusia itu aneh. Ada yang hidup hanya untuk
mati. Ada pula yang hidup untuk menemukan keberadaan lalu
menjaganya sampai mati.

Keberadaan buatmu adalah isyarat tubuh. Aku setuju, Gao. Begini
isyarat tubuhku, isyarat sederhana yang indah itu:

mengirim senyum padanya
mengusap rambutnya
memegang jemari tangannya
mencium bibirnya
memeluknya.

Itu keberadaanku, Gao. Mencoba mencari rasa nyaman. Lalu,
menjaganya sampai mati.

Aneh.

Jakarta, 20 Juni 2009


Untuk Selembar Kau

Berapa yang mati untuk selembar kau?
Tapis demi tapis diiris tipis-tipis.

Di hadapan kami kau tergolek setia
berguna apa saja. Pembersih sendok garpu
dan jelaga muka, penyeka lendir ingus,
penghapus airmata;

tak pernah meradang tuntut.

Juga jadi pelayan hina, dipakai lalu diremas,
dicabik robek, masuk
ke tong sampah.

Kau pun mati seperti mereka yang telah mati
buatmu.

Tapi, kau masih boleh berdoa kepada
Tuhan yang kaupercaya atau kepada penguasa
atasmu agar kau lahir kembali tanpa perlu
ada yang mati.

Jakarta, 21 Juni 2009


Mencarimu

Mungkin saja kau adalah Santiago atau paling tidak
jalan hidupmu seperti gembala Andalusia itu. Pada
sebuah waktu kau tinggalkan tempat asalmu menuju
sebuah pintu, lalu masuk. Kau menjadi pencari makna.
Kau maknai apa saja. Sebuah titik dalam kata atau
setitik noktah dalam lukisan. Di dalam kepalamu
menggumpal ribu atau juta pertanyaan.

Sederhana.

Alkemis bagimu adalah pertanda demi pertanda.
Yang kau ambil dari dinding kelas dan kapur tulis.
Yang kau pungut dari deru roda penuh debu.
Dari kesepian dan keramaian.
Dari perkawanan dan persahabatan.
Dari cinta.

Cinta?

Ya, sebentuk cinta yang membuatmu melayang
seperti zeppelin dituangi helium. Kemudian teronggok
lunglai jadi kenangan yang tak mau sublim. Ia tetap hidup
meskipun telah mati. Seperti hantu, seperti hantu.

Kau,

tetaplah gembala Andalusia jalan hidupmu. Dengarkan saja
suara hatimu, jangan berhenti bermimpi, meski mereka yang
tak mengerti akan menangis, tersedu pilu. Kecewa, lalu mati
bunuh diri.

Yang sejati adalah kau.

Jakarta, 25 Juni 2009