Wednesday, June 22, 2011

Puisi-puisi Indra Wisudha (3)

Pergi Kerja

Di Pondok Indah musim gugur:
dedaun jatuh satu-satu,
reranting patah buru-buru.

Jakarta, 24 Juni 2009


Oksigen

: kau

Dari setiap nafas yang kautarikhembuskan aku sempilkan harapan. Menjadi partikel oksigen yang mengendap di jantungmu, tinggal, dan tak mau pergi.

Temani kau sampai nanti.

Bandung, 14 Juni 2009


Memilih Engkau

Ketika hujan mendinginkan malam,
menyapu jelaga kota ke telaga, aku
memilih engkau. Sebentuk pribadi
yang serpih tak sempurna.

Maukah engkau berjalan di sampingku,
meniadakan lapar dahaga,
menyuburkan Cinta ke sejatinya?

Engkau jiwa yang cantik meski tubuh
dan hatimu merongsok karena cinta
berhuruf kecil dari lelaki yang terkucil.

Aku memilih untuk mencintai engkau.
Tiada hendak menguasai.

Bandung, 13 Juni 2009

Peluk

Rapatkan dadamu ke dadaku biar keluh
yang jenuh itu meluruh, angin boleh saja merenggutmu
dari hangat, tetapi, di sinilah hangat itu ada.

Kurapatkan dadaku ke dadamu biar hangat
yang nyengat itu tak minggat, dia boleh saja merenggutmu
dari tubuhku, tetapi, di sinilah hatimu tinggal.

Bogor, 11 Juni 2009

Tak Ada Murung yang Pantas

: I.P.Z.

Hari-harimu kau larung dalam murung
seperti sesaji yang enggan dihanyut laut
seperti jajan pasar yang dirusak berebut.

Tapi, kau bukan sesaji yang pasrah
kau perempuan dari planet entah
yang tak gampang menyerah
apalagi laku kalah.

Adakah adil dalam sistem keji ini?
Kerja keras tak selamanya menetas
kerja penjilat cari jalan pintas
- contradictio interminis.

Tak ada murung yang pantas bagi wajahmu
ketika anak-anakmu adalah harapan
ketika kawan-kawanmu bergenggaman.

Jakarta, Juni 2009