Thursday, June 2, 2011

Puisi-Puisi Nuraziz Widayanto

Pada Sebuah Ingatan

Pada sebuah ingatan

Ada suka cita yang aku miliki, dari rambut sampai ujung kaki

Pada waktu yang telah berjalan

Suka cita menjadi ampas yang mengering karena kesedihan

Pada tangis dan senyuman

Tak ada yang benar-benar dimiliki kecuali ingatan

*Bandung, 26 Mei 2011

Pojok Stasiun

pernah sebagian pojok stasiun ini milik kita
tidak lama, hanya beberapa menit saja
pojok itu, saat itu adalah milik kita
kita punya ingatannya, orang lain tidak, ku rasa

pojok itu ingatan kita tentang tawa
menghirupnya dalam hati dan melekatkan pada jiwa
tidak banyak memang tapi ingatan membentuknya menjadi rawa-rawa
kelak akan kita susuri sambil mendayung waktu dihangat khatulistiwa

tadi pagi pojok stasiun ini dimiliki orang lain
namun ingatan itu meniup-niup seperti angin
mengelus ingatan dan menindih batin
ah .. kamu sudah begitu jauh dengan ingatan yang dingin

*Bandung, 17 Desember 2010

Terminal Pagi

Kabut dan mata-mata yang terjaga
sudut-sudut gelap dan bau asap berjelaga
roda-roda dan teriakan penjaja barang seribu tiga
botol-botol plastik dan air kusam pemuas dahaga
pikiranku dan dekapan kata-kata rindu sang raja Pujangga
hatiku dan semua rasa tentang fajar jingga
kamu dan kesibukan hati penuh curiga
aku dan kelelahan jiwa raga

*Ponorogo, 13 Juni 2010

Penanda Semu

sepertinya menjadi rumit dalam hatimu
kala ruang demi ruang seperti terhalang bertemu
kala layang-layang tak terbang terhalang eternit langit-langit semu
juga kala kata-kata menjadi jerat saat diramu

tapi sepertinya menjadi sederhana dalam hatimu
kala kursi tua terpilih menemani ‘tuk menanti tanpa jemu
kala benang layang-layang terikat menjadi penanda musim yang semu
juga kala tak berkata-kata adalah hal mudah yang sulit diramu
*Bandung, 23 maret 2011,

Perasan-perasan Perasaan

Menjelang keberangkatanmu senja ini, masih terasa ada perasaan yang sudah terperas setahun ini. Wajah cantikmu masih menyisakan kedipan kepedihan sisa perasan kegembiraan setahun lalu. Kepergian ini tentang jendela-jendela tua yang tidak pernah terkunci dan menyisakan bunyi engsel karatan saksi berbagai perasan perasaan yang menjelma ke dalam rona-rona wajah dengan tatapan kosong dalam bingkai kayu-kayu kusam.

Setiap waktu terutama senja, wajahmu ada di tengah jendela. Kadang banyak kedipan-kedipan atau bahkan tidak berkedip sama sekali. Seribu rona wajahmu, jutaan kedipanmu satu arti, menanti. Terkadang penantian itu berbuah mangga di seberang jendela. Dan wajahmu terkadang mengernyit lucu merasakan manisnya.

Aku hanya rumput tua yang berumur 3 musim sejak hujan berkepanjangan menyegarkanku. Kesegaran yang membuat ujung daunku akhirnya menyentuh jendelamu. Dan wajahmu tak mengindahkanku. Tapi aku masih ingat ujung nafasmu yang menggoyang daunku. Dan dari hembusan nafasmu itu aku tahu, kau sedang menunggu.

Menjelang keberangkatanmu senja ini, akarku sudah terkulai tercabut, masih terasa ada perasaan yang sudah terperas setahun ini. Wajah cantikmu kini putih abu pucat mencari warna merah jingga rona yang hilang. Ujung daunku mulai pucat menjingga mencari hijau yang hilang. Kau menunggu, aku menunggu. Kau pergi, aku pergi. Kau hidup, aku mati.

*Bandung, 22 Februari 2011.