Tuesday, June 21, 2011

Puisi-puisi Ramdhani Nur

Cerita Malam ini


Sebab cahaya juga berkata,
serupa tangis yang tak tereja
menggugat hening hati mati bersaksi

:maka aku ada

sesungguhnya rindu telah bertutur
Saat sisa purnama jatuh
Menjelma belai pada tubuh-tubuh tertidur

:maka kau ada

Adalah hasrat mendamba berpeluk
Padamu padaku dia bersua
Pada gelinjang malam sesempurna rasa merasuk

:maka cinta ada

Cirebon, 17 juni 2011



Valentine

Aku merindukan wajah serupa Aisya
Saharja sejajar Fathima
Teguh sekadar Khadija

Untuk kujatuhkan ijab
Kutaruhkan janji
Tak sekedar pada ayah bunda yang membuatmu menjadi
Tapi pada Ilahi yang telah menciptakan cinta-cinta di hati

Yang bersama mengeja bilangan cinta-Nya
sepanjang bulan dan matahari menjaga
Menyalakan doa ikhlas dan percaya
pada peta kehidupan kita yang buta

Aku tahu pada wajahmu yang humaira
selalu lahir senyum untuk segala rasa
tak mengapa jika sehelai kain masih belum berganti
Tak mengapa jika sepotong ikan asin masih juga harus dibagi
Kau katakana:“Rejeki memang berbatas, tapi syukur tidak sama sekali!”
Ah, itu serupa sumbu yang kau sulut untuk semangat esok hari
Lalu malam mengundang jasad mencicipi surga cinta diatas tilam kasari

Rumah kita selalu menyala
Karena aksara Tuhan terus terbaca
Melewati lubang pada langit-langit dan biliknya
Andaipun hujan dan terik begitu menggelisahkan
Selalu saja kutemukan kenyamanan

Karena di hatiku kau pulang
ke dalam hatimulah aku kembali

Cirebon, 14 Februari 2011


Puisi Kemalaman

Jangan tambahkan tuhan pada racikan kegagalan kita ini,
Takdir pun tak perlu lagi dipaksa terisi
Biar kita sama rasai kemarin yang tak jadi

Toh luka kita sama menganga
Tak temu cara menukarkan celaka
Meski penyesalan berjuta-juta

Segera lupakan!
Kisah kita seperti pasak-pasak nisan,
tak kan pernah tumbuh dan berpucuk dahan
Meski air mata tersiram tiap kali senja lenyap perlahan

Tunggulah saja sampai waktu turun menimang
Serupa syair ibu pada darah dan jiwa tersayang
Menggiring semua kecewa menuju kedalaman tenang

:

Jangan tambahkan tuhan pada racikan kegagalan kita ini,
sampai hati terjaga dan sadari
biar kita tak perlu malu pada cinta-Nya yang nanti mungkin tercuri
****
Cirebon, 26 Januari 2011
c’est pour moi


DIMANAKAH KAU KUBURKAN KAMI?

(Ribuan belulang berserak hari ini
Menyeruak dari tonggak-tonggak nisan
Antara penjahan dan perang
dari Merauke hingga Sabang.)
Tengkorak busuk dengan lubang di dahi
Berserak di istana dan kantor-kantor pemerintah pelosok dan kota
Memrotes para penguasa:
“dimanakah kau kuburkan kami? Tak sedap kami mencium tanah kesengsaraan dan ketidakadilan ini.”

Tulang-tulang rusuk yang retak tak berbentuk
berjajar di gedung-gedung mewah dan rumah-rumah megah
Menggugat para penjarah:
“dimanakah kau kuburkan kami? Tak kuat kami mendengar jerit jelata di bumi nan raya ini.”

Tulang-tulang hasta yang keropos dan bengkok-bengkok
berarak di diskotik dan mall berada,
di bandar-bandar narkotik dan vila-vila
Menggugat para pemuda:
“dimanakah kau kuburkan kami? Tak tahan kami melihat harapan yang tersiakan oleh masa.”

Tulang tulang kering yang patah tak bersambung berlari menuju kemarin.
Menghiba pada sang Khalik:
“dimanakah mereka kuburkan kami? Tak rela kami mati untuk bangsa seperti ini.”
Cirebon, 17 08 10


Filistine

Kau cuma menumpahkan darah kami setates saja
Sedangan kami masih punya lautan darah untuk
kami alirkan diatas aqidah…

Kau cuma mengambil nyawa kami sebagian saja
Sedangkan kami masih punya jutaan nyawa untuk kami serahkan di tanah ini demi maha zat yang kami sembah…

Kau cuma mencuri tanah kami sekilan saja
Sedangkan kami masih punya hamparan tanah dari adn sampai na’im untuk kami pertahankan sampai kami punah…

Kau cuma bisa mengikis harap kami secuil saja
Sedangkan kami masih punya Rabbul’alamin sang Maha Perengkuh segala harap diantara tangan yang menengadah…

Karena kau tak kan pernah bisa mengambil apapun dari kami…
Hinga bumi terbelah

Bandung, 31 Mei 2010

Cerita Sunyi


Sunyi bercerita disini…
Bait kelana masa yang tak berpenghabisan
kala kau berciuman dengan pengharapan
hingga aku memapah senja seorang saja karenanya

Ingatkah kau saat nyanyian salam berlabuh di pangkuanmu
melati berangkai takdir bergantung ramai

ah,
tiadalah kau kan tak bahagia setelahnya
tiadalah kau perlu jua menangisi kisah-kisah lama
karena ceritamu bertutur disana mula

demi sunyi ini kuyakini kau
ialah doa ribuan malam yang kau erangkan itu
terbalaslah

siapalah kuasa memenggal garisnya
jika tlah tercipta

Bandung, 15 Mei 2010