Tuesday, June 7, 2011

Puisi-puisi Sigit Prabowo

Bagaimana jika dia tidak datang?

Ketika itu ia menjanjikan datang lagi untuk menyapaku
Menyapa dengan rintiknya yang lembut
Menyapa dengan wanginya yang khas
Menyapa dengan suara tetesannya menyentuh bumi
Dan sang gadis penunggu hujan masih berada di sana, di beranda rumah itu
Selalu menungu sang hujan menyapanya kembali
Untuk menceritakan kisah persahabatan dan percintaan
Ah, semakin kelam dan dingin
Tetapi dia masih belum datang
Sang bulan dan bintang bersinar cerah seolah pongah
Mengejek gadis penunggu hujan yang terus menanti
Lalu, bagaimana jika ia ingkar janji?
Tidak menyapa sang gadis lagi?
Ah, tidak mungkin ia ingkar janji....
Dia pasti akan kembali menyapa....
Dan pasti....

(by: Sigit Prabowo)

*
Menunggu senja

Kulangkahkan sepasang kaki telanjang ini
Melintasi tajamnya karang di sepanjang pantai itu
Melewati licinnya lumut-lumut hijau yang berserakan
Kuhempaskan tubuh rapuh inidi pasir coklat yang tidak lagi indah
Hanya sekedar melepas lelah
Hanya sekedar mengumpulkan tenaga
Kulayangkan pandangan ke cakrawala dunia yang mulai kemerahan
Kusapu pandanganku tanpa ingin terlewatkan sedikitpun warna indahmu
Kunikmati setiap inci pemandangan ini
Hanya untuk mengenangmu
Entah berapa senja aku menunggu di sini
Menantikan seseorang yang entah di mana
Entah mengapa pula aku masih di sini
Menunggu seseorang yang tidak pasti
Mungkin pula dia sudah beranak dengan juragan kapal itu
Atau mungkin pula dia tenggelam ditelan gulungan ombak itu
Atau mungkin dia sudah sukses di kota
Entah mengapa aku masih menunggu....
Entahlah, aku hanya menunggu...bertemankan senja....

(by : Sigit Prabowo)