Wednesday, June 15, 2011

Puisi-puisi Yudhi Dusone Yarcho (2)

"biarkan kabel itu tidur"

tengah malam, bulan masih bulat. udara terasa panas, melumerkan segala isi otak. kabel-kabel yang dipaksa terus bekerja, seperti sedang berencana untuk memberontak. tak mau menghubungkan keinginan dan tindakan. diam, beku. segalanya menjadi buntu. aku terdiam, tanpa segala yang seharusnya menjadi milikku. semuanya telah menghilang, di luar kendaliku. adakah aku berarti, tanpa dirimu?

***

kadang aku harus menunduk, atau terpaksa menunduk"


beban dan persoalan yang tak tertanggungkan menumpuk di punggungku,
membuat langkah kaki yang terayun menjadi semakin berat dan tak bisa melaju
pencarian-pencarian yang tak menemu jalan, adalah sedikit dari beberapa perkara yang belum terselesaikan
ketika teringat ibu, aku hanya bisa merasakan malu,
tak mampu membalas segala kasih yang telah ia beri padaku
dan [kadang] aku harus menghindar dari tatapan mata orang-orang yang seakan menelanjangi aku, sebab kekecewaan yang mereka punya telah memberat terlalu

***

celoteh si gila


jamur telah lama mengotori dinding, membuat gambar serupa lukisan kisah manusia. orangorang yang terlahir tanpa sengaja, terusir dari tempat yang seharusnya. masih saja pembicaraan di koran dan televisi, didominasi persoalan kasta dan etika. apakah kita datang dengan berkat di tangan? entah, terima saja nasib buruk yang segera akan datang.

tuhan, tuhan, tuhan, kenapa kau tinggalkan aku? selalu aku bertanya kepada orangorang suci, apakah ada tempat di surga buatku kelak, saat telah kukorbankan kemaluanku untuk melahirkan anakanak, yang setelah dewasa nanti mereka akan saling menikam mati. barata yuda. tak ada perdamaian abadi, sebagaimana pula tak ada teman yang abadi. hanya derita kekal selamanya.

jangan percaya padaku. aku hanya orang gila yang meneropong dunia. jika mencari aku, tanyakan pada hatimu, adakah diriku di situ. ah, mulai ngawur bicaraku. lantas kenapa kau masih saja menyimak ucapanku? pergilah, dan abaikan aku. o dunia yang malang. maaf aku telah meninggalkanmu sekarat sendirian.

perjalanan yang harus di tempuh, dalam berbagai ukuran, panjang atau singkat. bagaimana dengan akhirnya kelak? apakah mesti juga kita yang pikirkan? o hidup o jiwa o pencipta. tugasku hanya menjalani. apapun nanti yang akan terjadi, terjadilah. sudah.

***