Wednesday, June 1, 2011

Puisi Ragil Koentjorodjati (1)

Perempuan Penunggu Hujan


Suatu malam menjelang subuh, perempuan penunggu hujan, luluh lantak letih layu dipelukan gerimis pagi buta.. Ia tidak membasuh mukanya. Ia membiarkan rinai menelanjanginya. Hanya jika di pagi buta, ia menyerahkan ketelanjangan pada lelaki tanpa nama. Lelaki yang hidup di musim kemarau pada tahun-tahun yang hilang dari ingatannya.

Bertahun Liris lirik lagu lunglai terkulai. Nada-nada di nadinya tanpa dentang dan denting. Hanya jika hujan tiba, irama kembali menggema. Menggelora di tiap detik detak jantungnya. Menyalai kembali api di mata lentik nyaris mati mati-matian menjaga api di tengah hujan  untuk lelaki tanpa nama. Yang bertahun hidup di ingatannya.

Ia tidak mengenal kemarau. Karena kemarau adalah dirinya. Resap tandas di tiap hentakan nafas. Hancur lebur bersama bilur yang tak sempat dikubur. Seringkali ia bertanya,"Luka mana lebih luka tercipta dari lelaki yang hilang ditelan hujan kala engkau sedang bermesraan." Sejak itu, ia menjadi penunggu hujan. Pagi siang petang malam, ia menunggu hujan.

Malam itu belum larut. Ketika kabut turun dari pucuk dedaunan, gerimis semu menyentakkannya. Bergegas ia merias jiwa raga untuk lelaki tanpa nama. Tekad bulat melipat layar dan menghentikan perjalanan mentautkan diri dengan lelaki tanpa nama. Bersama selamanya dalam hujan.

Di gerimis semu sesaat itu, kubisikkan padanya,"Jangan pernah mencintai pengembara karena ia selalu akan meninggalkanmu dalam hujan.