Friday, June 24, 2011

Saat Itu: Gelagah, Angsa Putih dan Kita

oleh: G

kita duduk bersisian. mengamati angsa putih diantara eulalia japonica yang menarinari.
angin hilirmudik menyerupa irama yang sama seperti waktuwaktu yang lalu.
capungcapung bergerak lincah di atas permukaan air.

punggung tanganmu menyentuh punggung tanganku, kita berdiam sejenak
jarak tidak memisahkan. waktu tidak bergerak. angin mempermainkan daundaun gugur,
air menampung satusatu. danau melarutkan bayangan.
kita dalam duduk diam, hening, tenang.


adakah yang lebih indah dari tepi parasmu, separuh tertutup bayangan
separuh memagut cahaya. keheningan meresap dalam lalu kita lepaskan
sepasang demi sepasang. kepada kenangan yang sudah menyentuh akhir.

apakah ini yang namanya perpisahan? tanyamu dan aku mengangguk.
perpisahan hanya suatu istilah untuk pertemuan kembali. katamu lagi, aku mengiakan.
waktu larut berturutturut. angin datang lalu pergi. cahaya di atas danau menepi
makin perlahan. bulan menyongsong menunggu gilir. gelagah liris seperti irama prosa
yang ditembangkan senja kepada malam.

mari, katamu sambil beranjak.
ada pernikahan besok. aku mengangguk, cincin pertunangan di jemari kita beradu.
selamat tinggal kuucapkan tanpa suara. kita sedang menyongsong masa baru.

satu. katamu sambil tersenyum. aku memasukkan jemariku ke selasela jemarimu.
tepat. pas. terasa nyaman di sana. mari pulang, kataku. angsaangsa putih sudah lama
hilang ke balik gelagah.