Thursday, June 9, 2011

Tulisan Iis Komisah

Setelah Pemberitaan Itu

Setelah pemberitaan dimedia yg meliput tentang seorang ibu yg jatuh disebuah mall bersama anaknya, saya sebagai tetangganya tak berani sedikitpun untuk memberitahu orang2 bahwa saya telah menemukan selembar surat lecek diantara tanaman dibawah jendela kamarnya yang kebetulan tempat biasa saya jemur pakaian. Entah itu kebetulan atau dia ingin memberitahukan kegalauan hatinya, karena selama bertetangga dia jarang sekali bergaul dengan tetangga lain termasuk saya. Perlahan saya buka kertas yang rapuh itu…

Jika semua tak pernah ada dasar, mungkin akan terasa lebih sederhana. Tapi fikiran tak sependek bayangan, mungkin akan lebih jauh dan akan semakin jauh saat jawaban yang tak bisa redakan kejenuhan hati tak jua ditemukan.

Ingin berkata… tapi sepatah kalimat akan lebih tajam dari sebuah mata pedang sekalipun. Kau tak akan pernah sadar bahwa perasaan ini lebih tipis dari sehelai rambutpun. Tak ada salah yg terlihat, tapi kenapa hatiku tak turut berkata…

Sadarku harus kubawa kemana, ke matakah atau ke hati…

Dan…Puteri kecilku…

adakah kehadiranmu terasa rumit saat ini, keberadaanmu yang sempat kuingkari. Kini seolah Tuhan memberiku hukuman yang tak dapat kutolak. Kau menjadi bagian dari hidupku. Tawamu adalah kebahagiaaku dan matamu adalah jendela dari dunia yang kujalani sekarang. Tapi saat keceriaan itu pecah dalam tangisan, semua seakan gelap. Yang terlihat hanya engkau yang selalu ingin kudekap dalam pelukan terhangat, kemudian terlintas sepenggal kenangan….

Kau dengan ketulusanmu memintaku untuk menjadi seorang yang akan menemani hari - harimu. Saat itu adalah saat terindah yang tak terpetakan dengan sesuatu apapun. Semua kita jalani dengan tawa dalam keceriaan yang kita miliki bersama hingga tiba waktu saat buah hati cinta kita hadir….

Aku ingin selalu menyangkal, tapi kaupun tak pernah berhenti berkata bahwa semua telah berubah setelah kehadiran puteri kita.

Imamku… walaupun kenyataaan ini benar adanya tapi tak seharusnya kau mencari seseorang ditempat lain untuk mengisi hari-hari yang hilang dari kita. Sekecil apapun keinginan itu , bagiku adalah akhir…

Aku yang tahu, aku yang mengerti karena aku yang mengalami.

Aku ingin menghadapi semua dan akan terus hidup untuk puteri kita. Karena dia adalah bagian dari dirimu yang tak akan pernah mengkhianatiku… ditubuhnya mengalir darahmu yang mendekatkanku dengan dirimu yang terkasih dan ditubuhnya pula ada kehangatanmu yang selalu bisa menenangkanku sepertimu dulu…

Semua keputusan ada ditanganmu, keberadaanku akan kau bawa kemana…

Didadamu atau dipunggungmu? Tapi betapapun sakitnya dilepas dari tanganmu, itu akan lebih baik saat kau bawa aku kepunggungmu sementara tangan yang lain ikut menggenggam dia ditanganmu…

Tapi kenapa hal ini begitu menyiksa…

Puteri kecilku…. kehadiranmu adalah anugerah terindah bagiku, kau akan selalu kudekap dan tak akan kubiarkan seorangpun menyakitimu….


***

Perlahan saya lipat kembali surat itu dengan kegelisahan yang tiba2 menyerang setiap sudut hati, menyadari bahwa saya pun merasa seperti itu. Setetes airmata tak terasa jatuh ke kening malaikat kecil yang terlelap disamping ayahnya yang juga tengah merenda mimpi. Suamiku… maafkan saya jika saya terlalu bahagia atas kelahiran puteri kita sehingga saya seakan lupa bahwa puteri kita tak akan ada jika kamu tak ada…..

*Is Ko