Monday, July 11, 2011

Aku, Si Jenderal Imung - Dudi Irawan

Gambar diambil dari sini
Namaku Imung. Persainganku dengan Iwan tak hanya sebatas pada hal pelajaran saja, dalam permainan kasti, dalam hal apapun kami kerap bersaing bahkan untuk hal yang sepele sekalipun. Seperti memperebutkan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin dalam pasukan bila bermain perang-perangan.. maka terpecahlah kami menjadi dua kubu yang saling mengejek satu sama lain.

Aku didaulat menjadi pemimpin di antara kelompokku, maka akupun akhirnya di panggil Jenderal Imung sebagai bentuk penahbisan kedudukanku sebagai pimpinan. Begitu  pula Iwan didalam kelompoknya. Acapkali kami bermain perang-perangan ditanah lapang dengan menggunakan peluru yang terbuat dari tanah liat yang dikepal membentuk bulatan sebesar bola pimpong. Bola tanah liat kemudian saling dilempar ke arah lawan. Sakitnya tak begitu terasa, hanya saja akan terasa malu bagi siapa saja karena akan menjadi bahan ejekan besok disekolah.


Permainan perang-perangan ini telah sering kami lakukan tanpa tahu siapa pemenangnya. Masing-masing dari kami selalu ngotot merasa sebagai pemenangnya. Dan pada suatu hari kami sepakat untuk melakukan pertempuran terakhir.

Kami berdiri tegang dipinggir tanah lapang. Sesuai kesepakatan awal kemarin siang selepas pulang sekolah pertempuran kali ini harus ada pemenangnya. Kami berenam, dengan aku sebagai pemimpin pasukan kecil kami saat itu. Diseberang sana pada sudut tanah lapangan yang sama Iwan memimpin teman-temannya. Mereka berkacak pinggang menantang, menunggu aba-aba untuk memulai peperangan.

Pertempuran belum dimulai. Tapi aroma ketegangan telah menyengat pada wajah-wajah kami saat itu. Budi mendekatiku seraya berbisik dengan nada khawatir. “Kita cuma berenam, Jenderal, sementara mereka ada sepuluh orang. Tadi siang si Saman, Ba’in, dan Umar bergabung kedalam kelompok mereka. Apa kita bisa menang?”

Aku menatap wajah Budi yang menyiratkan ketakutan, lalu satu persatu kutatap juga wajah teman-temanku yang berdiri bersisian didekatku. Rohman menunduk, Seto diam acuh tak acuh, Bimo menggaruk-garuk kepalanya sembari mengelap ingus dengan kerah bajunya. Sementara Kemuning, satu-satunya anak perempuan dikelompokku justru terlihat lebih tegar. Gadis kecil itu telah mengikat kepalanya dengan secarik kain merah sehingga tampak seperti seorang pejuang sungguhan.

 “Kalian sudah siap?”

 “Siap, Jendral!” Jawab teman-temanku serentak.

“Budi siapkan amunisi kita. Kemuning bantu Budi!” kataku memberi komando. Budi lalu menarik lengan Kemuning, mereka membungkuk mengumpulkan tanah liat yang telah dikepal membentuk bola sebesar bola pimpong. Itulah peluru yang di lazimkan dalam peperangan kali ini.

“Rohman, Seto dan Bimo lekas mengambil posisi, kita tak boleh takut pada pasukan musuh, kita harus menang!” Teriakku semangat. Diseberang lapangan kulihat Iwan pun telah menyiagakan teman-temannya. Beberapa saat lagi peperangan akan dimulai.

Matahari mulai beringsut turun, pijar-pijar langit jingga menyeruak dibalik gerombolan awan di ufuk barat cakrawala. Teriakan melengking memecah senja ketika Iwan memberi aba-aba . peperangan telah dimulai!

“Serbuu..!”

“Serang!”

Bola-bola tanah liat melayang berseliweran. Kami saling lempar sembari berteriak-teriak. Tanah lapang dipenuhi riuh rendah pekik mengaduh.

“Aduh! Aku kena!” pekik Bimo meringis kesakitan. Sebutir bola tanah liat tepat mengenai keningnya. Aku mendekatinya. “Bimo, kau tak apa-apa?”

“Tidak apa-apa, Jenderal! Duh..” Bimo mengelus-ngelus jidatnya yang berlepotan tanah.

“Aduh!” pekik Budi. Sebutir bola tanah liat juga mengenai tubuhnya.

“Kita terdesak, Jenderal! Pasukan musuh lebih banyak!” Teriak Rohman dengan raut wajah cemas. Sesekali ia melemparkan bola tanah liat ke seberang lapangan dimana Iwan dan teman-temannya terus melempari mereka dengan hujanan bola tanah liat.

Seto merangkak-rangkak menghindari hujan peluru mendekatiku, “Apa kita sebaiknya menyerah saja, Jenderal?”

“Menyerah? Huh! Pantang bagi kita untuk menyerah. “Budi, ambil korek lekas! Senjata terakhir harus digunakan!” teriakku.

“Korek api? Untuk apa?”

Aku merogoh saku celanaku mengeluarkan mercon yang telah kusiapkan dari rumah. “Ini senjata pamungkas kita! Cepat ambil korek api”

Bdi mengangguk-angguk, ia telah diberitahu sebelumnya untuk membawa korek api meski ia tak tahu untuk digunakan apa. Tergopoh-gopoh bocah kurus itu memberikan kotak korek api kearahku. Aku bergegas menyalakan sebutir mercon lalu tanpa membuang waktu kulemparkan kearah tengah lapangan.

Duaarrr!

Iwan dan teman-temannya berteriak ketakutan, “Curang! Kalian curang!

Duuaarr! Duaarr! Suara letusan mercon membahana beberapa kali. Iwan dan teman-temannya kalang kabut sambil menutup telinga. Disaat itulah aku memerintahkan teman-temanku untuk kembali menghujani mereka dengan peluru tanah liat.

“Aduh! Aku kena!”

“Aduh!” Iwan pun tak luput terkena lemparan bola tanah liat dari pasukan kecil kami.

“Lempar terus! Seraang terus!” Perintahku bersemangat begitu melihat Iwan dan teman-temannya terdesak mundur. Beberapa dari mereka pontang-panting melarikan diri. Akhirnya satu persatu Iwan dan teman-temannya meninggalkan arena pertempuran, ketakutan.

“Horee kita menang! Kita menang!” pekik Kemuning kegirangan. Rohman, Seto dan Budi melonjak-lonjak senang. Bimo tersenyum sumringah sembari tetap dengan kebiasaannya, mengelap ingus dengan kerah bajunya.

Sore  itu pertempuran telah kami menangkan. Sepanjang perjalanan pulang kami bernyanyi-nyanyi riang. Tiba diujung kelokan jalan tiba-tiba segerombolan anak melompat dari balik rimbun tanaman. Kami kaget. Ternyata Iwan dan teman-temannya telah mengepung kami. Iwan melangkah kearahku dengan sorot mata yang menyiratkan kemarahan.

“Kalian curang, Mung!”

“Curang bagaimana?” kilahku sengit. Iwan mencengkeram kerah bajuku.

“Huh! Kita selesaikan disini Jenderal!” Iwan lalu melayangkan pukulan kearahku. Aku merunduk dengan sigap. Perkelahian tak terelakan. Tubuhku dan tubuh Iwan sama-sama besar, makanya kami menjadi pemimpin dalam masing-masing kelompok. Kami bergumul ditanah, bergulat saling cekik dan saling pukul. Beberapa anak dari kelompok Iwan menyoraki kami untuk memberi semangat pada pimpinannya.

“Pukul terus Wan, hajar! Hajar!”

Budi dan teman-temanku hanya diam menyaksikanku berkelahi. Mereka tak berani bertindak apa-apa. Kemuning terisak menahan tangis.

Seorang bapak-bapak yang kebetulan lewat bergegas melerai perkelahian kami. Dijewernya satu persatu telinga kami. “Kenapa berkelahi? Apa ini yang diajarkan orang tua kalian dirumah? Apa ini yang diajarkan guru kalian disekolah?”

Kami diam menunduk. Tak berani menjawab. Mang Udin yang barusan menjewer telinga kami menatapku lekat-lekat. “Imung, tak pernahkah engkau belajar dari bapakmu? Tidakkah kau bisa mencontohnya? Sesama anak bangsa jangan saling bermusuhan. Ingat kita harus bersatu! Musuh kita adalah Para Penjajah, bukan teman sendiri. Sekarang lekas kalian pulang. Hari sebentar lagi maghrib bila terlihat kompeni berbahaya!”

Kami baru menyadari hari mulai gelap. Senja telah diambang malam. Mang Udin lalu membubarkan kami menyuruh pulang. Aku berlari-lari kecil di ikuti budi menuju kampung kami yang tak jauh dari tanah lapang
arena peperangan kami barusan. Rumah kami memang saling berdekatan. Sayup-sayup dikejauhan terdengar azan maghrib memanggil dari surau ditengah kampung.

Selepas sholat maghrib bapak menyalakan radio transistor ditengah ruangan sempit rumah kami yang berdinding papan. Beliau mendengarkan siaran berita RRI sembari menghirup kopi panas. Bapak menoleh
kearahku. “Kudengar kau berkelahi.”

“Iwan yang memulai pak, dia memukulku terlebih dahulu.”

Bapak tersenyum. Aku berharap bapak memaklumiku kalau aku hanya membela diri bukan menyulut perkelahian.

“Besok pagi kalian harus saling bermaafan. Di masa sekarang ini persatuan di antara kita harus di eratkan, bukan malah saling bermusuhan. Bagaimana kita bisa menang melawan penjajah kalau dari kalangan kita sendiri terpecah-belah tak ada tali persaudaraan. Apalagi Iwan juga temanmu satu sekolah bukan?”

Aku menunduk malu. Aku menyadari kesalahanku, telah kutekadkan dalam hati perseteruan dengan Iwan dan teman-temannya harus di akhiri malam ini. Aku lalu pamit kepada Bapak dan Ibuku. Bergegas aku menemui Budi lalu ku ajak serta ia kerumah Iwan yang letaknya disebelah utara kampung. Dengan obor sebagai penerang jalan kami berjalan menyusuri jalan setapak yang banyak ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon besar. Aku merapatkan kain sarung yang menutupi badanku. Udara dingin menyergap. Sementara langit
gelap pekat. Budi satu-satunya temanku yang selalu mengikuti kemana aku pergi, ia tersaruk-saruk mengiringi langkah kakiku.

“Kenapa mesti malam-malam begini, Jenderal? Bukankah berbahaya?” Keluh anak laki-laki itu.

“Dasar penakut kau, Bud! Berbahaya apanya. Apa yang kau takutkan? Hantu? Ejekku. Budi diam saja.

Rumah si Iwan telah terlihat dikejauhan. Lampu teplok yang temaram mengintip di celah-celah dinding rumahnya. Bergegas kami mempercepat langkah. Tiba-tiba sesuatu merayap dekat kakiku. Aku berhenti sejenak untuk memeriksa, kuturunkan obor kearah kakiku.

“Ular! Ular Bud,.. ada Ular dikakiku!" Pekikku ketakutan. Aku menjerit kesakitan ketika binatang melata yang merayap didekat kakiku itu langsung mematuk punggung kakiku. Budi mengayunkan obornya mencoba mengusir ular dengan nyala api pada obor. Binatang itu mendesis. Lalu merayap pergi.

Aku merasakan sakit bukan kepalang. Tubuhku panas. Lalu pandanganku menjadi gelap. Budi berteriak panik. Sempat kudengar ia berteriak minta tolong sebelum aku jatuh pingsan.

Aku terbangun dengan kepala pusing. Disekelilingku ternyata telah ramai berkumpul duduk didekatku. Bapak dan Ibuku, lalu Budi, Kemuning, Iwan dan beberapa temanku yang lainnya. Mantri Mahmud, petugas kesehatan dari kota yang datang mengobati lukaku akibat dipatuk ular semalam tersenyum padaku.

“Nah sudah sadar juga kau, Nak. Untunglah patukan ular itu tidak terlalu berbahaya. Beberapa hari lagi pasti segera sembuh lukamu.”

Ibu mengusap-usap keningku, raut wajahnya masih menyisakan kecemasan. “Semalam Budi dan Iwan yang membawamu pulang, kalau tak ada mereka bagaimana jadinya.”

Aku menatap Budi dan Iwan dengan tersenyum. “Bud, Wan.. terima kasih kalian telah menyelamatkanku, kalau tak ada kalian.. aku bisa..”

“Iwan yang membopong tubuhmu, Jenderal, ia yang memberikan pertolongan pertama. Aku mana bisa apa-apa kalau tak ada Iwan.” Bantah Budi seraya menepuk bahu Iwan yang berdiri disampingnya..

Aku mengulurkan tanganku kearah temanku itu. Iwan menyambut  uluran tanganku.

“Maafkan aku Wan, kami curang dalam peperangan kemarin..” Ungkapku penuh penyesalan. Iwan tersenyum.

“Tak apa-apa, Mung, kamu tak salah kok.”

“Mulai sekarang kita hentikan persaingan di antara kita.”

Iwan mengangguk setuju. Kami lalu saling berjabat tangan. Bapak dan Ibu tersenyum. Imung, Kemuning dan teman-temanku yang hadir disitu juga turut tersenyum sambil bertepuk tangan. Aku merasa lega. Akhirnya kini tak ada lagi permusuhan di antara kami. Dan kami telah sama-sama berjanji dalam hati untuk menjaga persahabatan ini sampai mati.

Bertahun-tahun kemudian, setelah kami dewasa. Nasib akhirnya menggariskan kami untuk ikut berjuang melawan penjajah. Aku dan teman-teman kecilku dahulu lalu bergabung sebagai gerilyawan mengusir penjajah Belanda yang melancarkan agresi militer ke seantero negeri. Kali ini kami tak lagi menggunakan kepalan tanah liat sebagai peluru, melainkan dengan senapan dan peluru sungguhan. Tengah malam buta kami menyergap pos-pos penjagaan tentara Belanda, lalu melakukan perlawanan dengan sengit. Kami telah sama bertekad, negeri kami harus terbebas dari tangan para Penjajah. Indonesiaku harus merdeka meski kami harus mengorbankan darah dan nyawa kami sendiri sekalipun.

“Serbu! Hancurkan Belanda!” Teriak Iwan lantang disebelahku sembari menembakkan senapannya dengan penuh semangat juang. Aku tersenyum kagum padanya.

“Ini perang sungguhan kawan! inilah peperangan yang sebenarnya, Jenderal Imung!” Desis Iwan kepadaku sebelum ia menerjang maju kearah tentara Belanda yang menghujani kami dengan desingan peluru.