Tuesday, July 5, 2011

Dewi Layang-layang

Sumber ilustrasi
Kepala mungilnya mendongak. Matanya terpicing, menahan silau langit sore. Rambutnya yang diekor kuda menjuntai di belakang punggungnya, bergoyang-goyang ditiup angin bulan Juli. Tatapannya terpaku pada sebuah layang-layang yang terputus dari benangnya, meliuk-liuk bebas di angkasa, terbawa angin musim kemarau yang kencang. Mungkin layang-layang itu akan jatuh di lapangan desa, atau tersangkut di pohon kelapa, atau mendarat di atap rumah tetangga.

“Huuuhhh…” keluh Pita sangat kecewa. Dengan lunglai tangan mungilnya mengikal benang pada kelosnya. Kali ini layang-layangnya tetap saja dikalahkan oleh layang-layang milik Didik, sang juara desa. Wajahnya terlihat kesal saat anak SD kelas tiga itu melepas sarung tangan biru hadiah ayahnya.

“Untuk melindungi tanganmu, Sayang,” ucap sang ayah sewaktu Pita menolak memakainya.

“Malu!” gerutu Pita waktu itu.

Namun sore tadi Pita mengikuti nasihat ayahnya. Ia tidak mau telapak tangannya tergores benang. Minggu lalu Mas Dika, kakaknya, memberinya benang nilon gelasan buatannya sendiri. Anak SMA kelas satu itu diam-diam membuat benang gelasan untuk adiknya yang gemar bermain layang-layang. Ia ingin adiknya menang adu layang-layang dengan teman-teman lelakinya. Ia tumbuk hingga halus kepingan beling tiga warna, putih, kuning dan hijau. Secangkir penuh tepung sagu ia ambil dari dapur. Dua bahan itu direbusnya dengan panci tua yang tak dipakai lagi, diaduk-aduk agar tercampur menjadi bubur kental. Dengan sabar Dika menunggu sampai adukan itu dingin. Kemudian campuran kental itu hati-hati ia oleskan merata pada benang nilon yang ia beli di toko bahan bangunan di kota kabupaten. Benang yang seluruhnya telah terlapisi gelasan itu ia jemur di rumah temannya, agar tidak dilihat Pita.

“Wooowww…!!!” teriak Pita bersuka cita, saat Dika mengangsurkan kelos benang gelasan buatannya. Benang sepanjang 500 yard itu terikal ketat pada kelosnya, permukaannya mengkilat, tampak sangat kuat. Peluk hangat diberikan Pita untuk sang kakak, sebagai ganti hadiah yang sangat berharga itu. “Terima kasih, Mas Dika,” ucapnya, tertawa ceria.

“Semoga kamu bisa menang melawan si juara,” ucap Dika mengusap rambut panjang adiknya.

Namun benang Didik ternyata masih jauh lebih hebat. Tarikan tangan kakak kelasnya itu pun lebih kuat. Dengan wajah muram Pita melangkah pulang. Hatinya terluka, seperti layang-layangnya yang jatuh di lapangan desa, robek menjadi rebutan teman-temannya.

***

“Ayolah, Pita. Ulurkan tanganmu ke atas lagi,” bujuk perempuan cantik bertubuh seringan layang-layang itu. Mata ungunya selembut kasih ibu. Gaun panjangnya yang sewarna langit sore berkibar-kibar.

Pita berdiri tertegun. Mulutnya ternganga. Ia tak percaya tiba-tiba layang-layangnya berubah menjadi peri yang bisa berbicara.

“Jangan takut, Pita. Namaku Dewi Layang-layang,” ucap perempuan itu. Rambutnya yang bergelombang hingga ke pinggang diburai angin, mengembang bagai sayap garuda. “Pegang tanganku, Pita. Akan kubawa kau ke Planet Layang-layang,” ajak Sang Dewi. Senyumnya bagai kembang pagi sore yang mekar selepas ashar.

Pita tak kuasa menolak ajakan perempuan yang bergelantungan pada benang gelasannya itu. Tangannya ia ulurkan lebih panjang lagi hingga menyentuh tangan Sang Dewi. Dalam sekejap kaki-kaki Pita tak lagi menginjak bumi. Tubuhnya meluncur ke atas, menyusuri benang gelasan hadiah Mas Dika. Pita terbang menyerupai layang-layang.

“Indah sekali, bukan?” seru Dewi Layang-layang.

“Ya. Indah sekali,” gumam Pita, masih tak percaya ia bisa mengapung di angkasa.

Di bawah, ia melihat teman-temannya sedang bermain layang-layang, saling adu kekuatan benang dan ketrampilan tangan. Ia lihat pula seorang lelaki sedang berdiri sambil mengacung-acungkan kepalan, memarahi anak-anak yang berlarian mengejar layang-layang putus yang jatuh di ladangnya, menginjak-injak tanaman cabainya.

“Itu dia!” jerit Pita tiba-tiba. Dilihatnya layang-layang merah tua bergambar singa yang sangat ia kenal. “Aku akan menarik layang-layangnya agar putus!” Berkata begitu Pita mengembangkan dua lengannya. Seperti burung, lengan itu ia putar ke kiri, mendekati layang-layang milik Didik yang terbang paling tinggi.

“Pita… jangan lakukan itu...!” cegah Dewi Layang-layang. “Kamu akan terlepas dari benang yang mengikatmu…!”

“Aku tak peduli!” seru Pita tak menghiraukan Sang Dewi.

“Pita, dengarkan aku, Sayang. Jangan kau lakukan.”

“Ia selalu menang! Aku benci sekali!”

“Didik memang ahli dan benangnya kuat sekali,” jelas Dewi Layang-layang. “Akulah penguasa angkasa yang mengarahkan angin agar layang-layang kalian bisa terbang. Di musim layang-layang, aku juga menjadi juri, mengawasi pertandingan kekuatan benang dan ketrampilan tangan. Aku tahu siapa yang jujur dan siapa yang curang.”

“Aku tidak percaya. Didik pasti curang! Mana mungkin dia selalu menang!” sungut Pita.

“Pita, tangan Didik kuat sekali. Berlatihlah engkau lebih giat lagi. Latihlah tanganmu, agar tarikan benangmu lebih cepat, bisa memotong benang lawan lebih kuat! Hanya itu satu-satunya cara agar engkau jadi juara.”

Namun Pita tidak mau mendengarkan. Amarah yang ia pendam selama ini telah membuatnya kehilangan kesabaran. Lengannya yang telah terkembang ia hentakkan, meraih layang-layang Didik yang melenggak-lenggok sangat cantik.

“Pita… jangaaan!!!”

Benang yang mengikat tubuh Pita terputus, tidak kuat menahan beban. Tubuh Pita menukik ke bawah… cepat sekali… terhempas ke bumi.

***

“Pita… Pita…” tangan halus membelai kening Pita yang basah oleh keringat. “Bangun, Sayang… Mandi dulu. Sudah hampir gelap.”

Rupanya Pita ketiduran di sofa, terlalu lelah bermain layang-layang dan marah karena kalah.

“Ooohhh… Ibu… untung hanya mimpi…” Pita memeluk tubuh ibunya. “Aku mimpi dibawa terbang oleh Dewi Layang-layang… tapi aku terjatuh karena curang…”

“Ibu tahu layang-layangmu kalah lagi. Tidak apa-apa. Jangan kecewa. Yang penting kamu sudah berusaha. Besok pagi kita beli yang baru di pasar.” Sang Ibu mengelus wajah putri bungsunya dengan sayang.

***

Catatan: dipersembahkan untuk semua anak perempuan yang gemar bermain layang-layang.