Skip to main content

Eor Elang Belajar Terbang

Alkisah ketika Eor Elang baru menetas dari telurnya, dia merasa sangat bahagia. Induknya langsung terbang di atas pohon tempat sarang mereka berada dan berputar-putar memberitahu seluruh penduduk hutan kalau anaknya sudah menetas. Eor kecil menatap sang induk dengan kagum. Sayap induknya lebar terbentang dan membawanya berputar-putar di angkasa.

Untuk beberapa hari sang induk tidak pernah meninggalkan Eor sendiri di sarang, kecuali saat mencari makanan untuk mereka.
Induk Eor berpesan kepadanya agar jangan sekali-kali meninggalkan sarang, karena Eor masih terlalu kecil. Eor kecil menggangguk patuh kepada induknya. Beberapa hari kemudian, Eor kecil merasa bosan ditinggal oleh sang induk mencari makan. Dia pun melompat keluar dari sarangnya dan berjalan menyusuri ranting tempat sarang mereka tergantung. Mula-mula kakinya terasa gemetar karena sebelumnya Eor belum pernah mencoba untuk berjalan. Tidak lama kemudian, Eor merasa kakinya sudah kuat membawanya berjalan dari sarangnya ke ujung ranting. Dengan bahagia Eor kecil menghabiskan waktu menunggu induknya dengan berjalan hilir-mudik dari sarang ke ujung ranting dan sebaliknya.

Ketika induknya kembali ke sarang, Eor kecil dengan bersemangat menceritakan apa yang telah dilakukannya hari itu. Sang induk hanya tersenyum padanya sambil menyodorkan cacing kecil untuk makan siang mereka.
“Itu artinya kakimu sudah kuat untuk berjalan,” kata sang induk.
“Besok aku ingin terbang bersama ibu,” kata Eor dengan penuh semangat.
Induk Eor terdiam sesaat. Lalu ia menggelengkan kepalanya pertanda tidak menyetujui usul Eor kecil.
“Terbang itu lebih sulit daripada berjalan. Walaupun kita bangsa burung, kita masih harus berlatih dulu sebelum benar-benar bisa terbang, Eor,” kata induknya menjelaskan dengan sabar.
Eor kecil tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan induknya. Dalam hati ia bertekad untuk mencoba terbang keesokan hari saat sang induk pergi mencari makan.
Keesokan harinya, saat sang induk pergi mencari makan, Eor berjalan keluar dari sarangnya. Dia berdiri di ujung ranting lalu mencoba melebarkan sayap kecilnya. Dengan penuh keyakinan dia mulai melangkah sambil mengepakkan sayapnya, persis seperti yang selalu dilakukan induknya.
Oh, oh, Eor kecil langsung meluncur deras ke bawah. Sekuat apa pun ia mengepakkan sayapnya, dia tetap meluncur ke bawah. Seketika Eor kecil merasa panik dan ketakutan. Dia berteriak minta tolong.
“Toloong! Aku jatuuuh!”
Tiba-tiba dari kejauhan, induk Eor kecil terbang cepat melesat menuju ke arahnya dan menangkap tubuh kecil Eor dan membawanya melayang ke angkasa. Dengan cepat induk Eor membawanya kembali ke sarang mereka.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya induknya dengan nada marah. “Kau bisa terluka karena mencoba-coba terbang seperti itu!”
“Aku..aku pikir aku sudah bisa terbang…,” ujar Eor masih gemetar karena ketakutan.
“Baiklah, mulai besok kita akan mulai berlatih terbang,” kata sang ibu akhirnya.

Pagi hari keesokannya, induk Eor membawanya turun dari pohon. Mereka berdiri di tanah tidak melakukan apa-apa. Eor kecil heran.
“Ibu, katamu kita akan belajar terbang. Kenapa kita ada di sini dan tidak melakukan apa-apa?” tanyanya heran.
“Sabarlah…” jawab induknya.
Tak lama kemudian terlihat Kaka si Kura-kura berjalan pelan ke arah mereka. Induk Eor lalu memanggilnya.
“Halo Kaka, aku ingin minta tolong kepadamu,” kata induk Eor dengan sopan.
“Tentu saja boleh. Apa yang bisa kubantu?” tanya Kaka, kura-kura yang baik hati itu.
“Eor, anakku, baru belajar terbang hari ini,” kata induk Eor sambil mengedipkan matanya kepada Kaka si Kura-kura.
“Aaah, tentu saja!” kata Kaka Kura-kura sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Naiklah!” katanya pada Eor.
Eor menatap induknya dengan tidak mengerti. Induknya mengangkat Eor ke atas punggung Kaka Kura-kura. Eor makin bingung, tapi dia diam saja berdiri di atas tempurung Kaka Kura-kura.
“Nah, Eor…sekarang kau bisa mulai melatih sayapmu untuk terbang. Melompatlah dari tubuh Kaka Kura-kura! Lakukan berulangkali, sampai kau bisa mengangkat tubuhmu sedikit melayang ke udara. Jangan lupa, kepakkan sayapmu sekuat tenaga,” kata induknya memberi petunjuk.
Eor mencoba melompat sambil mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga. Pada mulanya ia langsung terjatuh ke atas tanah. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya dia mulai bisa terbang sedikit lebih tinggi dari tubuh Kaka Kura-kura.
“Baiklah, Kaka. Kurasa cukup pertolonganmu hari ini. Sekarang kami harus mencari Riri Rusa. Terima kasih atas bantuanmu,” kata induk Eor sambil mengajak Eor pergi mencari Riri Rusa. Eor pun mengikuti induknya setelah tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Kaka Kura-kura.

Riri Rusa tampak sedang merumput di tempatnya biasa mencari makan. Induk Eor memanggilnya.
“Halo, Riri. Kami ingin meminta bantuanmu sedikit. Bisakah kau menolong anakku, Eor, belajar terbang?” tanya induk Eor.
“Oh, tentu saja. Dia harus naik ke atas punggungku, kan? Seperti burung-burung lain yang sedang belajar terbang selama ini,” kata Riri Rusa sambil tersenyum ke arah Eor kecil.
Eor lalu naik ke atas punggung Riri Rusa dengan bantuan induknya.
“Nah, Eor, lakukan hal yang sama seperti kamu berlatih di atas tubuh Kaka Kura-kura tadi!” kata induknya kemudian.
Eor pun lalu mencoba melompat sambil mengepakkan sayap kecilnya dengan sekuat tenaga. Karena tubuh Riri Rusa lebih tinggi dari tubuh Kaka Kura-kura, Eor langsung meluncur ke bawah. Tapi dengan sekuat tenaga Eor berusaha untuk mengepakkan sayapnya. Begitu berulangkali sampai akhirnya Eor bisa terbang setinggi tubuh Riri Rusa. Bukan main senangnya Eor kecil karena dia mulai bisa terbang sedikit demi sedikit.
Setelah Eor puas berlatih di atas tubuh Riri Rusa, mereka pun berpamitan sambil tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan Riri Rusa. Sambil berjalan riang, sesekali mencoba terbang, Eor kecil berkata,” Aku tahu sekarang! Kita akan minta bantuan Jerry Jerapah, kan?”
Induk Eor tertawa mendengarnya. Dia menganggukkan kepalanya.
“Benar, Eor. Kita akan mencari Jerry Jerapah untuk minta bantuannya. Tahukah kau sekarang mengapa kau tidak bisa begitu saja mampu terbang?”
“Aku tahu, ibu. Aku harus berlatih terlebih dahulu sebelum bisa benar-benar terbang. Ternyata burung pun tidak bisa begitu saja terbang begitu ia menetas ya, bu!” kata Eor dengan penuh semangat.
“Benar sekali, anakku. Kalau kau ingin mahir terbang, kau harus rajin berlatih. Itu rahasianya.”
Eor kecil mengangguk-anggukkan kepalanya. Berdua dengan sang induk mereka pun mencari Jerry Jerapah.

Beberapa bulan kemudian, Eor Elang telah mahir terbang. Dia terbang ke seluruh penjuru hutan dengan riangnya. Dalam hati ia bersyukur karena rajin berlatih sehingga menjadikannya burung yang mampu terbang tinggi di angkasa saat ini.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…