Sunday, July 24, 2011

Raku, Sang Katak Petualang

Oleh: Ahmed T-sar Blenzinky, Annisa Fitri Rangkuti, Meddy Danial, dan Sari Novita.

Tahukah kalian, katak paling senang hidup dimana? Benar, binatang ini paling senang hidup di rawa-rawa. Maka dari itu ya, banyak dari binatang itu akan senang bila rawa tempat hidup mereka diguyur hujan. Para katak akan saling berbunyi bersahutan ketika hujan membanjiri rumahnya.

Namun tidak semuanya katak hidup di rawa, mereka juga ada yang hidup di laut. Di laut? Benar, mereka mengarungi laut dan mengelilingi dunia sepanjang hari. Mereka adalah para katak yang pemberani karena mau meninggalkan tempat ternyaman di rawa untuk bertualang ke seluruh penjuru dunia.


Kalian mungkin masih bertanya-tanya ya “Mana ada sih katak yang hidup di laut?” Ada kok, mau tahu cerita asal mula mengapa ada katak yang hidup di laut? Benar, itu semua ada cerita asal mulanya lho. Asal mula mengapa ada katak hidup di laut itu diawali dengan keberanian seekor katak bernama Raku. Begini ceritanya.

Sore itu, hujan deras baru saja mengguyuri sebuah rawa dekat pantai. Bergembiralah para katak karena tempat mereka penuh dengan air. Mereka saling berlomba memamerkan suara perutnya.

“Waak….waak…waak” festival bunyi pun saling bersahutan seakan bunyi itu bagai melodi penyambut munculnya ujung pelangi berwarna-warni di rawa tempat mereka tinggal. Semuanya senang, ada yang bersuara dari daun Encek Gondok, bunga Teratai dan ada pula yang bersuara dari sela-sela rerimbunan pohon Bakau.

Namun tunggu, ternyata ada satu katak yang tak ikut pesta suara. Ia menyembunyikan dirinya jauh dari teman-temannya, sendirian berada di batu karang. Ia sedang memperhatikan laut kala sore hari. Laut di mana mentari tenggelam jauh di ujungnya. Laut di mana warna-warni emas berkilauan dipermainkan ombak. Nampak benar ia terpesona dengan keindahan laut.

“Raku….Raku….mengapa kau sendirian di sini, tidakkah kau ikut serta bersama teman-temanmu berpesta suara? Aku perhatikan tiap sore hari akhir-akhir ini selalu berdiam diri disini” sapa Dodo, si burung Camar, tiba-tiba.

“Waak….dimana kamu?” Raku kaget, mencari sumber suara yang menyapanya. “ooh…kamu ternyata.” Raku mendapati temannya sedang terbang berputar-putar di atas tubuhnya. “Hei kebetulan, tolong ceritakan padaku, apakah laut ini tak berbatas? Apakah benar mentari disana tenggelam di laut? Apakah benar…” bukannya menjawab pertanyaan Dodo, Raku malah bertanya balik.

“Tunggu….tunggu. Kamu ini kenapa tanya yang aneh-aneh begitu” potong Dodo yang kini hinggap di samping Raku.

“Mmmh…maaf…, sebenarnya sejak lama aku ingin bertualang keliling dunia. Aku iri pada kamu dan teman-temanmu Do, pada ikan-ikan yang riang berenang mengarungi laut” Kata Raku

“Jadi kamu ingin bertualang melalui laut? Hahaha……Raku Raku…..keinginanmu tak akan tercapai” Dodo mengejek sembari mengepakkan kedua sayapnya dan pelan-pelan terbang.

“Hei…tungguu…aku belum selesai….” terlambat, Dodo sudah terbang menjauh. “Lihat saja nanti. Akan kubuktikan bakwa aku bisa bertualang mengarungi laut” sanggah Raku dalam hati.

***

Senja pun turun. Lingkaran jingga mentari perlahan tenggelam dalam laut yang kini berubah warna menjadi emas kecoklatan. Camar-camar lain teman Dodo pun mulai menjauh, hanya melintas satu-satu. Dari atas batu karang, Raku ingin sekali mencapai tempat matahari yang tenggelam itu.

Tapi bagaimana caranya? Uuhh…andai saja Dodo mau mendengar keinginanku, bisik hatinya. Paling tidak dia bisa membawaku terbang sekali-sekali melintasi laut. Aku kan tidak terlalu berat. Kalau mengatakan ini pada keluarga atau teman-temanku, pasti mereka juga menertawakan aku. Ahh…lebih baik aku berusaha sendiri. Bagaimanapun caranya.
“Waakk…tunggu aku, matahari…tak lama lagi aku akan sampai ke tempatmu,” Raku mengucap janjinya pada matahari yang tinggal segaris sinar merah jingga.

***

Laut biru, langit cerah, ombak nun ramah, dan angin mendesau-desau menyejukkan. Matahari sepertinya sedang ceria dan tersenyum pada alam pagi ini. Seperti hari-hari lalu, Raku duduk di atas batu karang - menjorok ke laut. Warna batu karang hitam menyamarkan keberadaannya dari penglihatan katak-katak lain. Ia ingin sendiri saja. Menghabiskan waktu sepanjang hari hanya untuk memandangi panorama laut yang setiap hari selalu memukau. Pesonanya seperti tiada habisnya.

“Hmmm…bagaimana caranya agar keinginanku menuju ujung lautan itu tercapai?,” batin Raku dalam hati. Matanya menatap ke depan, memusat pada ujung lautan yang saat cerah begini seolah tak berbatas. Langit dan laut sama-sama berwarna biru muda. Ia mulai berpikir keras untuk menyibak misteri yang ada di ujung sana.

Tiba-tiba kepak sayap Dodo mengagetkannya.
“Ah, kamu lagi, Dodo. Bikin kaget saja!,” ujar Raku sambil merengut.
“Hahahahaha…kenapa kamu sendirian lagi di sini, Raku? Bukannya teman-temanmu sedang asyik bermain di rawa sana?,”
Raku diam saja. Sejak diejek, ia malas berbicara lagi dengan Dodo. Apalagi tentang impiannya menembus lautan menuju matahari.
“Aha! Biar kutebak! Hmmm…pasti kamu sedang berpikir bagaimana caranya menuju ujung lautan sana, kan? Seperti yang kamu bilang sore kemarin,” Dodo berkata sambil tersenyum. Tapi senyum mengejek, batin Raku.
“Tidak ada urusannya denganmu,” ketus Raku sambil berbalik menjauh dari ujung karang, menghindari tatapan Dodo yang hinggap di dekatnya.
“Hei, kenapa kamu marah? Mungkin saja aku bisa membantumu,”
“Ah…tak perlu repot-repot. Biar aku memikirkan urusanku sendiri. Kamu terbang saja sana sesukamu,” Raku melompat makin jauh. Dodo terbang mendekatinya.
“Hei, Raku! Kamu tak usah keras kepala begitu! Begitu saja kamu marah. Ya sudah! Sekarang kamu buktikan saja kalau kamu bisa mencapai ujung lautan sana. Dengan caramu sendiri!,”
“Kamu menantangku, ya?,”
“Iya! Aku tunggu kamu di ujung lautan sana. Terserah bagaimana caramu. Semoga saja ada keajaiban yang bisa mengubah kaki-kakimu yang berlendir itu menjadi sepasang sayap. Hahahahahahah…,” tawa mengejek Dodo menggema di pendengaran Raku, nyaris mengalahkan suara debur ombak. Ia pun pergi menjauh dengan kepak sayap yang sengaja dihentak-hentak untuk membuat Raku iri.

Nyali Raku mulai ciut. Belum lagi ia tahu bagaimana caranya menembus lautan yang luas sepanjang mata memandang ini, ia sudah ditantang oleh Dodo. Harga dirinya mulai terusik. Tapi bukan Raku namanya jika tidak keras kemauan. Entah bagaimana caranya, aku harus bisa!

***

Langit malam yang cerah. Bulan bulat penuh dan gemintang beramai-ramai unjuk diri dengan kemilaunya. Laut bulan purnama. Pasti banyak anak-anak kepiting yang berduyun-duyun ke laut. Benar saja. Dari atas batu karang di tepi pantai, Raku melihat segerombolan anak kepiting belajar hidup di laut lepas tanpa induknya. Sebuah tantangan yang penuh risiko. Taruhannya adalah nyawa. Jika tak cukup kuat, anak-anak kepiting itu pasti akan mati diterjang ombak pasang. Semua anak kepiting tahu itu. Tapi anehnya, tak ada satu pun di antara mereka yang mundur sebelum berjuang. Padahal mereka belum tahu apa yang akan mereka hadapi nanti. Bukan perkara mudah jika sudah bicara tentang laut lepas. Hewan-hewan laut ganas dan mamalia raksasa bisa mengakhiri hidupmu kapan saja. Belum lagi jika bicara tentang alam bawah lautnya yang dalam, gelap dan asing. Ah, memikirkan itu Raku jadi bergidik ngeri.

Tapi meski begitu, semangat juang anak-anak kepiting itu begitu menginspirasinya. Hewan sekecil itu saja berani mengambil risiko, mengapa aku tidak?, pikirnya.

Seketika semangat Raku yang sempat ciut jadi berkobar. Ia pun melompat turun dari tempatnya menuju rombongan kepiting yang menuju ke laut. Ia akan mengikuti kepiting-kepiting itu. Hap! Hap! Hap! Ia melompat tinggi-tinggi. Pada lompatan yang ke sekian, tiba-tiba ia berhenti. Ah, bukankah aku berbeda dengan kepiting? Bukankah kepiting memang diciptakan untuk hidup di laut, sementara aku kan tidak? Pikirnya.

Seketika…Buk! Hah! Hampir saja! Sebuah kelapa jatuh dari pohonnya dan menggelinding melewati Raku.

***

Nafas Raku megap-megap, seperti sisa-sisa nafas sehabis melakukan perjalanan panjang. Sedangkan Langit mulai memudarkan kekuasaan malamnya dan mempersilahkan matahari untuk memancarkan sinar pagi. Kulit Raku mulai mengkilat, mentari telah membulatkan matanya ke penjuru jagat. Raku memincingkan kelopak matanya, terik matahari membangunkan raga Raku. Raku masih enggan untuk bangkit dari tidurnya, tapi Raku teringat mimpinya semalam.

Mimpi yang menyejukan bagi Raku - ia berenang bebas di lautan luas-bahkan ia mampu melampui kedalaman laut begitu dalamnya. Jarak kedalaman yang tidak terukur. Anehnya, Raku bermain riang gembira bersama makhluk-makhluk laut, dimana Raku belum mengenal mereka selama hidupnya.

Tubuh mereka besar dan bergigi tajam . Sebenarnya fisik mereka amat menyeramkan bagi Raku, namun mereka begitu ramah dan baik terhadap Raku. Raku bingung sendiri dan hatinya berkata,”Dasar sebuah mimpi! Ada-ada saja, aku mampu berenang hingga mencapai kedalaman laut.”

“Aha, mungkin mimpi itu sebagai petunjuk!,” Raku mulai bangun dari posisi tidurnya. “Ya, petunjuk. Mungkin saja makhluk-makhluk itu yang bisa menghantarkan aku untuk berkenalan dengan matahari. Tapi…tapi…dimana aku harus mencari mereka. Tentunya aku harus bisa berenang di lautan besar, tapi…tapi…bagaimana caranya?” jari jemari Raku bermain ketukan di pipinya. Raku gundah memikirkan caranya. “Ahh, lebih baik hari ini aku bermain di tepi pantai saja, siapa tahu para bocah kepiting-kepiting itu bisa memberikan informasi tentang makhluk aneh di dalam mimpinya,” begitu Raku berpikir.

***

Raku duduk di atas karang. Kadang-kadang ia melompat lepaskan kepegalan menunggu. Ya, hanya menanti. “JIka aku hanya berdiam diri saja, sampai kapan aku akan menemukan makhluk di mimpiku itu,” bisik Raku dalam hati.

Raku akhirnya punya akal membuat perahu dari kelapa yang jatuh dan retak secara simetris akibat benturan dengan tanah. Raku kemudian membuat kapal dari kelapa yang sudah retak, dia tinggal membukanya dan membagi dua tempurung kelapa itu. Setelah bekerja seharian tanpa bantuan siapapun, akhirnya perahu kecil terbuat dari tempurung kelapa selesai sudah. Dengan bekal seadanya Raku nekat mengarungi lautan luas, Sore itu juga.

Malam semakin kelam. Angin kencang, kilatan dan guntur di langit yang tampak dari kejauhan adalah pertanda hujan badai akan segera tiba. Dan Raku sendirian dalam perahu, dalam samudera luas. Setetes demi setetes air jatuh dari langit. Sebentar kemudian air dari atap langit seperti runtuh mengguntur-menimpa tubuh kecilnya. Hujan malam itu bertalu-talu. Raku mulai menggigil.

Hujan menampakkan kemarahan pada laut. Perahu kecil Raku masih terombang ambing oleh gelombang besar - susul -menyusul tak henti-henti. Untung perahunya kecil dan ringan, struktur simeteris kelapa berbentuk setengah lingkaran, memungkinkan perahu tidak gampang terguling. Kabut akibat hujan dan badai menghalangi pandangan Raku yang terus berusaha mengendalikan kapalnya dengan terpental-pental.

Tiba-tiba Raku melihat semacam pulau yang lumayan besar. Raku ingin singgah sebentar untuk beristirahat, karena badai masih mengamuk dan hujan belum menunjukkan tanda-tanda segera reda. Sudah hampir setengah hari dia terombang-ambing di tengah lautan, pada gelapnya malam, sendirian tanpa teman. Hujan masih berontak tak mau berhenti, petir masih menyambar-nyambar ganas. Dia memikirkan kawan-kawannya. Tentu mereka sudah tidur nyenyak dan berada dalam kehangatan keluarga bersama ayah dan ibu mereka.

“Ah, aku tidak boleh kalah. Aku adalah Raku, katak petualang. Aku harus menjadi katak nomor satu yang berhasil menyeberang lautan. Mengarungi samudera. Masa depanku ada di seberang sana.”
Raku terpaksa harus membuang jauh-jauh perasaan takut dan rindu kampung halamannya. Tanpa terasa Raku terlelap pulas, dia tertidur dalam gelapnya malam dan hujan yang masih mengguyur deras dan menghentak-hentak tubuh kecilnya. Tanpa disadari olehnya, pulau yang dia tiduri bergerak pelan dan meluncur semakin jauh ke tengah laut.

Raku bangun ketika menyadari hari sudah kembali pagi. Matahari bersinar cerah dan badai seolah bersembunyi tiada berbekas, kalah oleh pergeseran malam menjadi pagi. Raku sedikit bingung dengan keadaan dirinya. Tadi malam dia berada di tengah lautan dan sekarang dia berada di sebuah tepi benuaasing. Agak di kejauhan, Raku samar-samar melihat sebuah daratan yang berbeda dengan daratan di kampung halamannya.

Raku dikejutkan oleh gerakan perlahan-lahan. Dia baru sadar bahwa pulau yang dia tiduri adalah ikan yang sangat besar. Orang-orang di kampungnya menamainya ikan Paus. Ikan yang sangat besar. Dua ekor lumba-lumba meloncat-loncat gembira di samping kanan dan kiri Ikan Paus, berputar-putar mengelilingi Raku yang masih duduk di atas punggung ikan Paus. Seolah mengucapkan selamat datang pada Raku, sang katak asing, pendatang baru. Burung camar berputaran di atas ikan Paus sambil teriak-teriak riang, seolah katak pendatang adalah pertanda datangnya rejeki.

Menjelang agak siang, ketika matahari mulai memanjat naik, Raku dikerubuti oleh banyak sekali binatang yang ingin mendengar kisahnya. Burung-burung pada berkicau, monyet-monyet bertepuk tangan dan meloncat-loncat sambil menjerit-jerit senang, sekawanan katak ikut berbaris rapi, membentuk lingkaran melihat katak asing yang terdampar di kampung mereka. Rombongan kepiting juga tidak mau melewatkan peristiwa langka ini, seekor katak yang berhasil menyeberang lautan samudera yang ganas
dengan selamat.

“Bagaimana kamu bisa kemari, Raku? Dengan cara apa kamu bisa sampai datang kemari?” tanya kawan-kawan barunya. Mereka antusias menyambut tamu baru mereka. Seekor katak yang heroik. Pahlawan sejati, pikir mereka.

Akhirnya Raku menceritakan kisahnya, “ Halo teman-teman. Namaku Raku. Aku adalah katak yang ingin melihat dunia. Aku ingin membuktikan bahwa bumi ini bisa diarungi dengan sebuah impian. Mimpi itu kini sudah terwujud. Dan Aku berhasil!”

Wajah-wajah kagum terlihat memancar dari teman-teman baru Raku. Mereka bergumam pelan ketika Raku mulai berbicara lagi.

“Aku harus membuat kapal dari tempurung kelapa. Dan karena badai mengamuk aku berhenti pada sebuah pulau yang ternyata adalah ikan paus sangat besar. Ikan paus itulah yang telah membawaku ke pantai indah ini. Lumba-lumba menjadi penunjuk jalan Ikan Paus yang membawaku kemari, dan membuat aku bertemu dengan kawan-kawan baruku di sini. Benua baruku.”

Beberapa ekor katak bangkit dari duduknya, memeluk dan menyalami Raku dengan perasaan terharu dan bahagia. Mereka bertekad akan ikut Raku untuk berpetualang bersama-sama. Menjelajahi samudera satu ke samudera lainnya. Tapi kali ini mereka tidak mungkin menggunakan tempurung kelapa lagi. Mereka akan mengajak Ikan Paus dan lumba-lumba untuk berpetualang. Melihat dunia baru. Melihat pagi yang selalu baru. Dan menemukan teman-teman baru.

“Raku! Rakuuu!” Tiba-tiba Raku dikejutkan suara yang sudah dikenalnya. Ya. Itu suara Dodo. Raku mendongak ke langit, mencari-cari Dodo, si burung camar, teman sekampungnya.
Dodo terbang melesat ke arahnya dan bermanuver rendah sebelum hinggap di samping Raku.
“Raku, kamu berhasil! Kamu berhasil! Nanti aku akan kasih kabar pada teman-teman kita di kampung kalau kamu berhasil mengarungi samudera. Aku kemarin sore diam-diam mengintai dirimu. Aku khawatir pada keselamatanmu, makanya aku mengikutimu. Ternyata hatimu sekuat baja. Dan impianmu sudah menjadi kenyataan.” kata Dodo riang dan bangga.

Raku terharu mendengar sahabatnya, Dodo, ternyata begitu memperhatikannya dan mengikutinya hingga ke benua asing ini. Dia salah sangka, mengira Dodo hanya akan mengejek dan mengolok-olok. Ternyata Dodo adalah sahabat sejati.

***

Satu hal lagi belum teraih oleh Raku. Ya, menyentuh matahari. Suatu mimpi memijaki tangga-tangga langit. Dan Raku dapat meloncat-loncat di atas dada matahari. Sampai ke ujung laut, Raku telah mampu menggapainya, ia tidak menyangka sebelumnya dan kini, Raku kuat sekali ingin berada di atas puncak matahari. Mungkinkah itu terjadi? Kenapa tidak? Buktinya, Raku bisa meraungi laut hingga ke ujungnya. Semua rencana-rencananya ketika itu, mendapat dukungan dari alam semesta. Hal terpenting; Niat kuat dan menjalankannya. Karena Raku sudah memiliki kuncinya, maka Raku ingin mengulang keberhasilan kembali. Dan kian mengkokohkan dirinya menjadi ‘Katak Sang Petualang’, Raku memikirkan julukan ini sambil tersenyum-tersenyum sendiri.

“Jika kau punya mimpi, teriakanlah mengema ke angkasa, lalu dunia akan membuka lebar telapak tangannya mewujudkan mimpi itu,” kalimat ini menjadi pedoman terbaru bagi Raku. Menjadi api-api semangat, dimana kobaran api itu selalu hadir menyala-nyala. Mengingat kejadian sebelumnya, mana pernah Raku menyangka akan tertidur di perut Paus dan menghantarkannya ke ujung laut-membelah samudera-menyibak luas dan gelapnya penguasa laut. Ya, berarti segala makhluk alam turut serta membantunya. Dan semua terjadi begitu saja, bagaikan waktu diam-diam sengaja mengulirkan detik demi detiknya buat kita.

Matahari, energi-energi tersumbar menimpahi seisi jagat raya, termasuk raga dan jiwa Raku. Ibarat baterai, segala isi bumi tanpa kemunculan sinar matahari, maka kita semua akan redup. Dan segera berdiri kembali, setelah mentari memuntahkan energy sinarnya kesemua makhluk hidup dan ke seluruh penjuru. Sesuatu hal inilah dianggap Matahari-Sang penentu-buat Raku, ia bisa membaca pergantian pagi ke siang, lalu ke malam, dan rotasi tersebut berputar memberi petunjuk. Tentunya, menjadi energy luar biasa.

Raku berdiri di atas karang hitam dan tinggi di tepi pantai. Kepalanya menengadah ke atas langit. Terik mentari membuat kulitnya semakin mengkilat. Raku sengaja bermandi keringat di bawah sinarnya, agar Raku bisa benar-benar merasakan kedekatan bersama matahari, pikirnya. “Matahari, tunggu aku di ufukmu dan sambutlah aku di gerbang pintu istanamu,” pelan tapi suara Raku penuh keyakinan tinggi.

Tiba-tiba…

Mata Raku terbelalak menyaksikan dua ekor lumba-lumba melompat-lompat ikuti ombak laut. Terkadang mereka terbang rendah di atas ombak, kemudian mereka berenang kembali dan melompat kembali. Ya, mereka terbang mengembangkan sayapnya. Mereka bersayap! Raku jadi terngiang-ngiang mimpinya waktu malam itu, ia bermimpi bertemu makhluk-makhluk laut yang belum pernah Raku kenal sebelumnya. Pertama Paus dan kedua lumba-lumba bersayap warna-warni. Raku melompat terkejut karena kilauan warna pelangi dari sayap itu kian mendekatinya. Tidak butuh waktu lama, Raku sudah mampu melihat jelas garis-garis gradasi warna di tubuh dan sayap kedua lumba-lumba itu. Sungguh mempesonakan pandangan seekor katak seperti Raku.

Kedua lumba-lumba itu hanya mengucapkan,” Hai Katak Pemimpi,” lalu mereka langsung terbang dan melompat kembali jauh meninggalkan Raku.

“Mengapa mereka bisa berkata begitu? Aku dibilang ‘Katak Pemipi’ dan darimana mereka tahu ini?” Raku bertanya-tanya dalam hatinya. Raku jadi penasaran. Raku pun langsung berteriak memanggil mereka,”Haiii, Lumba-lumba..tunggu dulu…jangan pergi dulu..”, dan Raku berteriak lebih keras lagi penuh sekuat tenaga.
Lumba-lumba berhenti mendengar panggilan dari Raku. Mereka menoleh ke arah Raku dan berenang kembali.

“Hei, tunggu dulu!!..Tolong aku…” teriak suara Raku berada di dinding telinga kedua lumba-lumba itu. Kedua lumba-lumba saling bertatapan dan keduanya seakan-akan saling berbicara dengan bahasa mereka. Akhirnya, mereka menghampiri Raku kembali.
“Ada apa, Katak? Mengapa kau berteriak minta tolong?” tanya lembut salah satu dari lumba-lumba itu.
“Maaf aku menganggu kalian, tapi bisakah kalian membawa diriku ke pangkuan Matahari?” tanya Raku tanpa keraguan.
Mendengar pertanyaan Raku, kedua lumba-lumba itu saling mengedipkan mata tanpa terlihat Raku.
“Ow, Kamu berani terbang bersama kami dengan sayap kami yang rendah?” tanya kedua lumbalumba itu.

Raku bengong mendapat pertanyaan seperti itu, karena jujur ia sendiri tidak tahu jika luba-lumba itu hanya bisa terbang rendah.
“Jika kamu benar-benar ingin terbang bersama kami, kamu harus memanggil Para Angin, agar mereka dapat membantu kami terbang tinggi menuju Matahari,” ucap kedua lumba-lumba itu serentak.
“Angin?” Raku berbalik tanya, sekaligus berpikir bagaimana lagi ia harus memanggil Angin.
“Kau bilang sendiri, “Bila kau punya mimpi, Alam semesta akan membantumu,” dan kami yakin kau pasti tahu caranya, bekerja samalah dengan mereka” ujar kedua lumba-lumba itu setelah mellihat ekspresi bingung di wajah Raku.

***

Angin. Angin. Angin. Raku menyebut nama Angin tiga kali ke udara. Argggh, sesak sekali dadanya kali ini. angin. Alam semesta. Oh tidakk, Mimpi Raku yang satu ini tidak semudah mimpi Raku sebelumnya. “Tapi memang begitu, bukan? segala isi dunia akan membantunya, jikalau mempunyai mimpi yang kuat.” “Ahh, pasti ada jalannya,” pikir Raku.

Raku melompat-lompat tinggi menuju puncak gunung dekat kampong halamannya. Sampainya di sana, ia menutup kedua matanya, sengaja menghembuskan nafas panjang menikmati hembusan para angin di sekitarnya. Raku bagai sedang bertapa kepada alam semesta. Duduk terdiam dan tarik nafas berkali-kali.
Dan Angin pun datang rambat-merambat menjadi kumpulan haluan, mereka mengurubungi raga puncak gunung, lalu berseru,”Kami datang memenuhi permintaanmu dan kami akan menaikan kamu bersama kedua lumba-lumba itu. Tetapi kami hanya mampu sampai di gerbang pintu Matahari. Setelah itu, terserah kamu, Raku.”

Raku tidak langsung loncat kegirangan, namun hanya tersenyum senang dalam persemendiannya. Di hati kecilnya Raku bersorak keras, “Horeeee, satu mimpi lagi yang segera tergapai.”

***

Raku berada di atas punggung salah satu lumba-lumba. Sayap-sayap mereka terbuka lepas dan bebas. Terbang dari atas permukaan laut, lalu melampui pohon-pohon pinus tinggi, hingga melaju di atas puncak gunung tertinggi. Kini, tangan Raku kuasa menyentuh para Awan. “Hemm, Empukk..” begitu menurut Raku ketika memegang kapas-kapas Awan.

Ya, Raku telah berada di langit. Berkat bantuan Para Angin yang sedari tadi meniupkan olahan-olahan oksigennya mengarah ke kedua lumba-lumba. Mereka pun terangkat tinggi-meninggi. Angin dan Lumba-lumba bekerja sama memenuhi keinginan Raku.

Beberapa kilometer dari posisi Raku dan kedua Lumba-lumba, tampak istana Matahari berdiri sejajar dengan Raku. Hawa panas pun begitu terasa dan kerongkongan Raku terasa kering. Perasaan gembira menghinggapi Raku, ingin saja dirinya langsung membelai pintu gerbang itu. sejuta rasa milik Raku mau berteriak-teriak saking gembirany Raku mampu melihat Matahari secara langsung dan dengan jarak dekat.
“Lumba-lumba, Ayo dekatkan kita pada gerbang itu,” pinta Raku.
“Ini aku sedang mengusahakanya, tapi entah kenapa berat tubuhku terasa berat,” sahut salah satu lumba-lumba.

“Kami juga kesulitan mengeser tubuh kami mendekat ke matahari,” sela Para Angin.
Tidak lama kemudian, pintu gerbang Matahari terbuka. Dan seekor burung merpati terbang melayang.
Burung merpati menjatuhkan sepucuk surat di atas punggung Lumba-lumba.

“Teruntuk Raku”

Mempunyai mimpi setinggi-tinggi mungkin, itu memang boleh-boleh saja. Tapi lihatlah ke sekitarmu dan pandanglah ke bawah. “Apakah mereka di dunia ini sudah semuanya memiliki mimpi?” Belum, Raku. Mimpi-mimpi ini harus rata dibagi untuk kesemuanya. Mereka berhak mempunyai mimpi, walau dihati mereka belum terbesit satu titik mimpi pun. Hal ini karena hidup yang keras, Raku. Keras, karena mereka menilainya seperti itu. Suatu saat mimpimimpi itu akan hadir di mereka. Dan kau, tidak boleh rakus terhadap mimpi-mimpi.
Aku, Matahari mengakui keberanian dan perjuangan besarmu meraih cita-cita. Jugalah harus kau tenggok, aku berada jauh sekali di luar batas kemampuanmu. Bahkan bumi pun tak sanggup menyentuhku, tetapi aku bisa menyentuh bumi. Ada hal-hal yang bisa kau raih, dan ada jua hal-hal yang tidak bisa kau raih. Raihlah mimpi setinggi-tinggi mungkin, tapi jangan mimpi-mimpi itu membuat kau terjatuh ke jurang luka.

Dan ingatlah selalu Raku, Jangan Rakus!

Sesudah diriku,Matahari, siapa lagi yang akan kau pijaki, Raku?

Bersyukurlah karena kau menemukan banyak teman-teman baik yang senang membantumu dan kau mendapatkan petualangan luar biasa, dimana makhluk lain pun belum tentu bisa melakukannya. Mungkin, sudah waktunya sekarang kau meihat sekelilingmu setelah mimpimu itu kau genggam. Bantulah sekitarmu, dan tolong mereka mencari mimpi…Tenang, aku akan terus menyinari mimpi-mimpi yang berhak dimiliki dan berhak di genggam oleh semua makhluk.

Salam,
Matahari

Raku termangu membaca surat dari Matahari itu. kalimat-kalimat surat Matahari menusuk sekali ke jiwanya. Benar, Matahari benar, aku tidak boleh rakus dan aku harus membantu sekitarku. Membantu mereka mencari mimpi-mimpi.

Kedua lumba-lumba di udara saling mengedipkan mata kembali. Dan Raku melihatnya. Namu Raku tidak memperdulikan.

“Kita tidak bisa melawan makhluk yang penuh semangat menggapai mimpi. Mereka bakal tidak mendengarkan kita. Bermimpi, duduk di atas dada Matahari, itu hal mustahil! Ada mimpi bernama ‘Mustahil’ dan ada mimpi bernama ‘Tidak Mustahil’, bila dia sudah merasakan ketidakmungkinan itu, maka hiburlah dia dan beri kalimat bijak untuk menenangkan hatinya,” ucap serentak kedua lumba-lumba bersayap itu, terdengar oleh Raku.

Ya, Raku mengerti sekali. Semakin mengerti. “Semakin ingin untuk membaca sekitarnya.”