Skip to main content

Lembah Hijau

Gambar diambil dari sini
Semuanya berawal dari mimpi. Sebuah mimpi seiring meningginya matahari membuat gambaran dalam benakku itu terlihat makin samar walau sebelumnya terasa amat nyata dan membuatku ingin terus menjadi bagian darinya.

Sebuah mimpi yang menyisakan dua kata yang tetap kuingat ketika terbangun. Dua kata itu terngiang-ngiang dan tidak bisa kuenyahkan dari pikiranku.

Lembah Hijau.

Itulah dua kata yang melekat dalam memoriku ketika aku membuka mata di pagi hari. Di mana letak Lembah Hijau? Aku tidak tahu. Siapa yang tinggal di Lembah Hijau? Aku juga tidak tahu. Dan bila kamu bertanya, jalan mana yang harus ditempuh untuk mencapainya? Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala.

Kemana aku harus mencari informasi tentang Lembah Hijau yang bahkan aku tidak yakin ada di duniaku ini? Ternyata takdir mempunyai jalan tersendiri yang masih tidak kumengerti cara kerjanya. Terasa aneh menurut logika. Itulah yang kualami! Aku menemukan kunci menuju Lembah Hijau.

Mau tahu ceritanya? Baiklah, akan aku ceritakan kepada kalian. Semuanya bermula dari toko buku tempatku menenggelamkan diri dalam timbunan kertas bermotif panda dengan dasar hijau berbintik-bintik putih yang disandingkan dengan kertas lainnya bergambar bebek kuning mentereng berhiaskan hati merah jambu. 

Ketika tanganku asyik memilah kertas mana yang akan aku boyong pulang, sudut mataku menangkap sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk datang mendekat padanya. Aku tak kuasa menahan diri dan tanganku terulur meraih buku catatan bersampul putih, yang lebih mirip diari, bergambar kucing bersepatu boot selutut dan jubah merahnya hampir menyentuh mata kaki sementara di kepalanya bertengger topi kertas penuh coretan yang dilipat berbentuk perahu, tak lupa disemati dengan bulu yang aku yakin sekali dicabutnya dari ekor ayam yang malang.

Jemariku membuka sampul itu dan hatiku berdesir ketika menemukan sebuah wajah yang tidak terasa asing bagiku. Ada rasa rindu yang hangat ketika menatapnya tanpa kedip. Bahkan untuk menarik napas pelan pun aku takut, takut membuatnya menghilang dari hadapanku. Mataku melahap rentetan huruf-huruf yang ada dan menarik benang merah satu per satu hingga mendapatkan gambaran yang muncul begitu saja yang pada satu titik akhirnya membuatku mengerti satu hal penting yang harus aku sadari sedini mungkin mengenai Lembah Hijau.

Aku membalik beberapa lembar lagi dari buku itu dan tersenyum seraya menutupnya. Tanpa pikir panjang aku meraih buku itu dan membawanya ke kasir lalu melangkah pulang sambil bersiul senang.

Lembah Hijau.

Baiklah, aku akui aku tidak menjadi lebih tahu mengenai keberadaanmu. Kamu tetap tempat yang misterius bagiku. Namun aku telah bertekad, jika aku tidak bisa masuk ke dalam duniamu maka aku yang akan membuatmu hadir di duniaku! Itu yang akan aku lakukan dengan beragam kombinasi huruf yang bisa aku rangkai untuk menghidupkan duniamu yang bermain dalam alam imajinasiku menjadi sebuah dunia yang tertera hitam di atas putih dalam lembar demi lembar kertas yang ketika kubaca ulang akan membawaku melayang memasuki dunia tempatmu berada, sebuah tempat yang menebarkan aroma padang rumput. Aku bisa merasakan semilir angin membelai pipiku dan desir lembut dedaun terdengar bagai alunan musik merdu di telingaku.

Ya, aku akan menghadirkanmu dalam hidupku dan buku yang kutemukan itu akan membantuku untuk mewujudkan tempat yang berawal dari mimpiku. Tunggulah aku, tunggulah aku, Lembah Hijau.

~.*.~

Keriuhan selalu mewarnai datangnya pagi di Lembah Hijau. Sepasukan burung bulbul berlomba-lomba memamerkan suara merdu mereka, bersahut-sahutan memecah keheningan. Kelinci-kelinci putih menggeliat keluar dari lubang tempat mereka bersarang, hidung merah mudanya mengendus udara segar lalu melompat riang menuju padang rumput, tempat di mana sarapan pagi mereka terhampar luas siap untuk disantap.

Sepasang rusa muda melangkah anggun menuju tepi danau. Perlahan keduanya menundukkan kepala dan menjulurkan lidah mungil mereka, mengecap dinginnya air, meresapi kesegarannya lalu mereguknya sepuas hati sampai dahaga mereka terpenuhi. Setelah merenggangkan tubuh sejenak, keduanya mencari posisi duduk yang nyaman lalu mulai bercengkrama menanti terbitnya mentari.

~.*.~

-bersambung-

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…