Saturday, July 9, 2011

Lembah Hijau

Gambar diambil dari sini
Semuanya berawal dari mimpi. Sebuah mimpi seiring meningginya matahari membuat gambaran dalam benakku itu terlihat makin samar walau sebelumnya terasa amat nyata dan membuatku ingin terus menjadi bagian darinya.

Sebuah mimpi yang menyisakan dua kata yang tetap kuingat ketika terbangun. Dua kata itu terngiang-ngiang dan tidak bisa kuenyahkan dari pikiranku.

Lembah Hijau.

Itulah dua kata yang melekat dalam memoriku ketika aku membuka mata di pagi hari. Di mana letak Lembah Hijau? Aku tidak tahu. Siapa yang tinggal di Lembah Hijau? Aku juga tidak tahu. Dan bila kamu bertanya, jalan mana yang harus ditempuh untuk mencapainya? Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala.

Kemana aku harus mencari informasi tentang Lembah Hijau yang bahkan aku tidak yakin ada di duniaku ini? Ternyata takdir mempunyai jalan tersendiri yang masih tidak kumengerti cara kerjanya. Terasa aneh menurut logika. Itulah yang kualami! Aku menemukan kunci menuju Lembah Hijau.

Mau tahu ceritanya? Baiklah, akan aku ceritakan kepada kalian. Semuanya bermula dari toko buku tempatku menenggelamkan diri dalam timbunan kertas bermotif panda dengan dasar hijau berbintik-bintik putih yang disandingkan dengan kertas lainnya bergambar bebek kuning mentereng berhiaskan hati merah jambu. 

Ketika tanganku asyik memilah kertas mana yang akan aku boyong pulang, sudut mataku menangkap sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk datang mendekat padanya. Aku tak kuasa menahan diri dan tanganku terulur meraih buku catatan bersampul putih, yang lebih mirip diari, bergambar kucing bersepatu boot selutut dan jubah merahnya hampir menyentuh mata kaki sementara di kepalanya bertengger topi kertas penuh coretan yang dilipat berbentuk perahu, tak lupa disemati dengan bulu yang aku yakin sekali dicabutnya dari ekor ayam yang malang.

Jemariku membuka sampul itu dan hatiku berdesir ketika menemukan sebuah wajah yang tidak terasa asing bagiku. Ada rasa rindu yang hangat ketika menatapnya tanpa kedip. Bahkan untuk menarik napas pelan pun aku takut, takut membuatnya menghilang dari hadapanku. Mataku melahap rentetan huruf-huruf yang ada dan menarik benang merah satu per satu hingga mendapatkan gambaran yang muncul begitu saja yang pada satu titik akhirnya membuatku mengerti satu hal penting yang harus aku sadari sedini mungkin mengenai Lembah Hijau.

Aku membalik beberapa lembar lagi dari buku itu dan tersenyum seraya menutupnya. Tanpa pikir panjang aku meraih buku itu dan membawanya ke kasir lalu melangkah pulang sambil bersiul senang.

Lembah Hijau.

Baiklah, aku akui aku tidak menjadi lebih tahu mengenai keberadaanmu. Kamu tetap tempat yang misterius bagiku. Namun aku telah bertekad, jika aku tidak bisa masuk ke dalam duniamu maka aku yang akan membuatmu hadir di duniaku! Itu yang akan aku lakukan dengan beragam kombinasi huruf yang bisa aku rangkai untuk menghidupkan duniamu yang bermain dalam alam imajinasiku menjadi sebuah dunia yang tertera hitam di atas putih dalam lembar demi lembar kertas yang ketika kubaca ulang akan membawaku melayang memasuki dunia tempatmu berada, sebuah tempat yang menebarkan aroma padang rumput. Aku bisa merasakan semilir angin membelai pipiku dan desir lembut dedaun terdengar bagai alunan musik merdu di telingaku.

Ya, aku akan menghadirkanmu dalam hidupku dan buku yang kutemukan itu akan membantuku untuk mewujudkan tempat yang berawal dari mimpiku. Tunggulah aku, tunggulah aku, Lembah Hijau.

~.*.~

Keriuhan selalu mewarnai datangnya pagi di Lembah Hijau. Sepasukan burung bulbul berlomba-lomba memamerkan suara merdu mereka, bersahut-sahutan memecah keheningan. Kelinci-kelinci putih menggeliat keluar dari lubang tempat mereka bersarang, hidung merah mudanya mengendus udara segar lalu melompat riang menuju padang rumput, tempat di mana sarapan pagi mereka terhampar luas siap untuk disantap.

Sepasang rusa muda melangkah anggun menuju tepi danau. Perlahan keduanya menundukkan kepala dan menjulurkan lidah mungil mereka, mengecap dinginnya air, meresapi kesegarannya lalu mereguknya sepuas hati sampai dahaga mereka terpenuhi. Setelah merenggangkan tubuh sejenak, keduanya mencari posisi duduk yang nyaman lalu mulai bercengkrama menanti terbitnya mentari.

~.*.~

-bersambung-