Sunday, July 3, 2011

Menyontek

“Monique Rahmadita…,” Moniq tersentak mendengar panggilan namanya dengan lengkap dari belakang tubuhnya. Ooops, ada mama di dalam kamarku… Uh, ketahuan deh aku lagi membaca buku cerita ini dan tidak belajar, Moniq mengeluh dalam hatinya. Dengan takut-takut ia menutup buku ceritanya dan memutar tubuhnya menghadap ke mamanya yang sedang memandanginya dengan kesal.


Tanpa banyak bicara mamanya mengambil buku yang tengah dibaca Moniq. Harry Potter buku terakhir yang sepertinya telah dibaca Moniq entah untuk yang kesekian kalinya. Bukankah katanya Moniq besok di kelasnya ada ulangan Sejarah? Lalu mengapa bukannya belajar ia malah asik membaca buku cerita yang sudah ia tahu isinya di luar kepala?
“Maaf Mamaaa,” dengan takut-takut Moniq memandang wajah mamanya yang masih terlihat berkerut. “Aku tadi bosan sekali membaca buku pelajaran ini…lalu aku mau iseng sebentar aja…”
“Membaca Harry Potter yang tebal itu kamu bilang iseng sebentar?” potong mamanya dengan suara galak.
“…lalu aku keasikan baca abisnya seru sih…,” suara Moniq berubah menjadi pelan ketika mendengar suara mamanya. “Ya, ya, ya…aku belajar lagi deh…”

Mama menghela napas dan menatap puteri satu-satunya yang mempunyai hobi sama dengan dirinya yaitu membaca apa saja kecuali buku pelajaran sepertinya. Ia memang senang mengetahui bahwa puterinya lebih senang berdiam dirumah bersamanya membaca buku cerita tapi kalau sampai mengganggu belajarnya seperti ini, waduh. Ini sudah tidak benar namanya.

“Mama jangan marah ya… Mama kan juga suka baca jadi pasti ngerti dong kalau Harry Potter itu lebih menarik daripada pelajaran Sejarah…,” rayu Moniq berusaha agar mamanya tidak berlama-lama marah pada dirinya. Mama kalau sudah marah bisa lama sekali. Bisa-bisa ia tidak dibelikan buku cerita baru nanti.

Dan benar saja senyuman menguak sedikit di wajah mamanya sebelum akhirnya kembali berkerut walau tidak seperti sebelumnya.
“Kamu tahu kenapa kamu mesti belajar, Moniq?” tanya mamanya seraya melipat tangannya.
Yah, tentu saja untuk mendapat nilai yang bagus agar bisa naik kelas nanti, jawab Moniq dengan tidak bersemangat karena tahu memang itu kenyataannya. Mamanya mengangguk dan melanjutkan bahwa dengan tidak belajar orang bisa menjadi tidak jujur. Menyontek pekerjaan temannya misalnya.

“Tapi aku tidak pernah menyontek, mamaaa…,” sanggah Moniq kesal karena merasa dituduh.
“Moniq, mama dulu pernah dikira menyontek sama ibu guru. Karena apa? Mama dan teman sebangku mama mendapat nilai yang sama. Jawaban kami di kertas ulangan itu sama persis hingga yang salah sekalipun…”
Moniq melebarkan matanya membayangkan seperti apa mamanya dulu ketika masih kecil seperti dirinya dan harus belajar berjam-jam setiap hari. Dengan rasa ingin tahu Moniq menanyakan pada mamanya apa yang kemudian terjadi.

“Yah, ibu guru meminta mama dan teman sebangku mama untuk tidak segera pulang usai jam pelajaran sekolah,” dengus mamanya seraya menerawang berusaha mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu. “Begitu kelas sudah sepi ibu guru meminta diantara kami berdua mengaku siapa yang sudah menyontek tadi…”

Moniq bisa menduga pasti teman sebangku mamanya itu tidak mau mengaku karena ia yakin sekali bukan mamanya yang menyontek pada saat ulangan itu. Tapi bagaimana caranya memberitahu ibu guru kalau cara mereka menjawab soal ulangan itu sama persis?

“Karena diantara kami berdua tidak ada yang mengaku, maka ibu guru memutuskan agar kami diberikan ulangan lagi. Tentunya soalnya berbeda dari yang sebelumnya… ,” mamanya melanjutkan cerita tersebut dengan tersenyum. “Nah, coba kamu tebak berapa kali ini nilai yang mama dan teman mama dapatkan…”

Moniq tersenyum dan mengatakan pasti mamanya yang mendapat nilai lebih tinggi karena mamanya memang… Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan…
“…sudah belajar dan menghapal sementara temannya mama pasti tidak belajar… Makanya dia menyontek dari kertas ulangan mama…”

Mamanya tersenyum lebar memperhatikan wajah Moniq yang sekarang tersipu-sipu dan menunduk ke buku pelajarannya yang masih tertutup. Mamanya diliputi perasaan senang karena akhirnya anaknya bisa disadarkan tanpa perlu marah-marah yang berlebihan. Ia baru saja akan mengembalikan buku cerita Harry Potter tersebut kepada anaknya ketika dilihatnya anaknya hendak menanyakan sesuatu.

“Mamaaa, “ Moniq menatap wajah mamanya dengan matanya yang semakin terlihat membesar. “Tapi kalau misalnya nyonteknya gak terlalu mirip mungkin temannya mama gak akan ketahuan yaaa…”

Dan sang mamapun hanya bisa mendesah seraya menyita buku cerita Harry Potter dari anaknya. Memang tidak ada cara yang mudah untuk mencapai sukses. Termasuk juga dengan membiasakan diri untuk terus belajar.