Skip to main content

Menyontek

“Monique Rahmadita…,” Moniq tersentak mendengar panggilan namanya dengan lengkap dari belakang tubuhnya. Ooops, ada mama di dalam kamarku… Uh, ketahuan deh aku lagi membaca buku cerita ini dan tidak belajar, Moniq mengeluh dalam hatinya. Dengan takut-takut ia menutup buku ceritanya dan memutar tubuhnya menghadap ke mamanya yang sedang memandanginya dengan kesal.


Tanpa banyak bicara mamanya mengambil buku yang tengah dibaca Moniq. Harry Potter buku terakhir yang sepertinya telah dibaca Moniq entah untuk yang kesekian kalinya. Bukankah katanya Moniq besok di kelasnya ada ulangan Sejarah? Lalu mengapa bukannya belajar ia malah asik membaca buku cerita yang sudah ia tahu isinya di luar kepala?
“Maaf Mamaaa,” dengan takut-takut Moniq memandang wajah mamanya yang masih terlihat berkerut. “Aku tadi bosan sekali membaca buku pelajaran ini…lalu aku mau iseng sebentar aja…”
“Membaca Harry Potter yang tebal itu kamu bilang iseng sebentar?” potong mamanya dengan suara galak.
“…lalu aku keasikan baca abisnya seru sih…,” suara Moniq berubah menjadi pelan ketika mendengar suara mamanya. “Ya, ya, ya…aku belajar lagi deh…”

Mama menghela napas dan menatap puteri satu-satunya yang mempunyai hobi sama dengan dirinya yaitu membaca apa saja kecuali buku pelajaran sepertinya. Ia memang senang mengetahui bahwa puterinya lebih senang berdiam dirumah bersamanya membaca buku cerita tapi kalau sampai mengganggu belajarnya seperti ini, waduh. Ini sudah tidak benar namanya.

“Mama jangan marah ya… Mama kan juga suka baca jadi pasti ngerti dong kalau Harry Potter itu lebih menarik daripada pelajaran Sejarah…,” rayu Moniq berusaha agar mamanya tidak berlama-lama marah pada dirinya. Mama kalau sudah marah bisa lama sekali. Bisa-bisa ia tidak dibelikan buku cerita baru nanti.

Dan benar saja senyuman menguak sedikit di wajah mamanya sebelum akhirnya kembali berkerut walau tidak seperti sebelumnya.
“Kamu tahu kenapa kamu mesti belajar, Moniq?” tanya mamanya seraya melipat tangannya.
Yah, tentu saja untuk mendapat nilai yang bagus agar bisa naik kelas nanti, jawab Moniq dengan tidak bersemangat karena tahu memang itu kenyataannya. Mamanya mengangguk dan melanjutkan bahwa dengan tidak belajar orang bisa menjadi tidak jujur. Menyontek pekerjaan temannya misalnya.

“Tapi aku tidak pernah menyontek, mamaaa…,” sanggah Moniq kesal karena merasa dituduh.
“Moniq, mama dulu pernah dikira menyontek sama ibu guru. Karena apa? Mama dan teman sebangku mama mendapat nilai yang sama. Jawaban kami di kertas ulangan itu sama persis hingga yang salah sekalipun…”
Moniq melebarkan matanya membayangkan seperti apa mamanya dulu ketika masih kecil seperti dirinya dan harus belajar berjam-jam setiap hari. Dengan rasa ingin tahu Moniq menanyakan pada mamanya apa yang kemudian terjadi.

“Yah, ibu guru meminta mama dan teman sebangku mama untuk tidak segera pulang usai jam pelajaran sekolah,” dengus mamanya seraya menerawang berusaha mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu. “Begitu kelas sudah sepi ibu guru meminta diantara kami berdua mengaku siapa yang sudah menyontek tadi…”

Moniq bisa menduga pasti teman sebangku mamanya itu tidak mau mengaku karena ia yakin sekali bukan mamanya yang menyontek pada saat ulangan itu. Tapi bagaimana caranya memberitahu ibu guru kalau cara mereka menjawab soal ulangan itu sama persis?

“Karena diantara kami berdua tidak ada yang mengaku, maka ibu guru memutuskan agar kami diberikan ulangan lagi. Tentunya soalnya berbeda dari yang sebelumnya… ,” mamanya melanjutkan cerita tersebut dengan tersenyum. “Nah, coba kamu tebak berapa kali ini nilai yang mama dan teman mama dapatkan…”

Moniq tersenyum dan mengatakan pasti mamanya yang mendapat nilai lebih tinggi karena mamanya memang… Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan…
“…sudah belajar dan menghapal sementara temannya mama pasti tidak belajar… Makanya dia menyontek dari kertas ulangan mama…”

Mamanya tersenyum lebar memperhatikan wajah Moniq yang sekarang tersipu-sipu dan menunduk ke buku pelajarannya yang masih tertutup. Mamanya diliputi perasaan senang karena akhirnya anaknya bisa disadarkan tanpa perlu marah-marah yang berlebihan. Ia baru saja akan mengembalikan buku cerita Harry Potter tersebut kepada anaknya ketika dilihatnya anaknya hendak menanyakan sesuatu.

“Mamaaa, “ Moniq menatap wajah mamanya dengan matanya yang semakin terlihat membesar. “Tapi kalau misalnya nyonteknya gak terlalu mirip mungkin temannya mama gak akan ketahuan yaaa…”

Dan sang mamapun hanya bisa mendesah seraya menyita buku cerita Harry Potter dari anaknya. Memang tidak ada cara yang mudah untuk mencapai sukses. Termasuk juga dengan membiasakan diri untuk terus belajar.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…