Skip to main content

Michiko

Ilustrasi oleh Azam Raharjo

Tubuhnya yang putih mulus dan tampak empuk serta hangat bila dipeluk itu menggeliat pelan. Mata hijaunya berkerjapan seolah mengundang tangan untuk mengelusnya sambil menikmati kehalusan bulunya.

“Michiko sayang,” bisik Si Nona ke telinga kucing kesayangannya sambil mengecupkan bibirnya ke hidung Michiko yang mungil dan merah jambu. “Aku tinggal dulu, ya. Kamu di rumah sendiri sebentar, ya. Jangan nakal.”

Si Nona berjalan ke dapur, menggendong Michiko dengan penuh kasih.
“Niiih… makan siangmu udah siap.” Si Nona meraih mangkuk merah penuh berisi makanan kegemaran Michiko, nasi dengan parutan ikan dan sayuran. “Ini susumu,” tambah Si Nona menjangkau mangkuk hijau yang telah dipenuhi susu.

Digendongnya lagi Michiko yang matanya setengah tertutup menikmati kehangatan dan wangi tubuh majikannya. Kedua cuping telinganya yang bersih dan berwarna merah jambu itu bergerak-gerak seolah menari seirama langkah si Nona. Dengan sangat lembut Si Nona menaruh Michiko ke dalam crib-nya, sebuah keranjang rotan bulat besar beralaskan bantal terbalut kain flannel biru muda motif kembang putih hijau.

“Aku pergi dulu, ya, Sayaaaang…” Sekali lagi sebelum pergi Si Nona mengecup wajah Michiko.

Sambil menjulurkan perutnya Michiko menatap majikannya melangkah menjauh meninggalkannya sendirian. Michiko sudah dipelihara oleh Si Nona sejak berusia satu bulan. Kucing yang kini telah berusia dua tahun itu diperlakukan oleh Si Nona bagai puteri raja. Kesehatan dan kebersihannya selalu diperhatikan bahkan melebihi bayi tetangga Si Nona.

Bila Si Nona pergi, Michiko selalu merasa kesepian. Si Nona tahu itu, tapi ia tidak suka kalau Michiko keluar rumah untuk bergaul dengan kucing-kucing milik tetangga-tetangganya yang selalu tampak kotor dan bulukan karena kesehatan dan kebersihannya tidak dijaga.

Seperti biasanya, setelah Si Nona menutup pintu, Michiko keluar dari keranjang dan berlari ke jendela. Dengan hati-hati ia melompat ke kursi lalu naik ke meja tempat Si Nona memajang foto-foto dan barang-barang hiasan. Michiko menempelkan kepalanya yang indah ke kaca jendela. Mata hijaunya tampak gembira ketika dua kucing tetangga, Belang dan Gendut, telah menunggunya di teras samping rumah Si Nona.

“Michiko, aku tidak melihat ada jendela terbuka pagi ini.” Suara Belang terdengar kecewa.

“Kamu hari ini pasti tidak bisa keluar,” tambah Gendut sambil menatap sahabat cantiknya dengan mata coklatnya yang tajam.

“Meoooooowww...,” Michiko mendesah sedih. Pelan-pelan ia melompat turun dan berputar-putar keliling ruangan sambil berharap kalau-kalau ada jendela yang tidak terkunci. Tapi harapannya sia-sia. Kucing cantik berbulu putih itu hanya bisa tergolek diam di atas meja sambil memandangi dua sahabatnya bermain di halaman rumah.

Karena sedih dan bosan, Michiko ketiduran. Ketika ada suara dari luar diikuti dengan gemerincing logam di pintu depan Michiko terbangun dan melompat kegirangan. Si Nona pulang lebih awal, batin Michiko. Namun telinganya yang telah terbiasa mendengar langkah lembut Si Nona dan aroma wangi tubuhnya tiba-tiba memberinya peringatan.

“Ini bukan Si Nona,” pikir Michiko, “Siapa ya? Baunya apek nian dan langkahnya kasar sekali.”

Michiko berbalik dan lari sembunyi. Dari sela-sela gorden, Michiko melihat dua orang lelaki. Mereka masing-masing membawa karung hitam dan mengambil apa saja yang mereka lihat kemudian memasukkan barang-barang itu ke dalam karung. Michiko ketakutan sekali kalau-kalau mereka melihatnya dan memasukkannya ke karung hitam itu juga.

Dalam paniknya, Michiko teringat akan dua sahabatnya, Gendut dan Belang. Ketika dua lelaki itu tengah sibuk berusaha membuka pintu kamar tidur Si Nona, dengan hati-hati Michiko menyelinap keluar lewat pintu depan yang sedikit terbuka; dua tamu tak diundang itu lupa merapatkannya.

“Genduut…! Belaaaangg…! Tolooooooooooongg…!!!” Michiko mengerahkan seluruh tenaga, berteriak memanggil kedua temannya. Teriakan Michiko cukup lantang sehingga salah satu lelaki yang ada di dalam rumah Si Nona merasa perlu untuk melongok keluar jendela. Namun Michiko terlindung di balik rimbunnya daunan.

“Belaaangg…!!! Genduuuuuuuuutt…!!!” Suara Michiko terdengar mulai putus asa. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya namun takut kalau-kalau dua lelaki yang tengah menjarah rumah majikannya itu mendengar suaranya lagi. Ia tak mau diambil dan dimasukkan ke dalam karung hitam yang pasti baunya tak kalah apek dengan pemiliknya yang tampak jahat dan kasar itu.

“Meooooooooooooowww…! Meooooooooooowww…!” Tiba-tiba dari sudut halaman terdengar suara Gendut dan Belang bersahut-sahutan. Mereka berlari beriringan, khawatir telah terjadi sesuatu pada Michiko karena tidak biasanya si cantik itu berteriak-teriak kasar.

Dengan cepat Michiko menceritakan pada Gendut dan Belang apa yang tengah terjadi di dalam rumah Si Nona. Sigap Gendut dan Belang berlarian sambil membuat kegaduhan. Mereka melompat ke pagar, terus naik ke atap. Bergulingan. Berkejaran. Berteriak bersahutan.

Kegaduhan mereka di atas atap yang tidak biasa itu membuat tetangga Si Nona keluar rumah.

“Ada apa dengan Gendut dan Belang, Ma?” suara Si Kecil, pemilik Gendut dan Belang, terdengar ketakutan. Ia mengekor Si Mama yang berlari keluar rumah menuju halaman rumah Si Nona. Demi dilihatnya kedua ekor kucingnya tengah berlompatan dan bergulingan di atas atap sambil berteriak-teriak seperti kesurupan, anak lelaki yang baru saja masuk TK itu mulai menangis. Ia takut kalau-kalau kucing-kucingnya akan jatuh dari atap dan terluka. Si Mama memanggil beberapa tetangga, minta tolong menenangkan Gendut dan Belang.

Dalam sekejap para tetangga berdatangan. Dua orang pencuri itu ketakutan. Orang-orang itu memergoki mereka sedang mengobrak-abrik isi rumah Si Nona. Takut tertangkap tangan, mereka meninggalkan semua barang dan kabur lewat pintu belakang. Ketika para tetangga sedang mengejar kedua maling yang cepat sekali hilang itu, Gendut dan Belang pelan-pelan turun dari atap.

“Meoooowww…” lembut penuh rasa terima kasih suara Michiko menyambut dua sahabatnya yang bulu-bulu dan wajahnya berlepotan debu. Mereka bertiga berpelukan.

***

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…