Tuesday, July 5, 2011

Papa Jerapah

Papa Jerapah sedang kesal. Ia kesal dengan Jerry Jerapah, anak laki-lakinya. Jerry sudah mulai dewasa. Dia tumbuh menjadi jerapah yang tinggi menjulang. Bukan hanya tungkainya yang memanjang dengan elok. Lehernya pun sangat rupawan karena tinggi dan langsing.

Mama Jerapah sangat bangga akan kemolekan anaknya itu. Kemanapun ia pergi, Jerry selalu diajaknya serta. Ia akan bercerita tentang Jerry kepada setiap teman yang dijumpainya. Ia bercerita tentang kemampuan Jerry menjangkau buah dan dedaunan di tempat-tempat yang tinggi. Saking tingginya Jerry Jerapah bahkan sudah dinobatkan menjadi jerapah tertinggi di kebun binatang tempat mereka tinggal. Sebuah gelar yang dulunya disandang oleh Papa Jerapah.


Sebenarnya Papa Jerapah juga bangga akan Jerry. Namun dalam hatinya ia sedikit kecewa karena pohon kesukaannya kini menjadi tempat Jerry berdiri untuk memamerkan diri ke pengunjung kebun binatang. Bertahun-tahun Papa Jerapah menguasai pohon tinggi itu. Kini Jerry yang selalu ditarik menuju pohon kesayangannya itu oleh sang pawang.

Yang lebih membuat Papa Jerapah kesal, Jerry sudah berani menawarkan bantuannya untuk memetikkan buah atau dedaunan di tempat tinggi kepada Papa Jerapah. Jerry tentu sedang menjadi anak yang baik. Menurutnya Papa Jerapah sudah terlalu tua untuk memetik buah sendiri. Ditambah lagi buah dan dedaunan itu makin hari tempatnya makin tinggi saja, karena yang terletak di tempat rendah sudah habis dipetik oleh jerapah-jerapah yang lain. Tapi Papa Jerapah tetap saja kesal dibuatnya.

''Papa, dulu Papa suka mengambilkan aku daun yang terdapat di paling ujung pohon. Karena katamu daun yang paling tinggi adalah yang paling enak rasanya. Sekarang kuambilkan daun dari pohon paling tinggi yang bahkan Papapun tidak bisa menjangkaunya. Ini untukmu, Papa,'' kata Jerry sambil tersenyum dan menyodorkan selembar daun kepada Papa Jerapah.
Papa Jerapah tersenyum kecut. Dalam hatinya ia tidak menerima perkataan Jerry Jerapah. Ia bertekad untuk membuktikan pada anaknya itu kalau ia masih bisa dan sanggup memetik buah dan dedaunan dari pohon yang paling tinggi sekalipun.
Papa Jerapah berjalan menuju pohon yang paling tinggi di kandang mereka. Menarik lehernya sepanjang mungkin ke arah atas. Menjulurkan lidahnya semampunya untuk mencapai buah yang ada di ujung dahan tinggi di sana. Matanya hampir keluar karena berusaha begitu kerasnya. Jerry melihatnya dengan khawatir.
"Papa, kalau Papa menginginkannya, biar aku bantu untuk memetiknya," kata Jerry menawarkan bantuan kepada Papa Jerapah.
"Tidak usah! Aku masih bisa memetiknya dari pohon yang paling tinggi sekali...Aaarrgh!" Tiba-tiba Papa Jerapah menjerit kesakitan.
Mama Jerapah terkejut mendengarnya dan langsung berlari mendekati Papa Jerapah.
"Ada apa?" tanyanya khawatir.
"Leherku...Aduuuh...," kata Papa Jerapah sambil meringis kesakitan.
"Kenapa dengan lehermu?" tanya Mama JErapah lagi.
"Sakit sekali. Sepertinya ada yang menariknya hingga rasanya leherku mau putus dibuatnya," kata Papa Jerapah lagi.
"Hmm, kurasa itu karena Papa terlalu memaksakan ingin memetik buah di atas pohon tinggi itu," ujar Mama kemudian.
"Aku tidak memaksakan. Aku masih bisa!" kata Papa Jerapah dengan kesal.
"Sudahlah, Papa. Dulu kamu memang jerapah yang kuat dan paling tinggi di antara semua jerapah di sini. Tapi sekarang kamu sudah terlalu tua untuk sekedar menunjukkan kepada kami kalau kamu masih bisa melakukannya. Toh, kami semua sudah tahu kalau kamu dulu selalu berhasil memetik buah di pohon yang tertinggi. Tidak ada yang perlu Papa buktikan lagi. Sekarang mari istirahat. Kuobati lehermu yang sakit itu. Ingat umur, kita ini sudah tua. Kalau Papa masih menginginkan buah itu, mintalah Jerry untuk memetikkannya untukmu," kata Mama panjang sambil membimbing Papa menjauhi pohon tinggi itu.

Mama Jerapah mengedipkan matanya ke arah Jerry Jerapah. Jerry mengangguk tanda mengerti. Ia pun tersenyum kepada Mama Jerapah dan mulai memetik buah dari pohon tertinggi di dalam kandang mereka itu untuk Papa Jerapah. Dalam hati Jerry berkata, "Kalau aku sudah tua nanti aku tidak mau memaksakan diri memetik buah dari pohon yang tingginya akan menyusahkan aku saja nantinya. Daripada leherku sakit seperti Papa."