Skip to main content

Papa Jerapah

Papa Jerapah sedang kesal. Ia kesal dengan Jerry Jerapah, anak laki-lakinya. Jerry sudah mulai dewasa. Dia tumbuh menjadi jerapah yang tinggi menjulang. Bukan hanya tungkainya yang memanjang dengan elok. Lehernya pun sangat rupawan karena tinggi dan langsing.

Mama Jerapah sangat bangga akan kemolekan anaknya itu. Kemanapun ia pergi, Jerry selalu diajaknya serta. Ia akan bercerita tentang Jerry kepada setiap teman yang dijumpainya. Ia bercerita tentang kemampuan Jerry menjangkau buah dan dedaunan di tempat-tempat yang tinggi. Saking tingginya Jerry Jerapah bahkan sudah dinobatkan menjadi jerapah tertinggi di kebun binatang tempat mereka tinggal. Sebuah gelar yang dulunya disandang oleh Papa Jerapah.


Sebenarnya Papa Jerapah juga bangga akan Jerry. Namun dalam hatinya ia sedikit kecewa karena pohon kesukaannya kini menjadi tempat Jerry berdiri untuk memamerkan diri ke pengunjung kebun binatang. Bertahun-tahun Papa Jerapah menguasai pohon tinggi itu. Kini Jerry yang selalu ditarik menuju pohon kesayangannya itu oleh sang pawang.

Yang lebih membuat Papa Jerapah kesal, Jerry sudah berani menawarkan bantuannya untuk memetikkan buah atau dedaunan di tempat tinggi kepada Papa Jerapah. Jerry tentu sedang menjadi anak yang baik. Menurutnya Papa Jerapah sudah terlalu tua untuk memetik buah sendiri. Ditambah lagi buah dan dedaunan itu makin hari tempatnya makin tinggi saja, karena yang terletak di tempat rendah sudah habis dipetik oleh jerapah-jerapah yang lain. Tapi Papa Jerapah tetap saja kesal dibuatnya.

''Papa, dulu Papa suka mengambilkan aku daun yang terdapat di paling ujung pohon. Karena katamu daun yang paling tinggi adalah yang paling enak rasanya. Sekarang kuambilkan daun dari pohon paling tinggi yang bahkan Papapun tidak bisa menjangkaunya. Ini untukmu, Papa,'' kata Jerry sambil tersenyum dan menyodorkan selembar daun kepada Papa Jerapah.
Papa Jerapah tersenyum kecut. Dalam hatinya ia tidak menerima perkataan Jerry Jerapah. Ia bertekad untuk membuktikan pada anaknya itu kalau ia masih bisa dan sanggup memetik buah dan dedaunan dari pohon yang paling tinggi sekalipun.
Papa Jerapah berjalan menuju pohon yang paling tinggi di kandang mereka. Menarik lehernya sepanjang mungkin ke arah atas. Menjulurkan lidahnya semampunya untuk mencapai buah yang ada di ujung dahan tinggi di sana. Matanya hampir keluar karena berusaha begitu kerasnya. Jerry melihatnya dengan khawatir.
"Papa, kalau Papa menginginkannya, biar aku bantu untuk memetiknya," kata Jerry menawarkan bantuan kepada Papa Jerapah.
"Tidak usah! Aku masih bisa memetiknya dari pohon yang paling tinggi sekali...Aaarrgh!" Tiba-tiba Papa Jerapah menjerit kesakitan.
Mama Jerapah terkejut mendengarnya dan langsung berlari mendekati Papa Jerapah.
"Ada apa?" tanyanya khawatir.
"Leherku...Aduuuh...," kata Papa Jerapah sambil meringis kesakitan.
"Kenapa dengan lehermu?" tanya Mama JErapah lagi.
"Sakit sekali. Sepertinya ada yang menariknya hingga rasanya leherku mau putus dibuatnya," kata Papa Jerapah lagi.
"Hmm, kurasa itu karena Papa terlalu memaksakan ingin memetik buah di atas pohon tinggi itu," ujar Mama kemudian.
"Aku tidak memaksakan. Aku masih bisa!" kata Papa Jerapah dengan kesal.
"Sudahlah, Papa. Dulu kamu memang jerapah yang kuat dan paling tinggi di antara semua jerapah di sini. Tapi sekarang kamu sudah terlalu tua untuk sekedar menunjukkan kepada kami kalau kamu masih bisa melakukannya. Toh, kami semua sudah tahu kalau kamu dulu selalu berhasil memetik buah di pohon yang tertinggi. Tidak ada yang perlu Papa buktikan lagi. Sekarang mari istirahat. Kuobati lehermu yang sakit itu. Ingat umur, kita ini sudah tua. Kalau Papa masih menginginkan buah itu, mintalah Jerry untuk memetikkannya untukmu," kata Mama panjang sambil membimbing Papa menjauhi pohon tinggi itu.

Mama Jerapah mengedipkan matanya ke arah Jerry Jerapah. Jerry mengangguk tanda mengerti. Ia pun tersenyum kepada Mama Jerapah dan mulai memetik buah dari pohon tertinggi di dalam kandang mereka itu untuk Papa Jerapah. Dalam hati Jerry berkata, "Kalau aku sudah tua nanti aku tidak mau memaksakan diri memetik buah dari pohon yang tingginya akan menyusahkan aku saja nantinya. Daripada leherku sakit seperti Papa."

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…