Skip to main content

Riri Rusa dan Puput Siput

Riri Rusa sangat terkenal karena kegesitannya seantero hutan. Semua binatang mengakui kehebatannya dalam berlari. Dia mampu berlari lebih kencang dari raja hutan sekalipun. Kakinya yang kurus dan panjang membuatnya mampu berlari dengan ringan seperti melayang dan ikut terbang terbawa angin.

Riri Rusa sangat bangga dengan kemampuan berlarinya yang tidak ada tandingannya itu. Setiap hari dia berusaha menunjukkan kepada semua penghuni hutan akan kehebatannya. Tidak jarang dia menawarkan bantuan
kepada siapa saja yang ditemuinya agar dia dapat menunjukkan kebolehannya berlari.
Pernah suatu hari ia bertemu dengan Jerry Jerapah yang tengah mencari makan siang.
“Hai, Jerry. Mau ke mana?” Sapa Riri Rusa pada Jerry Jerapah.

“Aku hendak mengambil daun segar di pohon jati yang ada di…” Belum sempat Jerry menyelesaikan ucapannya, Riri Rusa sudah berlari menuju pohon jati yang ada di depan mereka, lalu mencabut beberapa helai daun dengan mulutnya dan berlari kembali ke hadapan Jerry yang masih terlongo-longo dibuatnya.
“Ini, sudah kuambilkan daun untukmu,” ujar Riri Rusa dengan suara bangga, menanti pujian dari Jerry Jerapah.
“Wow! Terima kasih, Riri. Kamu memang luar biasa gesit dan cepat sekali,” kata Jerry Jerapah dengan takjub. “Tapi…” Jerry sepertinya hendak mengatakan sesuatu yang lain kepada Riri Rusa.
“Sampai jumpa nanti, Jerry!” Riri Rusa sudah berlari menjauh meninggalkan Jerry Jerapah.
Jerry Jerapah memandang helai-helai daun yang ditinggalkan Riri Rusa untuknya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia pun pergi meninggalkan daun-daun itu di tanah begitu saja.
“Huff. Andai saja Riri tidak selalu harus begitu cepat dan terburu-buru, dia akan tahu kalau aku hanya memakan daun yang paling muda yang adanya di pucuk tertinggi pohon itu. Ah, sudahlah…” Jerry Jerapah berkata pada dirinya sendiri lalu tersenyum.
Suatu hari raja hutan mengumumkan sayembara untuk semua penghuni hutan. Sayembara itu diadakan untuk mencari penasehat yang bijaksana. Semua binatang berkumpul di tengah hutan untuk mendengarkan pengumuman itu. Singa, si raja hutan, mulai berbicara.
“Wahai para penghuni hutan! Aku sedang mencari penasehat untukku. Barangsiapa yang mampu melewati ujian sayembara yang aku adakan, maka dia berhak menjadi penasehatku. Siapa saja boleh mencoba untuk mengikuti sayembara ini. Mulai dari binatang yang paling kecil…ya, kamu, Sisi Semut, kamu boleh ikut juga. Sampai binatang yang paling besar seperti Gogo Gajah. Eor Elang yang mampu terbang atau Uli Ular yang melata, semua boleh mengikuti sayembara ini. Aku mencari binatang yang paling bijaksana dan pandai!”
“Apakah baginda juga mencari binatang yang paling cepat?” Tanya Riri Rusa dengan nada sedikit pongah.
Raja Hutan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Bijaksana, pandai, tangkas. Tangkas bukan selalu berarti cepat. Tapi bolehlah kalau kau mau begitu, Riri. Yang pasti dia harus bisa mendengarkan titahku dengan baik dan melaksanakannya sesuai dengan apa yang kuinginkan!”
“Baiklah! Sepertinya aku akan memenangkan sayembara ini,” kata Riri Rusa cepat, seperti biasa. Riri rusa memang selalu terkenal dengan kegesitan dan kecepatannya. Tidak hanya dalam hal berlari, tapi juga dalam berkata-kata dan mengambil keputusan.
Keesokan harinya para binatang berkumpul untuk melihat siapa saja yang akan mengikuti sayembara yang diadakan oleh raja hutan. Ternyata tidak banyak yang mengikuti selain Riri Rusa yang sudah mengumumkan sejak kemarin kalau ia akan mengikuti dan memenangkan sayembara itu kemarin. Hanya ada Puput Siput di garis awal tempat sayembara akan berlangsung. Di sampingnya Riri Rusa berdiri sambil terkekeh-kekeh melihat Puput Siput.
“Sudahlah Puput, lebih baik kau batalkan saja keinginanmu untuk mengikuti sayembara ini. Sudah pasti aku yang akan keluar sebagai pemenang,” kata Riri Rusa kepada Puput Siput.
Puput Siput hanya tersenyum mendengar ucapan Riri Rusa. Raja hutan berjalan mendekati mereka. Binatang yang lain sudah berjejer rapi di sepanjang garis. Tampaknya raja hutan akan mengadakan semacam lomba lari untuk memilih penasehatnya itu.
“Kalian berdua sudah siap?” tanyanya kepada Riri Rusa dan Puput Siput. “Baiklah. Kalian berdirilah di garis awal ini dan dengarkan petunjukku baik-baik. Barangsiapa yang pertama kali sampai di garis akhir di ujung sana pada saat matahari tenggelam nanti, maka dialah pemenangnya,” kata raja hutan.
Riri Rusa tertawa keras mendengar ucapan raja hutan tersebut. Merasa sangat yakin kalau dialah yang akan keluar sebagai pemenang.
“Maaf, raja. Kenapa harus menunggu sampai matahari terbenam? Aku bisa sampai ke garis akhir itu dalam hitungan ke sepuluh!” ujarnya sambil bersiap-siap hendak mulai berlari.
Raja hutan tidak menjawab pertanyaan Riri Rusa. Dia menyuruh Puput Siput dan Riri Rusa untuk bersiap-siap di garis awal. Matahari tepat di atas kepala mereka. Itu pertanda hari masih siang. Matahari terbenam masih beberapa jam lagi.
“Siap? Mulai!” Suara raja hutan menggelegar. Penghuni hutan ramai bersorak-sorai mengiringi Riri Rusa dan Puput Siput yang mulai bergerak menuju garis akhir lomba.
Riri Rusa melesat seperti kilat. Berlari tanpa memperdulikan Puput Siput yang bergerak begitu lambat. Hanya sekejap saja Riri Rusa sudah sampai di garis akhir diiringi oleh gegap-gempita sorakan seluruh penghuni hutan. Semua mencari raja hutan yang tiba-tiba saja menghilang.
“Kemana perginya sang raja?” Tanya Jerry Jerapah pada Eor Elang yang sedang bertengger di dahan sebuah pohon tinggi.
“Entahlah. Sebentar aku lihat dari udara.” Eor Elang terbang ke atas hutan untuk mencari raja.
Dari kejauhan dia melihat Singa, si raja hutan, sedang duduk tenang di atas singgasananya. Cepat-cepat Eor Elang terbang menukik menuju sang raja.
“Raja! Kenapa ada di sini? Riri Rusa sudah sampai di garis akhir. Dia pemenangnya,” ucap Eor Elang.
Raja hutan tertawa terkekeh mendengarnya. “Aku yang menentukan siapa pemenangnya, Eor! Lagi pula, memangnya matahari sudah terbenam?”
Eor Elang menggelengkan kepalanya. Matahari belum terbenam. Hari masih sore.
“Bangunkan aku jika matahari sudah berwarna kemerahan dan terbenam di ufuk barat!” Raja member perintah kepada Eor, lalu mulai bersiap untuk tidur.
Eor Elang merasa bingung. Tapi dia tidak berani melawan perintah sang raja.
Ketika matahari sudah mulai bergeser kea rah barat dan berwarna kemerahan, Eor Elang membangunkan sang raja. Raja hutan pun lalu bangun dan berjalan menuju garis akhir. Riri Rusa sudah berdiri di sana dengan gelisah. Begitu juga penghuni hutan lainnya. Sementara Puput Siput masih berusaha mencapai garis akhir yang tinggal sedikit lagi. Para penghuni hutan bersorak-sorak member semangat kepada Puput Siput walaupun mereka tahu Riri Rusalah pemenangnya.
Tepat ketika matahari terbenam, Puput Siput berhasil mencapai garis akhir. Semua member tepuk tangan meriah sebagai tanda menghargai perjuangan Puput Siput sampai ke garis akhir.
Raja hutan pun lalu berdiri bersiap-siap mengumumkan juara sayembara itu.
“Warga hutan yang aku cintai. Dengan bahagia, aku mengumumkan pemenang sayembara pemilihan penasehatku adalah…Puput Siput!” kata raja dengan suara menggelegar.
Semua penghuni hutan menahan nafas, tidak menyangka kalau Puput Siput yang terpilih sebagai penasehat raja. Mereka berbisik-bisik satu sama lain karena tidak mengerti mengapa raja memutuskan demikian.
Riri Rusa berjalan cepat menuju sang raja dengan gusar.
“Tapi raja, akulah yang pertama kali sampai di garis akhir! Harusnya aku pemenangnya!!”
“Riri, aku mencari penasehat yang bijaksana. Binatang yang mau mendengarkan semua ucapanku dengan teliti, lalu membantuku memecahkan masalah. Puput Siput telah dengan sangat teliti mendengarkan perintahku sebelum lomba tadi. Aku mengatakan, barangsiapa yang pertama kali sampai di garis akhir di ujung sana pada saat matahari tenggelam nanti, maka dialah pemenangnya. Maka dengan begitu, Puput Siputlah pemenangnya. Kamu selalu terburu-buru, Riri. Aku tidak mungkin memilih penasehat yang selalu terburu-buru mengambil keputusan.” Raja menjelaskan alasannya mengapa Puput Siput yang keluar sebagai pemenang.
Seluruh penghuni hutan pun mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Mereka bersorak kembali untuk kemenangan Puput Siput. Riri Rusa tertunduk lesu dan menyesali kecerobohannya karena selalu terburu-buru.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…