Tuesday, August 23, 2011

3 Pahlawan Laki-laki dan 1 Wanita Mata-mata

Tiga  pedang panjang bersinar putih, mengkilat tajam. Telah siap bersanding membasmi para pengkhianat negeri. Bertiga, kami ditugaskan membuntuti seorang mata-mata dan bila Ia sudah melewati batas, kami diberi hak untuk membunuhnya. Membunuh dengan pedang panjang pemberian Sang Raja. Ya, seorang pengintai licik, lihai, pembunuh, tak loyal dan penjual rahasia Negara. Dasar terkutuk!




“Dia suka minum-minum di kedai itu, selalu duduk di meja bundar,” ucap Abeth.
“Rambutnya panjang selalu digerai dan matanya tajam menohok,” lanjut Bei.
“Tangannya tidak pernah lepas dari cerutu, tapi jari-jarinya tetap putih terawat cantik,” sambung Carly.
“LIhat dia, tatapannya dingin, seharusnya dia menjadi seorang pria bukan  seorang wanita. Otaknya terlihat cerdik, cara dia bersikap begitu pandai bersantun dan terasa tutur bicara bergaris tegas juga lugas,”Bei terus mengamati.

“Dia tidak bergerak,” Carly berkomentar.
“Tunggu, ada seorang lelaki dan seorang perempuan menghampiri mejanya,” pantau Abeth.
“Mereka serius sekali bercakap-cakap. Bei, Coba kau dekati mejanya dan dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan,” suruh Abeth ke Bei.

Bei langsung melangkah ke meja kosong tepat sebelah meja itu. Bei pura-pura memanggil pelayan dan memesan sebuah minuman. Kemudian, Bei duduk santai tapi telinganya terpasang lebar mendengarkan pembicaraan mereka.

“Jadi kapan aku harus melakukannya? Aku sudah persiapkan semuanya. Seharian ini aku menunggu kabar dari kalian. Jika kalian bilang malam ini, aku siap beraksi!” ujar wanita itu pada kedua orang yang ada di hadapannya.

“Kami mau kau melakukannya setelah kami hengkang dari sini. Saat kaki kami sudah berada di luar ruangan ini, kau silahkan melakukan aksimu,” kata pria itu.
“Baiklah. Saya senang mendapat pekerjaan dari kalian,” balas wanita sasaran kami itu sembari tersenyum tipis.
*****

Ini tidak salah lagi. Sudah positif, pikir Bei. Bei segera mengedipkan mata kepada Abeth dan Carly sebagai kode tanda menyerang.

Abeth dan Carly menangkap kedipan dari Bei. Mereka langsung memasang kuda-kuda.
“Aku dari sebelah kiri dan kau dari sebelah kanan,” perintah Abeth pada Carly.

“Siap,” sahut Carly.

Bei hanya menunggu di kursi, menanti perintah Abeth. Bila Abeth mengedipkan mata tiga kali, berarti Bei tinggal menangkap wanita itu. Tapi usaha ini tidak akan mudah, karena wanita itu pintar berkungfu-ria dengan penguasaan sigap berdaya tinggi. Dan gaya kungfu-nya terkenal sekali di dunia hitam dan juga dunia putih. Dia bisa menghabiskan 5  nyawa hanya dalam hitungan menit saja. Luarrr biasa!!

Carly berjaga-jaga memegang pedang di balik jubahnya. Mata Carly begitu mawas memantau gerak setiap senti gerakan wanita itu bergeser. Carly sudah tahu ilmu apa yang akan dikeluarkannya nanti untuk menjatuhkan lawannya itu.

Abeth melihat wanita itu sudah mulai siap beraksi. Abeth langsung memberi tanda tiga kali pada kedua temannya.

Ujung pedang Carly sudah menghujum bahu kanan belakang wanita itu.
“Ciaaaaattt,” teriak Bei dengan tubuh yang sudah berada di atas meja.
Sinar kilauan pedang Abeth bertengger di dagu wanita itu.

Wanita itu terkepung sudah.
*****

“Arggggghhhhh…….Dasarrrr Anak-anak nakal!...,” Rasya histeris.

“Hey, Tante nih lagi sibuk, banyak kerjaan tauuu…,” melotot Rasya pada ketiga bocah-bocah itu sembari mematikan batang rokoknya.

“Huuh..kenapa sih pada suka banget gangguin Tante..” teriak Rasya.

“Pasti kamu Abeth yang jadi biang keroknya,” Rasya menjewer kencang telinga Abeth dengan kesal.

“Ayo Bei-Carly berdiri di samping Abeth,” masih dengan nada tinggi dan Rasya seperti ingin menerkam mereka semua.

“Huu..hiks …hiks..” Abeth mulai meraung nangis kesakitan. Bei dan Carly pun turut menangis mendengar suara lengkingan Tante Rasya.

Tiba-tiba Oma datang dari ruang dapur.

“Rasya…Ya Ampunnnn! Tega banget kamu sih…merekakan cuma anak-anak, Rasyaaa,” Oma mengeleng-gelengkan kepala.

“Merekakan hanya main-main, belum pernah ngerasaiin punya anak sih,” tegur Oma.

“Tapi Ma, Rasyakan lagi sibuk..Kepala Rasya sudah pusing, ditambah kelakuan mereka, semakin kepala rasanya mau pecahhh,” geram Rasya.

“Abeth, Bei dan Carly, Tante Rasya lagi sibuk, jangan diganggu yah! Ayo, minta maaf sama Tante Rasya,” suruh Oma lembut.
“Maafin kami ya Tante..” ucap Abeth, Bei dan Carly sambil sesunggukan.


*****



“Apa misi kita besok?” Tanya Carly.
“Menumbangkan Negara Republik,” tegas Abeth.
“Negara Republik yang sekarang harus dihancurkan. Ini perintah langsung dari para menteri sayap kanan,” sambung Bey.
“Lalu membangun Negara yang baru?” Tanya Carly bingung.

“Iya, seperti wall status teman-temannya Tante Rasya di Facebook, begini bunyinya Mari dirikan NKRI  baru,Jual saja seluruh Indonesia karena kondisi sekarang sudah tak patut dipertahankan, Kebobrokan negeri ini semakin menjadi, Akan jadi apa jika kita tidak membongkar semuanya, Negeri ini sudah porak-poranda, lalu buat apa kita pertahankan?…” Jawab Abeth santai mengikuti kalimat-kalimat di status wall.

“Hebat idemu, Beth” puji Carly.

Dari balik pintu, Rasya secara diam-diam, mendengarkan percakapan mereka.

“Whattt…..Dasarrr anak-anak naka, ngak kapok-kapok, mulai besok aku tidak boleh lupa me-log out akun Facebook-ku,” Rasya tersontak.

“Tunggu, mereka bilang ingin menghancurkan negeri republik? Ouw oh..ini gawat, besok rumah bakalan jadi kapal pecah. Ini harus diadukan ke Jendral..,” gerutu Rasya, apalagi membayangkan rumah yang akan diserbu dan diacak-acak oleh ketiga keponakannya yang nakal-nakal itu.

“Jenderal? Upss, maksudku Mama,” ucap Rasya salah bicara.
"Uuh, lama-kelamaan aku bisa ketularan mereka nih," Rasya langsung memasang pagar pertahanan.