Skip to main content

Cara Kreatif Disiplin Menulis Cerita Panjang


Mari berangkat dari sini : "Saya suka menulis cerita."
Bagi saya pribadi, menulis cerita itu sama seperti berbicara. Hanya bedanya, kalau saya bicara, makin panjang makin membosankan. Beda kalau saya menulis cerita. Makin panjang, justru saya makin suka. Itu juga sebabnya saya lebih suka menulis cerita bersambung dibandingkan cerita pendek.

Beberapa teman merasa kemampuan saya menulis cerita bersambung/panjang itu sebagai sebuah kelebihan. Padahal bagi saya pribadi itu justru sebagai sebuah tirai kamuflase kalau saya merasa kurang cakap dalam menulis cerita pendek. Bukan juga artinya saya mengangkat-angkat kemampuan saya dalam menulis sebuah cerita menjadi panjang. Hanya saja bagi saya justru ruang tak terbatas dalam cerita bersambung memberikan saya lebih banyak kemudahan dibandingkan jika saya menulis sebuah fiksi mini atau flash fiction. Wuaaah, saya sudah coba beberapa kali menulis cerita super pendek, dan itu sangat sulit bagi saya.

Walau begitu, ada saja yang menghalangi untuk bisa sampai ke tujuan akhir atau ke akhir sebuah proyek menulis. Mood adalah yang paling mudah untuk disalahkan.

Beberapa kali saya menulis cerita bersambung atau cerita panjang yang dimaksudkan untuk menjadi sebuah novel, beberapa kali juga saya mengalami kemacetan mengolah ide. Lagi-lagi, mood yang jadi kambing hitam. Sepertinya saya membutuhkan tools/perangkat yang bisa mengikat komitmen menulis saya demi kelancaran proyek tersebut.

Saya teringat ketika Oprah mewawancarai Elizabeth Gilbert (penulis Eat, Love, Pray) beberapa tahun yang lalu. Sebuah mini video diperlihatkan mengenai kegiatan sehari-hari Gilbert setelah ia sukses dengan bukunya yang fenomenal itu dan akhirnya memutuskan untuk memulai sebuah proyek menulis yang baru. Setiap pagi ia sibuk melihat jejeran kartu warna-warni yang disusunnya dalam sebuah kotak sepatu bekas. Kartu-kartu itu berisi potongan-potongan draft yang harus ditulisnya setiap hari. Setiap lembar kartu untuk satu hari. Dengan begitu ia bisa memantau sampai dimana kemajuan proyeknya. Dan yang paling penting, kartu itu 'mengikatnya' untuk harus menulis setiap hari. Saya merasa itu adalah sebuah ide yang cemerlang untuk penulis yang selalu gagal mengatur mood seperti saya. Walaupun tidak menjamin 100% akan berhasil, namun paling tidak ada sebuah alat yang bisa mengawasi kerja kita (menulis) setiap harinya.

Maka saya mulai beraksi ala Gilbert. Langkah awal menentukan tema cerita sudah saya lakukan jauh-jauh hari. Judul sudah saya dapatkan. Selanjutnya saya brainstorming (istilah Indonesia-nya apa ya?). Semua yang ada di kepala saya tentang tema cerita yang akan saya angkat, saya tuliskan dalam sebuah buku bekas yang sudah penuh dengan corat-coret anak saya. Ehm, kertas itu mahal dan memangkas banyak pohon, lho! Hehehe...

Selesai brainstorming (yang ternyata hasilnya banyak sekali!), saya mulai menyusun kerangka. Mulai dari bab per bab. Lalu mengerucut menjadi sub bab per sub bab. Sampai menentukan tokoh lengkap dengan latar belakang dan karakternya masing-masing. Ffuiih, makan waktu juga ternyata. Saya sudah tidak sabar untuk segera membuat flashcards warna-warni itu!

Akhirnya kerangka tulisan sudah selesai, walaupun masih berantakan. And the fun begins! Sambil bersenandung riang dalam hati, "Kuambil kertas selembar, kulipat sama besar...lalalala...," dengan nada lagu "Bermain Layang-layang" itu lho! Hehehehe...

Setiap lembar mewakili setiap bab. Dan setiap bab baru memakai warna yang berbeda. Tralala..voila! Jadi, deh!

Saya tahu, sekali lagi, ini bukan jaminan kesuksesan menulis sebuah novel. Ini hanya sebuah cara kreatif untuk menjaga semangat menulis dan memantau kemajuan proyek menulis kita. Dan bagi saya pribadi, memulai sesuatu dengan hati yang senang biasanya akan berakhir dengan bahagia juga. Kecuali kalau Tuhan berkata lain, ya! Ihik...

Sekedar berbagi saja. Semoga bermanfaat! :)

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…