Friday, August 12, 2011

Cara Kreatif Disiplin Menulis Cerita Panjang


Mari berangkat dari sini : "Saya suka menulis cerita."
Bagi saya pribadi, menulis cerita itu sama seperti berbicara. Hanya bedanya, kalau saya bicara, makin panjang makin membosankan. Beda kalau saya menulis cerita. Makin panjang, justru saya makin suka. Itu juga sebabnya saya lebih suka menulis cerita bersambung dibandingkan cerita pendek.

Beberapa teman merasa kemampuan saya menulis cerita bersambung/panjang itu sebagai sebuah kelebihan. Padahal bagi saya pribadi itu justru sebagai sebuah tirai kamuflase kalau saya merasa kurang cakap dalam menulis cerita pendek. Bukan juga artinya saya mengangkat-angkat kemampuan saya dalam menulis sebuah cerita menjadi panjang. Hanya saja bagi saya justru ruang tak terbatas dalam cerita bersambung memberikan saya lebih banyak kemudahan dibandingkan jika saya menulis sebuah fiksi mini atau flash fiction. Wuaaah, saya sudah coba beberapa kali menulis cerita super pendek, dan itu sangat sulit bagi saya.

Walau begitu, ada saja yang menghalangi untuk bisa sampai ke tujuan akhir atau ke akhir sebuah proyek menulis. Mood adalah yang paling mudah untuk disalahkan.

Beberapa kali saya menulis cerita bersambung atau cerita panjang yang dimaksudkan untuk menjadi sebuah novel, beberapa kali juga saya mengalami kemacetan mengolah ide. Lagi-lagi, mood yang jadi kambing hitam. Sepertinya saya membutuhkan tools/perangkat yang bisa mengikat komitmen menulis saya demi kelancaran proyek tersebut.

Saya teringat ketika Oprah mewawancarai Elizabeth Gilbert (penulis Eat, Love, Pray) beberapa tahun yang lalu. Sebuah mini video diperlihatkan mengenai kegiatan sehari-hari Gilbert setelah ia sukses dengan bukunya yang fenomenal itu dan akhirnya memutuskan untuk memulai sebuah proyek menulis yang baru. Setiap pagi ia sibuk melihat jejeran kartu warna-warni yang disusunnya dalam sebuah kotak sepatu bekas. Kartu-kartu itu berisi potongan-potongan draft yang harus ditulisnya setiap hari. Setiap lembar kartu untuk satu hari. Dengan begitu ia bisa memantau sampai dimana kemajuan proyeknya. Dan yang paling penting, kartu itu 'mengikatnya' untuk harus menulis setiap hari. Saya merasa itu adalah sebuah ide yang cemerlang untuk penulis yang selalu gagal mengatur mood seperti saya. Walaupun tidak menjamin 100% akan berhasil, namun paling tidak ada sebuah alat yang bisa mengawasi kerja kita (menulis) setiap harinya.

Maka saya mulai beraksi ala Gilbert. Langkah awal menentukan tema cerita sudah saya lakukan jauh-jauh hari. Judul sudah saya dapatkan. Selanjutnya saya brainstorming (istilah Indonesia-nya apa ya?). Semua yang ada di kepala saya tentang tema cerita yang akan saya angkat, saya tuliskan dalam sebuah buku bekas yang sudah penuh dengan corat-coret anak saya. Ehm, kertas itu mahal dan memangkas banyak pohon, lho! Hehehe...

Selesai brainstorming (yang ternyata hasilnya banyak sekali!), saya mulai menyusun kerangka. Mulai dari bab per bab. Lalu mengerucut menjadi sub bab per sub bab. Sampai menentukan tokoh lengkap dengan latar belakang dan karakternya masing-masing. Ffuiih, makan waktu juga ternyata. Saya sudah tidak sabar untuk segera membuat flashcards warna-warni itu!

Akhirnya kerangka tulisan sudah selesai, walaupun masih berantakan. And the fun begins! Sambil bersenandung riang dalam hati, "Kuambil kertas selembar, kulipat sama besar...lalalala...," dengan nada lagu "Bermain Layang-layang" itu lho! Hehehehe...

Setiap lembar mewakili setiap bab. Dan setiap bab baru memakai warna yang berbeda. Tralala..voila! Jadi, deh!

Saya tahu, sekali lagi, ini bukan jaminan kesuksesan menulis sebuah novel. Ini hanya sebuah cara kreatif untuk menjaga semangat menulis dan memantau kemajuan proyek menulis kita. Dan bagi saya pribadi, memulai sesuatu dengan hati yang senang biasanya akan berakhir dengan bahagia juga. Kecuali kalau Tuhan berkata lain, ya! Ihik...

Sekedar berbagi saja. Semoga bermanfaat! :)