Monday, August 1, 2011

Della dan Kamboja


Della termenung di depan jendela kamarnya sore itu. Memandang ke arah taman cantik hasil karya sang mama. Pohon kamboja sebagai centerpiece terlihat agak janggal bagi Della. Sampai sekarang Della masih beranggapan bahwa pohon kamboja hanya pantas berada di area pemakaman daripada di halaman rumah. Walaupun Della pun tak pernah menampik bahwa dia sangat menyukai bunga kamboja. Pohon itu sudah ada sejak Della pindah ke rumah itu saat dia berusia 10 tahun. Waktu itu Della tidak tahu kalau pohon kamboja identik dengan pemakaman. Yang ia tahu hanya ia sangat suka menyelipkan kuntum bunga kamboja putih ke balik daun telinganya dan berpura-pura sebagai seorang putri raja.


Della juga masih ingat bagaimana bunga itu menghias cemaranya saat ia tampil membawakan tari Pendet di aula sekolah dasarnya. Cemara panjang yang terpasang di kepalanya terlihat sangat cantik dihiasi dengan kuntum-kuntum bunga kamboja yang dipetik sendiri oleh Mama langsung dari halaman rumahnya. Saat itu Della baru berusia dua belas tahun. Dua tahun dia sudah berlatih tari Pendet kepada ibu Pusparini, tetangga mereka di kompleks perumahan itu. Menurut ibu Puspa, begitu ia akrab disapa, Della sangat berbakat. Tubuhnya elok, gerakannya luwes, senyumnya memikat dan lirikan matanya selalu tampak menggoda.

Della sangat suka berlatih tari tradisional di rumah ibu Puspa. Sampai dia beranjak remaja dia masih berlatih di sana. Walaupun makin kesini Della justru di daulat untuk menjadi asisten Ibu Puspa untuk melatih anak-anak yang lebih kecil darinya. Della sangat bangga dengan jabatan tidak resminya itu. Walaupun tidak mendapat bayaran sepeserpun, namun ibu Puspa membebaskan Della membayar uang iuran bulanan sejak saat itu.

Ingatan Della melayang ke kejadian kemarin di sanggar Ibu Puspa. Della tengah sibuk melatih sekumpulan gadis kecil. Mereka tengah memperhatikan Della memperagakan bagaimana caranya memutar piring di atas tangannya sambil menjentik-jentikkan jari bercincin sehingga menimbulkan suara yang unik dan lincah. Sekuntum bunga kamboja putih menghiasi belakang telinganya seperti biasa. Mata-mata kecil itu tampak takjub melihat kelihaian Della. Della senang sekali melihat antusiasme murid-murid tidak resminya itu. Bagaimanapun Della teringat masa-masa kecilnya bila melihat mereka. Begitu seriusnya Della memperagakan gerakan itu berulang-ulang sampai Della tak sadar ada sepasang mata lain yang tengah memperhatikannya dari sudut ruangan dekat pintu keluar ruang latihan mereka. Tatapan yang sama takjubnya dengan murid-murid Della, namun bukan untuk gerakan-gerakan yang Della tengah peragakan. Mata itu begitu terpaku menatap Della. Seolah Della adalah sosok bidadari yang tengah menari di dalam ruangan itu.

Della selesai memperagakan gerakannya dan seketika murid-muridnya bertepuk tangan senang untuknya. Sebuah suara tepuk tangan tunggal kemudian terdengar saat murid-muridnya telah usai bertepuk tangan untuknya.

Plok! Plok! Plok! Pelan dan terdengar mendekat dari arah belakang Della. Della heran dan segera membalikkan badannya untuk melihat siapa yang bertepuk tangan begitu pelan di belakangnya.

Deg! Pandangan Della langsung tertancap tak tercabut di dalam birunya mata itu. Sesaat Della seperti berada di tengah samudera tak berbatas. Perasaannya mendadak seperti terombang-ambing deburan ombak menatapnya. Della masih bergeming menatap sepasang mata biru itu.

Lelaki bermata biru itu berjalan mendekati Della sambil tersenyum kagum. Ibu Puspa terpekik menyadari kehadiran lelaki itu.

“Ted! What a nice surprise!” sapa Ibu Puspa seraya berlari kecil ke arah lelaki itu. Della hanya bisa termangu-mangu masih menatapnya. Lelaki itu tertawa lepas menyambut Ibu Puspa. Sebuah pelukan hangat dan akrab langsung menghampiri lelaki itu. Ibu Puspa terlihat sangat rindu dan tak kuasa menghilangkannya hanya dengan sebuah pelukan. Sebuah kecupan kecil mendarat di pipi lelaki bermata biru itu. Della kemudian hanya bisa terlongo melihatnya. Terdengar suara cekikikan dari murid-muridnya melihat adegan itu. Mereka sepertinya merasa geli melihat adegan yang tidak biasa mereka lihat tengah terjadi di depan mata mereka. Ibu Puspa, guru tari yang mereka segani mencium pipi seorang lelaki asing berambut merah.

Yesterday, my dear,” jawabnya sesaat setelah Ibu Puspa melepaskan pelukan eratnya dari tubuh tinggi semampainya. Ibu Puspa yang langsing dan tinggi pun tampak kecil berdiri di dekatnya. Lelaki bernama Ted itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Della.

And, who is this young talented student of you?” tanyanya masih kepada Ibu Puspa. Pandangannya masih tak lepas dari wajah Della. Seketika Della merasakan hawa panas menjalari seluruh wajahnya. Della sangat yakin saat ini wajahnya sudah berubah warna menjadi semerah kepiting rebus. Entah mengapa, Della pun tak mengerti.

“Oh, she’s my assistant now. And yes, she’s very talented, Ted” jawab Ibu Puspa sambil menatap bangga kepada Della.

“Della, kenalkan, ini tunangan saya, Ted. Dari Australia. Ted, this is Della,” Ibu Puspa memperkenalkan mereka berdua sambil tangannya tak lepas menggenggam tangan Ted.

Della kembali terlongo. Tunangan? Ibu Puspa punya tunangan orang Australia dan usianya tampak jauh di bawah Ibu Puspa. Seketika Della merasa malu sempat mempunyai perasaan suka kepada Ted, walaupun hanya berlangsung beberapa menit saja.

Della melemparkan senyumnya kepada Ted dan mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan. Ted menyambutnya dan tidak disangkanya tangan Ted meraih bunga kamboja yang terselip di belakang telinga Della.

Nice flower. And smells good too…” ucapnya sambil menghirup kuntum bunga kamboja itu. Della hanya tersenyum kikuk lalu cepat-cepat berpamitan pulang kepada mereka.

Della menghela nafas sambil termangu di depan jendela kamarnya sore itu.

“Duh, kamboja…cukup sekian kisah cintaku dengannya…”ujarnya dalam hati sambil meringis menyadari kalimatnya yang terdengar bodoh. Kisah cinta apa?