Skip to main content

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (9)

'Hohoho.. ini berita bagus!' Kasenda tersenyum senang dalam hatinya, 'Aku bisa memanfaatkan mereka untuk mencari tau siapa yang telah mencuri boot-ku!' Kasenda membuka mulut hendak berkata namun perhatian mereka teralihkan oleh terbukanya pintu kayu yang berada tak jauh dari mereka.

"Yuhuu, kami pulang, dan lihat apa yang berhasil kami ba.." Kalimat itu menggantung di udara karena keempat kurcaci yang baru masuk ke dalam ruangan mematung ketika melihat Kasenda, "Bagaimana dia bisa sampai ke sini?"

"Ohh.. ohh, apa yang harus kita lakukan?!"

"Ayoo.. cepat sembunyikan!", "Jangan sampai dia melihatnya!" Keempat kurcaci itu berbisik panik sambil berusaha menyembunyikan boot yang mereka gotong bersama-sama.

"Boot-ku!" Kasenda berteriak dan berlari ke arah keempat kurcaci yang saking terkejutnya jadi lupa lari. Namun keenam kurcaci berbaju hitam pulih lebih dulu dan walau belum sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, mereka segera bangkit dan menangkap Kasenda.

Empat kurcaci berbaju hitam memegangi Kasenda yang meronta sementara dua lainnya kembali menghunuskan tongkat batang cemara ke dada Kasenda, "Nah, sekarang, katakan siapa kamu sebenarnya. Kali ini tanpa kebohongan, atau.." Tongkat itu beralih ke bagian leher dan ujung tongkat tajam itu terasa menusuk di pangkal leher Kasenda yang menelan ludah merasakan ketajamannya.

Kasenda menggerutu di dalam hatinya, menyebalkan sangat! Mengapa lagi-lagi dia mengalami kesialan semacam ini.

Tiba-tiba saja dia berteriak, "Dorfii!"

Para kurcaci itu terkejut, bahkan tongkat cemara yang mereka acungkan ke lehernya terlepas dari jari-jari tangan yang gemetaran. Tanpa membuang-buang kesempan baik itu Kasenda melepaskan diri, dengan cepat matanya menemukan boot merah jambu, menyambar boot itu lalu menuju pintu kayu yg masih terbuka, arghhhh!!! Kasenda berteriak nyaris putus asa, pintu kayu itu sempit sekali ukurannya untuk tubuhnya, ia hampiiir saja putus asa dan berbalik, saat menyadari satu hal ajaib, ketika ia tiba di ambang pintu, maka pintu itu dengan sendirinya membesar dan Kasenda pun berlari keluar!

Kasenda berlari, dan berlari dan terus berlari ke manapun kakinya melangkah dan tidak menoleh ke belakang. Para kurcaci yang telah pulih dari keterkejutan mereka hanya bisa berteriak marah ketika menyadari lagi-lagi mereka terpedaya oleh Kasenda yang memakai nama Dorfii. Baru sekarang mereka ingat bahwa Kasenda tidak mungkin bisa mengenali Dorfii andai bertemu muka sekalipun karena hanya kaum kurcaci yang bisa mengenali wajah pemimpin mereka. Tapi mereka telah kehilangan semangat mengejar Kasenda, terlebih ketika melihat keluar mereka sudah tidak menemukan jejak Kasenda di manapun.

"Sudahlah, biarkan saja dia berlari ke dalam hutan, paling dia akan menangis ketakutan ketika malam tiba." Dan mereka semua berdempet-dempetan kembali duduk mengelilingi bola kristal.

Kasenda yang menyadari dirinya tidak dikejar, mulai mengurangi kecepatannya namun demi berjaga-jaga Kasenda memutuskan untuk beristirahat di tempat yang tersembunyi. Dipilihnya pohon yang memiliki banyak cabang dan berdaun rimbun. Hupp hupp.. Kasenda memanjat pohon itu dengan lincah, ekornya kali ini amat membantu dengan sesekali mengait dengan erat di dahan sementara Kasenda mengangkat bobot tubuhnya.

Setelah memastikan dirinya tidak terlihat dari bawah, Kasenda pun duduk dan mengambil boot-nya dan mengenakannya, "Ahh, boot-ku tersayang, akhirnya kamu kembali kepadaku!" Kasenda mengelus boot-nya, "Ughh.. lihat apa yang telah mereka lakukan kepadamu!" Kasenda bersungut-sungut sambil membersihkan bercak kehitaman di ujung boot-nya, "Apa jadinya dengan dunia ini, mereka yang mencuri boot-ku, kenapa juga aku yang harus berlari dari kejaran mereka?! Dan ohh!! Mereka merusak bulu-bulumu!" Dengan gusar Kasenda mencabut salah satu bulu elang yang patah dan meniupnya sambil menatapnya jatuh melayang-layang, "Bukan petualangan macam ini yang kuinginkan. Aku ingin berada bersama Twittwit." Kasenda merasakan sensasi perasaan yang aneh dalam perutnya dan dalam satu kepulan asap merah jambu, Kasenda pun menghilang dari tempatnya berada.

Bersambung ;)


Petualangan Kasenda dan Twittwit 1 s/d 9 dapat dibaca di: SINI

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…