Tuesday, August 2, 2011

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 10: Priyo Pamit (3)

Melalui jendela kamarnya, dari balik vitrage putih berhias sulaman burung merak kecil-kecil, Eyang mengamati polah tingkah Iroh dan cucunya. Persis di depan pagar terparkir mobil pick-up penuh galon air. Seorang lelaki muda siap mengangkat empat galon yang baru saja ia turunkan.

Eyang sempat mendengar kelakar Dea dan Iroh tentang lelaki muda itu. Menurut sepasang matanya yang masih sehat meskipun sudah bertugas lebih dari 60 tahun mengamati dunia, sosok lelaki muda itu sama sekali tak terlihat menarik. Rambut lurusnya yang berponi membuatnya feminin. Sepasang kaki kurusnya terbalut jeans ketat yang dibiarkan berlipat-lipat di bagian bawah karena kepanjangan. Ujung atasnya sangat jauh dari pinggang, hanya menempel beberapa senti saja di atas tulang kemaluannya. Bisa-bisa melorot kalau ikat pinggangnya tak cukup kencang.

“Celana panjang yang aneh,” pikir Eyang, sambil melangkah keluar kamar. “Ini bukan lagi jaman ketika lelaki berpakaian seperti lelaki dan perempuan berpakaian seperti perempuan. Ini jaman yang semua jenis pakaian lazim dikenakan oleh lelaki dan perempuan. Bahkan dari belakang, mereka sering sulit dibedakan…”

“Eyang, mau nyuwun uang untuk bayar air galon,” wajah Iroh lebih bersinar dari matahari yang menerobos masuk lewat gordin hijau ruang tengah.

“Mas Priyo sudah kamu buatkan sarapan?”

“Sarapan?”

“Iya. Sarapan… bukannya tiap pagi kamu siapkan sarapan untuk Mas Priyo…”

Tatapan Iroh pada majikannya mengandung pertanyaan. Selama 13 hari Eyang tidak pernah memintanya menyiapkan sarapan untuk Priyo. Namun pagi ini secara khusus Eyang menanyakan. Sejak habis subuh tadi, meskipun langit cerah oleh siraman cahaya fajar, wajah Eyang tersaput mendung.

“Masih ada nasi liwet, Eyang. Tapi telurnya habis, apa saya buatkan dadar iris?”

“Gimana, to… kok bisa habis! Bikinkan telur dadar. Ngirisnya yang rapi, jangan kayak habis dithotholi pitik…”

Tanpa sepatah kata Iroh berkelebat ke dapur. Ia menekan rasa kecewanya karena tidak bisa segera berkenalan dengan si pengantar galon air. Namun di dalam hatinya ada rasa senang yang memaksa bibirnya mengukir senyuman. Menyiapkan sarapan khusus untuk Mas Priyo membuatnya merasa penting dan dibutuhkan. Ia ingin membuat lelaki yang segera ia keluarkan dari mimpinya itu terkesan oleh sarapan terakhirnya di rumah yang telah lebih dari empat tahun ia huni.

“Ini…” tahu-tahu Eyang sudah berada di dekatnya mengangsurkan dua butir telur yang dingin karena baru diambil dari kulkas. Iroh menerimanya, mulutnya masih bungkam. Matanya sesekali melirik ke ruang makan, menunggu sosok mirip Ryan D’masiv muncul membawa galon. Ada empat galon, sorak Iroh dalam hati, si mirip Ryan akan bolak-balik empat kali.

“Ayo…!” Eyang tidak sabar. Iroh bekerja lambat sekali pagi ini.

“Iya, Eyang. Saya harus membayar air galon…” Iroh meletakkan mangkuk berisi telur yang belum ia kocok, berbalik menemui si pengantar galon yang baru saja meletakkan galon ke empat di ruang makan.

“Mas… ini uangnya… kok belum pernah ke sini… baru ya?”

“Iya, Mbak.”

“Namanya?”

“Dudi.”

“Saya Iroh.” Rasanya ingin sekali Iroh menanyakan nomer ponsel lelaki itu. Namun sebagai perempuan ia merasa perlu ja-im; begitu kata Non Dea yang selalu ia ingat.

Dudi mengangguk sopan, menerima uang, memasukkannya ke saku baju seragamnya, membopong empat galon kosong sekaligus lalu melangkah keluar, “Sebentar, ya, Mbak, kembaliannya…”

“Iroooh…” Suara Eyang meninggi.

Tergopoh-gopoh Iroh kembali ke dapur. Dudi, nama yang manis seperti orangnya, bisik Iroh dalam hati. Sebentuk senyum kembali menghiasi wajahnya.

“Iroooh…” Eyang menata piring di meja makan. “Cepet. Non Dea bisa telat kalau Mas Priyo telat sarapan.”

Oh. Beberapa pertanyaan tambahan menelusup ke benak Iroh. Biasanya Priyo sarapan sehabis mengantar Non Dea, bukan sebelumnya. Namun ia mengunci bibirnya, tidak ingin bertanya.

***

“Roh…” Eyang yang mematung di kursi makan sejak Priyo keluar mengantar Dea akhirnya bersuara. Iroh hampir saja menelpon Nyonya Runi, khawatir kalau Eyang sakit.

“Iya, Eyang. Apa Eyang gerah?” Iroh menyandarkan sapu ke dinding kamar mandi, menghampiri sang majikan.

“Atiku kok nggak enak, ya…”

“Oh?”

“Rasanya berat melepas Priyo…” Eyang menghela nafas panjang. Kulit tangannya yang lembab dan terawat meskipun mulai berkeriput terlihat pucat. Kalau dipegang, pasti telapaknya dingin, pikir Iroh yang sudah sering memijat tangan yang telapaknya halus itu. “Walaupun baru dua minggu, rasanya sudah lama sekali. Sudah seperti keluarga. Seperti anakku sendiri.” Eyang bergumam.

“Ya, Eyang…” Tak ada kata lain yang bisa diucapkan Iroh selain mengiyakan.

“Kenapa, ya… semua lelaki di rumah ini cepat pergi… mereka seperti tidak kerasan…” Ada desiran dingin menyertai suara Eyang yang tersendat.

Iroh mengamati lantai ruang makan yang belum sempat ia sapu. Lidahnya kelu.

“Ah… sudahlah… mungkin ini memang sudah jalanku.” Helaan nafas panjang membuat pundak perempuan itu bergerak naik dan terhempas turun saat nafas itu cepat-cepat dibuang.

“Eyang…” Iroh memberanikan diri, “Saya juga suka sama Mas Priyo. Orangnya ganteng, baik, sopan. Saya juga sedih karena Mas Priyo pamit. Eyang tidak sendirian…”

Kaget Eyang menoleh memandang pembantunya yang sudah menjadi bagian keluarganya itu. Dari mana Iroh bisa bicara seperti itu, bahwa dirinya tidak sendirian? Rupanya kegemaran Iroh membaca dan berdiskusi dengan anak dan cucunya telah meningkatkan kecerdasan emosinya.

“Kamu benar, Roh. Kita tidak sendirian. Tidak pernah sendirian.” Kini helaan nafas Eyang terasa lembut dan pelan, pertanda ia sudah mampu menguasai perasaannya. “Amplop untuk Mas Priyo sudah kamu serahkan?”

“Sudah, Eyang…. Anuuu… Emmm… isinya diberikan ke saya. Semua…”

“Haaa? Waaah… pantas saja, kamu senyum-senyum sendiri dari tadi…!”

Meskipun sedang gundah rupanya tak ada hal yang bisa lepas dari perhatian Eyang.

***


Keterangan:
Nyuwun = minta
Dithotholi pitik = dipatuki ayam
Gerah = sakit