Sunday, August 14, 2011

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 11: Mobil Bercat Hitam

Sinar keemasan telah menerobos masuk garasi melalui lubang angin di dinding sebelah barat, pertanda senja telah menampakkan diri. Sekilas berkas-berkas sinar itu serupa kelambu tipis yang berkilau, menaungi sebuah mobil hitam yang sudah beberapa hari tidak dikendarai.

“Mobil yang usianya lebih tua dari Dea, cucuku yang tertua,” batin Eyang, memandangi mobil terakhir yang dibeli suaminya tahun 1985. Salah satu peninggalan kakek Dea itu baginya bernilai jauh lebih tinggi dari harganya. Suaminya dulu merawat mobil itu dengan sangat hati-hati, hingga meninggalnya. Kini, meskipun usianya sudah mencapai seperempat abad, orang yang melihatnya masih memuji penampilannya meskipun satu-dua bagian yang tidak vital sudah rusak.

Menurut Eyang, tak ada sedan keluaran baru yang mampu mengalahkan kenyamanan joknya yang dirancang dengan sempurna itu; sangat nyaman diduduki untuk dikendarai di dalam kota, apalagi untuk perjalanan jauh.

Dengan lembut tangan Eyang terulur menyentuh kap mesin, cat hitamnya mengkilat, memantulkan sinar matahari ke lensa kaca matanya. Beragam peristiwa seolah kembali dilihatnya. Muncul keinginan kuat untuk mengendarai lagi mobil 2000 cc itu, seperti ketika kedua kakinya masih mampu menahan kopling yang injakannya mantap.

“Bu…” Rendah suara Seruni menyapa ibunya. “Sedang bernostalgia?” Seruni bersandar ke pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan garasi. Matanya mengawasi gerak-gerik sang bunda.

Perempuan yang sejak usia empat puluhan telah membiarkan rambut peraknya menghiasi kepala mungilnya itu hanya tertawa pelan. Bukan kali pertama si anak sulung itu memergokinya sedang memandangi mobil di garasi. Kadang-kadang ia melakukannya pagi hari, bahkan menjelang tidur sesekali ia meluangkan waktu menengok mobil yang jarang dikendarai oleh Seruni itu.
Ada rasa tenteram menghangatkan hati Eyang setiap kali ia berduaan saja bersama mobilnya. Sang suami yang belum genap seribu hari meninggalkannya pun serasa hadir di situ, sedang sibuk memoles body-nya dan membersihkan interiornya.

“Ibu mau kuantar jalan-jalan?”

“Ah… kamu mana mau…” Eyang membuka pintu kanan depan, badannya membungkuk untuk masuk dan duduk di belakang kemudi. Segurat senyum membuat sepasang matanya memancarkan cahaya. Pelan-pelan tangannya memutar handel pembuka jendela, sudah dua tahun power-window-nya tak lagi berfungsi.

“Kalau saja kakiku masih sehat dan kuat,” ucap Eyang tanpa terkesan sedang mengeluh.

“Ibu mau kuantar keluar?” Suara Runi meninggi, meyakinkan ibunya kalau ia bersedia mengendarai mobil itu. Bagi Runi, mobil manual itu koplingnya terlalu berat. Bila lalu lintas macet, betisnya jadi sangat pegal.

Sepuluh menit kemudian, Iroh membuka gerbang, disusul Dea mengeluarkan mobil mungil ibunya agar si hitam mengkilat bisa keluar.

“Kami nggak lama! Sebelum maghrib udah pulang!” Sambil mengendarai mobil keluar halaman Runi berteriak pada anaknya.

Eyang duduk bersilang kaki, seperti biasa, punggungnya tersandar nyaman. “Kamu mau masuk ke kampus itu?” Pertanyaan Eyang lebih terdengar sebagai permintaan. Tak jauh dari rumah Runi ada kampus perguruan tinggi swasta. Sore-sore selepas pukul lima biasanya kampus sudah agak sepi.

“Ibu mau apa di sana?”

“Ibu pengin nyetir sebentar…” rasa malu membuat suara Eyang tertelan. Runi terbahak. Bahunya berguncang-guncang.

“Dulu waktu seusia kamu Ibu kemana-mana juga sendiri. Lihat saja 25 tahun lagi.”

“Lho? Kok Ibu bilang begitu… Ibu mau kakiku bermasalah juga kalau tua?”

“Bukaaan… bukan begitu…” Tangan Eyang terulur menepuk pelan paha Runi. “Ibu selalu berdoa agar kalian bertiga lebih sehat dan lebih bahagia, lebih sejahtera, lebih segala-galanya.”

“Ya… suamiku meninggal lebih muda dan lebih dulu dari Bapak…” Runi mengucapkan kata ‘lebih’ dengan tekanan kuat.

“Runi…”

“Maaf, Bu. Tadi banyak yang nggak beres di kantor.”

“Mestinya kamu istirahat, bukan ngajak Ibu jalan-jalan.”

“Sudah beberapa hari Ibu nggak keluar dengan mobil ini. Aku pengin nyenengin Ibu.” Runi menoleh ke kiri sebentar, menyajikan senyum untuk ibunya. Senyum tanda sayang yang tak bisa diwakili oleh kata-kata. Sejak Priyo pamit, mobil itu tidak keluar dari garasi. Runi hanya menyalakan mesin beberapa menit saja tiap pagi.

“Apa kita perlu cari pengganti Priyo?” Suara Eyang bergetar. Terbayang wajah tampan sang pemuda beserta ayahnya yang pernah ia impikan bisa menggantikan suami Runi. “Tapi Dea bilang nggak perlu. Dia lebih suka naik bis atau kamu jemput kalau ada kegiatan sampai sore. Ibu juga mau hemat. Sekarang apa-apa mahal. Jangan sampai kita ikut-ikutan membakar uang… ”

Runi bisa merasakan ada sesuatu tersirat di dalam kata-kata Eyang. Perempuan yang selalu mendampinginya sejak ia menjadi janda itu terbiasa menyiratkan niat atau rencananya lama sebelum ia mengatakan atau melakukannya.

Beberapa kali ia pernah berpikir untuk menjual mobil kelangenan suaminya. Namun selain harganya tak seberapa, perempuan berambut ikal sebahu itu tak ingin melepaskan kenangan yang terukir di seluruh badan mobil itu. Setiap kali duduk di dalamnya, tak peduli siapa yang mengendarai, ia merasa lebih dekat dengan sang suami. Ketika ia menceritakan hal itu pada teman-temannya, semua mengatakan kalau ruh suaminya memang masih berada di dalamnya.

“Mungkin setelah seribu hari Pak Sukaji baru benar-benar pergi, Mbakyu,” ujar salah satu sahabatnya. Ia hanya tertawa, menganggap omongan teman-temannya sebagai gurauan. Baginya, ruh sang suami telah menghadap Sang Pencipta begitu nyawanya meninggalkan raganya.

“Nih… udah sampai gerbang kampus.”

Runi mendengar suara nafas terbuang dari rongga dada ibunya. “Di sana… yaaa… di situ… berhenti. Ya.” Eyang mengacungkan tangannya, menunjuk pada plaza kampus yang sepi.

“Beneran?”

Senyum terkembang di wajah Eyang. Deretan gigi yang terawat dan masih utuh membuat senyuman itu bagai perhiasan yang mempercantik wajahnya. Tanpa bicara, Eyang membuka pintu begitu mobil berhenti.

“Beneran, nih?” Runi ikut keluar. Tawanya pasti sangat kencang karena tiga mahasiswa yang sedang nongkrong di kursi taman menoleh ke arah mereka. Runi mengitari mobil, duduk di kursi kiri depan. Pelan-pelan ibunya masuk, seakan takut kalau gerakannya akan melukai mobil itu.

Take your time. I’m not going anywhere…” Runi menggoda ibunya yang sibuk mengatur-atur posisi jok. Beberapa kali terdengar helaan nafas panjang yang dilepaskan cepat-cepat lewat mulut.

“Sudah dua tahun lebih…” Eyang bergumam. Runi jadi ingat peristiwa pagi itu, beberapa minggu setelah sang ayah meninggal, ibunya yang sedang demam terjatuh di kamar mandi, menyebabkan cedera tulang lutut kanan. Karena usianya, lutut itu tak bisa pulih lagi. Meskipun tidak terlalu nyeri untuk berjalan, namun sejak itu ia tak lagi berani mengendarai mobil. Anak-anak pun semua melarangnya.

“Ibu udah nyetir lebih dari tiga puluh tahun, berhentinya belum lama. Insya allah tidak apa-apa.” Runi memandang ibunya dari samping. Memberi semangat. “Apalagi jalan sepi,” Runi menengok ke kanan dan ke belakang. Terlihat hanya ada satu-dua mobil dan motor menuju arah berlawanan, di jalur lain yang dipisahkan kanstin tebal.

“Bismillaaah…” Mesin dihidupkan. Mantap kaki kiri Eyang menginjak kopling, tangan kirinya memindah gigi. Hati-hati kaki kanan menekan pedal gas. Si hitam yang menyimpan ribuan kenangan itu maju pelan-pelan.

Senyum di bibir Eyang terkembang makin lebar. Tangan kirinya kembali memindah gigi, kaki kanannya menekan pedal gas lebih dalam lagi. Gigi dipindah untuk ketiga kali dan si hitam melaju dengan kecepatan sedang.

Kilau yang terpancar dari wajah Eyang mengalahkan sinar matahari yang samar-samar mengintip di sela pohonan di kiri-kanan jalan. Tawanya berderai, menebarkan kebahagian. Melihat ibunya begitu gembira, hati Runi mendendangkan nyanyian. Kebahagiaan itu ada dimana-mana, juga di dalam sebuah mobil tua bercat hitam.

***