Skip to main content

Empat Perempuan

Dea oleh Azam Raharjo
Episode 12: Nama Saya Kar

Runi segera mematikan kompor saat ia dengar deringan telpon. Rumah bagai tak berpenghuni Minggu pagi itu. Iroh sedang menengok adik-adiknya di desanya. Dari kamar Dea yang biasanya gaduh tak terdengar suara karena anak itu sedang mengantar Eyang belanja. Cepat-cepat Runi meraih serbet, membersihkan tangan, lalu berlari ke ruang tengah.

“Selamat pagi. Nama saya Kar.” Suara lelaki dewasa menyapa di seberang sana.

“Selamat pagi,” balas Runi. Kar. Nama itu melekat di kepalanya sejak peristiwa malam itu; ketika sepulang sekolah Dea bersembunyi di makam ayahnya hingga malam untuk menenteramkan hatinya.

“Saya teman les gitar Dea, Bu.” Di telinga Runi suara pemuda itu jauh lebih dewasa dibanding usianya yang menurut Dea baru 18 tahun.
“Ya, saya ingat.”

“Bisa bicara dengan Dea, Bu?”

“Dea sedang keluar. Ada pesan?”

“Tidak, Bu. Nanti saya telpon lagi. Kalau boleh tahu, kira-kira Dea pulang jam berapa?”

“Dua jam lagi. Kenapa tidak hubungi HP-nya?”
 
“Sudah, Bu. Tapi tidak diangkat. Nanti saya akan telpon lagi. Terima kasih, Bu.”

Runi menggenggam handset sambil berpikir, jangan-jangan Dea sengaja menghindar. Sejak peristiwa itu Runi tak mendengar lagi Dea membicarakan pemuda yang mempesona hati remajanya itu. Dea juga memindah jadwal latihan. Runi tidak bertanya, dari sikap Dea ia menyimpulkan kalau anaknya tidak mau bertemu dengan pemuda itu.

Runi ingat saat dirinya seusia Dea. Semua begitu sederhana. Cinta datang dan pergi tak beda dengan kuntum bunga. Hari ini kuncup, lusa mekar merona dan beberapa hari kemudian kelopaknya layu, kering lalu berjatuhan. Tak lama, tumbuh kuncup-kuncup baru di ujung tangkai-tangkai muda. Ia yakin Dea tidak menyesali kuncup cintanya yang kering sebelum mekar.

Sambil merenung perempuan yang memasak untuk relaksasi itu kembali menyalakan kompor. Ada beberapa potong rolade tahu yang masih perlu digoreng. Handset telepon portable ia taruh di atas meja makan agar mudah dijangkau kalau nanti ada telpon lagi; entah dari siapa.

***

“Tadi ada telpon. Dari Kar.” Runi menatap langsung mata anaknya. Ia ingin melihat reaksi sekecil apapun. Mata yang mengerjap cepat. Cuping hidung yang mengembang. Otot-otot wajah yang menegang. Bibir yang terkatup. Apa saja yang bisa membantunya membaca isi hati anaknya.

“Apa katanya?” Suara Dea biasa-biasa saja. Tak ada wajah tegang. Tak ada cuping hidung mengembang. Bibirnya pun terkatup sempurna.

“Katanya mau telpon lagi. Katanya udah telpon HP-mu juga,” jelas Runi. Tergesa ia membantu ibunya mengangkat belanjaan dari bagasi. Mendengar nama Kar disebut, Eyang berganti-ganti menatap anak dan cucunya. Runi berlagak tak peduli meski hatinya bertanya-tanya. Ia tak ingin lelaki yang dari suaranya seperti telah berusia duapuluhan itu menjadi sebab anaknya bersedih lagi. Meskipun tidak memanjakan anak semata wayangnya Runi akan berbuat apa saja untuk melindunginya.

“HP Dea habis baterenya.” Remaja itu berbohong. Tadi Kar menelpon empat kali ke HP-nya. Dea memang tidak mau menerima telpon itu. Ia ingin melupakan lelaki yang pacarnya cantik sekali dan piawai main gitar itu. Suatu saat akan ada lelaki yang tepat untukku, pikir Dea, masih teramat dini untuk menautkan hati pada seorang lelaki, hanya akan rugi sendiri. Hati yang muda itu serupa tanah gembur penuh hara, berbagai jenis biji yang ditabur di atasnya akan tumbuh sempurna, asal tahu cara menyemainya.

Telpon berdering saat Dea dan Runi sedang memilah-milah belanjaan. “Itu pasti Kar!” Runi berseru bukan karena senang, namun karena khawatir.

“Halah, Mama! Ngagetin aja!” Protes Dea. Dengan wajah tanpa semangat ia pandangi saja telpon yang tergeletak di meja makan. Runi terpaksa meraihnya.

“Halo.”

“Selamat siang. Nama saya Kar.”

“Oh. Kar… mau bicara sama Dea? Anaknya udah datang. Sebentar…” Runi menyodorkan handset ke anaknya yang sibuk memasuk-masukkan sayur ke dalam kulkas. “Dea. Ini Kar.”

Remaja itu menghela nafas panjang, melangkah enggan, meraih handset dari tangan mamanya. “Hai Kar. Apa kabar?” Ringan suara Dea.

“Baik. Adikku apa kabar? Lama banget nggak ketemu. Pindah jadwal, ya?”

“Yup! Tabrakan ama kegiatan sekolah.” Dea berbohong lagi. “Ada apa, nih?”

“Aku nelpon HP tadi, tapi…”

“Baterenya habis!” sambar Dea.

“Begini,” Kar menjelaskan maksudnya. Minggu depan pacarnya akan pentas di Jogja bersama teman-teman kampusnya. Sang pacar itu akan memerlukan gitar akustik dan listrik. Kar ingin meminjam gitar listrik supaya pacarnya tidak perlu menenteng dua gitar dari Surabaya.

“Wah. Gitar listriknya lagi rusak.” Dea berbohong untuk kesekian kalinya.

“Apanya yang rusak?”

“Tauk!”

“Mungkin bisa saya benerin?”

“Udah kadung dimasukin Staccato.” Kebohongan Dea kali ini menyertakan nama sebuah toko alat-alat musik. “Pinjem temen lain aja. Banyak tuh yang punya.”

Dea tampak sangat lega saat Kar menyudahi perbincangan. Matanya melirik mamanya. “Mama kan kadang bohong juga kalau ngadepin masalah kayak gitu. Lagian dia juga nggak tahu kalau dibohongin,” sungut Dea sambil melipati tas-tas kresek.

“Setiap kita berbohong, sebenarnya kita membohongi diri sendiri kecuali kalau orang yang kita bohongi tahu kita bohong,” ucap Runi lembut. Runi mengerti Dea sakit hati meskipun tidak ada yang sengaja menyakitinya. “Kar nggak berbuat salah, kan? Dia nggak tahu kalau kamu suka…” Hati-hati Runi mengeluarkan pendapatnya.

“Bukan soal itu,” gadis itu menyela ibunya, mengumpulkan tas kresek yang semua sudah terlipat rapi, siap dimasukkan laci. “Dea nggak mau bantuin dia. Nggak mau bantuin ceweknya.” Suara Dea meninggi.

Runi tak ingin Dea membiasakan diri memelihara rasa marah. Pengalaman hidupnya mengajarkan, rasa marah itu harus dilepas pelan-pelan dan hati-hati, begitu ia keluar jangan diingat lagi. “Jangan marah…”

“Dea nggak marah.” Wajah remaja itu menegang. “Pokoknya Dea nggak mau minjemin gitar.”

Cara Dea mengucapkan kata ‘pokoknya’ mengingatkan Runi akan dirinya sendiri. Bila ia sudah mengucapkan kata itu, ibunya tak mau membantah lagi. Dea memakai jurus yang sama untuk membuat diam sang mama.

“Oke. Nggak masalah. Mama bisa ngerti,” ucap Runi untuk mengakhiri. Senyum terima kasih mengendurkan wajah Dea, senang karena merasa diterima. Gadis itu mendaratkan ciuman ringan ke pipi Runi lalu berlari masuk ke kamarnya. Siapa bilang menjadi ibu itu gampang, tanya Runi dalam hati. Perempuan itu mencoba menertawai diri karena sebagai janda ia sekaligus menjadi ayah bagi anaknya.

Meskipun mendengarkan, Eyang tidak ikut-ikutan. Ia sibuk mengangkat cucian dari jemuran, melipatnya dengan rapi, lalu menumpuknya dalam keranjang rotan. Eyang tahu kapan harus ikut bicara dan kapan sebaiknya diam.

Telpon berdering lagi. Sebelum meraih handset, dalam hati Runi berdoa agar ia tidak mendengar kalimat ‘nama saya Kar’ untuk ketiga kalinya, yang selanjutnya hanya akan membuat Dea berbohong entah untuk yang keberapa kali.

***

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…