Skip to main content

Empat Perempuan

Runi oleh Azam Raharjo
 Episode 13: Soulmate


“Siapa, Roh?” Eyang mengulurkan leher.

“Tukang pos. Ada kiriman untuk Nyonya,” Iroh mengangsurkan sebuah bungkusan coklat seukuran buku.

Eyang membaca alamat pengirimnya. “Dari Kuala Lumpur,” gumam Eyang mengamati bungkusan itu.

“Di sana banyak TKW, ya?” Iroh menatap majikannya.

“Ya. Di sana banyak TKI. Yang wanita disebut TKW.”

“Yang laki-laki TKL?” sahut Iroh sok tahu.

Eyang terbahak. Ia pun heran mengapa tak ada istilah TKL atau TKP untuk lelaki Indonesia yang bekerja di luar negeri.

“Itu pasti isinya buku. Saya tahu…” Mata Iroh mengikuti tangan Eyang yang meletakkan paket itu di atas meja kerja Runi, di sudut ruang tengah. Dari balik kaca matanya, Eyang menatap Iroh terheran-heran. “Nyonya kan sering terima paket dari Kuala Lumpur. Ukurannya segitu itu. Nama pengirimnya sama. Isinya selaluuu… buku.” Bibir Iroh melengkung ke bawah seolah menyepelekan. “Mbok sekali-kali ngirim yang lain, gitu…”

“Husss! Bukan urusanmu!” Eyang mengibaskan tangan, dahinya berkerut tanda kurang suka. “Buat Nyonya Runi buku lebih berharga dari barang lainnya.”

“Itu juga yang dibilang Nyonya,” cetus Iroh melenggang ke belakang.

Sepeninggal Iroh, ibunda Runi baru menyadari kalau anaknya memang sering menerima paket dari Kuala Lumpur. Nama pengirimnya selalu sama. Ditilik dari namanya itu, si pengirim pasti lelaki dan Eyang menduga ia berasal entah dari Eropa atau Amerika atau Australia.

Eyang jarang sekali menanyakan tentang teman-teman kerja Runi di luar negeri. Ia hanya mengenal beberapa sahabat Runi semasa kuliah di Melbourne, 13 tahun lalu, saat Dea masih balita. Hingga kini mereka tetap bersahabat dan sering berkunjung ke rumah bila kebetulan ada keperluan di Indonesia. Namun nama yang tertera di paket itu bukan salah satu dari nama mereka.

“Roh, kamu ingat sudah berapa kali Nyonya menerima paket seperti tadi?” Eyang berjalan ke belakang.

“Sepuluh kali… atau lebih, ya…” Iroh mencoba mengingat-ingat, tanpa menoleh, sibuk mengurai gulungan selang untuk menyiram tanaman. Iroh gemar berkebun. Halaman samping yang hanya sedikit lebih luas dari garasi itu ia sulap menjadi kebun mini. Setiap sore Iroh meluangkan waktu menyirami tanaman-tanamannya dan mencabuti rumput liar.

Eyang kembali ke ruang tengah. Berdiri di depan meja kerja Runi. Mengamati bungkusan itu. Matanya berpindah ke rak buku di belakang meja, meneliti deretan buku yang ditata rapi. Ada tiga cara yang dipilih Runi untuk mengisi waktu luangnya. Membaca, menonton film dan jalan-jalan bersama Dea menyusuri kampung sambil memotret apa saja yang menurutnya menarik.

Sebagai arsitek Runi tidak merancang atau membangun gedung. Ia memutuskan menjadi peneliti masalah-masalah permukiman dan perkotaan. Kadang-kadang Eyang heran melihat koleksi foto anaknya. Ada foto-foto billboard yang terpampang besar-besar di tepian atau melintangi jalan.

“Billboard yang dipasang sembarangan kayak gitu itu merusak skyline, Bu. Meskipun perusahaan pengiklan dan yang pasang iklan udah bayar pajak, sebenarnya mereka ngambil hak warga kota atas kenyamanan pandangan,” jelas Runi ketika ibunya bertanya tentang foto-foto itu. “Kalau pas berhenti di lampu merah itu, aku pilih melihat gedung berarsitektur Tionghoa di pojokan sana dari pada melihat billboard,” Runi menunjuk sebuah foto perempatan jalan yang sudut-sudutnya penuh billboard, “tapi sebagai warga kota apa kita pernah ditanya? Nggak, kan? Tahu-tahu aja billboard itu udah njenggeneg di situ,” lanjut Runi.

Ah, anakku yang satu itu sering memikirkan sesuatu yang bahkan aku tidak tahu atau tidak merasa sesuatu itu ada, pikir Eyang, menarik sebuah buku tebal besar dari rak. “Wild Swans, Three Daughters of China,” Eyang membaca judul buku itu, membukai halamannya. Eyang ingat Runi pernah menceritakan memoir itu. Ia membelinya di sebuah toko buku bekas di New Delhi, saat sedang bertugas di sana.

Terdengar mobil Runi masuk halaman saat Eyang sedang mempelajari family tree di halaman depan buku momoir yang kertasnya menguning itu.

“Ada kiriman dari Trent Martin,” ucap Eyang menyapa anaknya yang masuk ruang tengah lewat pintu depan. Mobil Runi diparkir di bawah carport karena garasi hanya cukup untuk satu mobil.

Langkah Runi terhenti, tangannya yang menenteng sebundel dokumen menegang. Lehernya tegak karena waspada. Agak aneh mendengar ibunya tiba-tiba menyebut nama itu. “Apa, Bu?”

“Itu, ada kiriman dari Trent,” sengaja Eyang mengucapkan nama itu seolah ia sudah kenal.

“Trent? Ibu tahu dari mana?”

“Ya… baca nama pengirimnya.” Enteng suara Eyang. Runi menggumamkan kata-kata tidak jelas sambil berlalu setelah sempat melirik buku yang sedang dipangku sang ibu.

Perempuan yang masih tak putus harapan untuk melihat putrinya bersuami lagi itu menahan senyum. Nalurinya mengatakan kalau pemilik nama Trent Martin itu punya hubungan khusus dengan Runi, bukan sekedar teman kerjanya.

***

Malam menua. Celoteh manusia menghilang dari telinga digantikan derik dan cericit binatang malam yang beranjak dari liangnya, mencari mangsa atau sekedar menghirup udara. Eyang biasanya sudah masuk ke kamar pada pukul 10 malam. Namun kali ini punggungnya masih betah bersandar di kursi sementara tangannya menyangga buku memoir yang sore tadi ia ambil dari rak buku Runi.

Sebenarnya bukan buku memoir yang ditulis perempuan China bernama Jung Chang itu yang membuatnya terjaga. Ia ingin bertanya tentang lelaki pengirim buku itu. Namun ia tidak juga menemukan kesempatan untuk bertanya tanpa menimbulkan kesan tengah menyelidiki.

Dulu Runi sangat terbuka pada ibunya; bebas bicara tentang apa saja. Kini ia beda. Sejak menjanda, Runi hanya bercerita tentang pekerjaannya, jarang sekali bicara tentang perasaannya, apalagi menyebut nama lelaki.

“Buku ini bagus, ya. Tentang tiga generasi. Seorang nenek, seorang ibu dan seorang anak perempuan. Kamu bisa nulis semacam ini, Runi,” Eyang membuka pembicaraan.

“Ibu belum ngantuk?” Runi tidak merespon kata-kata ibunya.

“Ada yang mau kutanyakan…” Eyang menutup buku lalu meletakkannya di pangkuan, “Itu… temanmu yang sering mengirim buku itu. Trent Martin…”

“Oh!” Runi meraih buku yang ada di mejanya, yang belum ia baca, “buku ini?”

“Bukan bukunya, pengirimnya. Siapa?”

Runi mendengus keras sampai ia bisa merasakan hembusan udara di tangan kanannya yang berada di atas keyboard laptop. “Dia asisten dosen di Melbourne. Dulu.” Ada jeda ketika Runi mengucapkan kata ‘dulu’. “Sekarang kami bersahabat, kalau Ibu mau tahu.” Senyum kecil terukir di bibir Runi. “Kontraknya habis. Sekarang kerja di Kuala Lumpur. Dia singel,” Runi menjelaskan tanpa ditanya. Sejak ibunya menyebut nama Trent Martin sore tadi, Runi tahu kalau ia akan menanyakan lelaki itu. Runi sedang tak ingin membuat siapapun penasaran, terutama ibunya. Ia sedang menghadapi banyak persoalan. Ada beberapa pekerjaan kantor yang tidak selesai tepat waktu.

“Sahabat baik. Soulmate, kalau kata Dea…” Runi tertawa lirih menengok kamar anaknya yang lampunya masih menyala. “Dea udah kenal, mereka pernah bicara lewat telpon.”

“Kalian…?”

“Oh, bukan! Bukan pacaran!” sergah Runi. “Kami bersahabat. Aku merasa nyaman karena dia… beda,” Runi menatap mata ibunya, “aku jadi bisa melihat banyak hal dengan perspektif baru.” Runi menelan ludah.

Eyang mengangguk halus, bangkit dari kursi. Ia tak memerlukan penjelasan lagi. Runi berhak menyimpan urusan pribadinya. Eyang yakin, bila hubungan mereka serius Runi akan bicara. Eyang hanya tak ingin melewatkan peristiwa penting dalam kehidupan anaknya. Ia berusaha menjadi soulmate Runi. Ia telah mengalami salah satu hal yang tak ingin dialami seorang ibu; menyaksikan anak perempuannya mendahuluinya jadi janda. Menurutnya menjadi janda di usianya adalah proses alamiah yang dialami semua perempuan menikah. Sedangkan bagi Runi, itu serupa musibah; sesuatu yang terjadi terlalu dini, bagai buah jatuh sebelum masak.

Sambil meletakkan buku memoir di atas buku yang dikirim Trent, diam-diam Eyang mengamati anaknya yang sibuk memperbaiki laporan penelitian. Ia tahu anaknya kuat, liat dan lentur; kelebihan yang dianugerahkan Tuhan pada perempuan, yang membuat mereka tak mudah tumbang ditekan beban dan dihempas badai kehidupan.

Sebelum berangkat tidur Eyang mengetuk pintu kamar Dea. Perempuan itu ingin mencium pipi sang cucu. Itu akan melegakan hati, membuatnya merasa tenteram menutup hari.

***


Catatan:
Njenggeneg: sesuatu (biasanya besar) yang tiba-tiba muncul/ada.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…