Saturday, August 6, 2011

Hujan Dedaunan Bagian 1

1/ Hari ini angin bertiup lebih kencang...

Hari ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Akan badai sebentar lagi. Aku terpesona oleh intensitas gejolaknya yang mengerikan sekaligus memikat, menakutkan dan memesona, kutuk sekaligus berkat. Sebuah paradoks, bergejolak dalam pikiranku.

Ah, nampaknya aku mulai lagi tenggelam dalam perjalanan mental dan filsafatku, yang begitu sering muncul dalam pikiranku hari-hari belakangan ini. Mereka mengajakku berdialog ttg banyak hal. Hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Atau tidak ada waktu untuk kupikirkan. Atau tidak berani kupikirkan.

Kata orang, saat menjelang ajal kita dapat merasakan rayapannya. Aku ingin sekali tahu, seperti apakah rasanya? Apakah seperti sepasang tangan dingin yang merayap naik dari ujung jemari kaki lalu menyelimuti seluruh keberadaanku? Lalu.... Setelah itu, apa?

Apakah aku percaya adanya surga? Ya. Ya, rasanya ya, aku percaya, atau aku pikir aku percaya tempat itu memang ada: surga dan neraka. Tapi aku tidak tahu persis di mana letaknya, dan bagaiman keadaannya. Aku juga tidak tahu jalan menuju ke sana.

Siapakah yang akan memberitahuku? Mereka yang sudah pergi ke sana tidak ada yang kembali lagi untuk menceritakan pengalamannya, atau setidaknya memberi gambaran bagaimana cara mencapai yang satu dan menghindari yang lain.

Saat aku memandang ke luar jendela, kulihat kuncup-kuncup mawar di ambang jendela meliuk-liuk. Rapuhnya..., tapi tidak gugur. Apa rasanya bagi mereka, harus menghadapi badai tanpa memiliki kesempatan untuk melarikan diri? Hmm... Betapa cantiknya. Pun, betapa rapuhnya. Seperti layaknya kehidupan ini.


2/ Hujan di Jendelaku

Aku menyadari, rasanya semakin sulit untuk melihat dan meraba keindahan, kebaikan, kesempurnaan, ketika setiap detik yang aku lewati berisikan ultimatum yang begitu final. Sementara aku, aku belum ingin berhenti berlari. Aku ingin garis finish itu mundur beberapa meter lagi, bahkan kalau perlu, berkilo-kilo meter lagi, karena aku belum ingin berhenti berlari.

Telingaku menangkap bunyi-bunyi basah di luar sana. Ah...akhirnya hujan itu datang juga. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengarkan pola gemericiknya mengguyur atap, sebelum mengalir turun membasahi jendela lalu menyesap jauh ke dalam tanah. Tanah, dimana segala sesuatu sepertinya bermuara.

Dengan ujung jemari aku merabai kaca jendela yang digelimangi air hujan pada tepi luarnya. Kupandangi efek pantulan wajahku di sana. Wajah yang menatapku dari balik kaca jendela itu nampak aneh, karena teksturnya yang dilekukkan oleh gelimangan hujan. Aku merasa seperti peri dalam bayangan itu, begitu dekat dengan keabadian, nyata sekaligus tidak. Benarkah keabadian itu ada, seperti yang selalu mereka katakan? Bila benar, lalu mengapa hatiku merasa gelisah?

Dalam hidupku, hujan selalu mengembalikan kenang-kenangan. Baik kenangan yang manis dan memang ingin kubiarkan mampir, maupun yang pahit dan ingin kutimbun dalam-dalam sehingga tidak dapat melesak ke luar. Namun, hujan selalu saja mampu menggali semuanya, segalanya, dan aku sudah lama belajar untuk berhenti melawan, berhenti berontak, dan belajar menikmati segala rasa yang beradu dalam hatiku. Aku sadar, itulah hidup. Merasakan segalanya. Menjalani segalanya.

3/ Selamat Ulangtahun Kekasih....

Dan kenangan-kenangan itu, satu-satu datang melintas.....

Hari itu, saat itu, sama seperti hari ini, sore ini. Hujan mulai merebak lalu meluncur dari langit dengan derasnya. Aku keluar dari apartemenku dan menunggunya diujung tangga ketika dari jendela aku melihat mobilnya berbelok menuju jalan masuk kompleks apartemenku. Ketika berlari-lari kecil menaiki tangga menuju ke apartemenku yang berada di lantai dua ini, dia nampak lebih tampan dari biasanya. Aku menghambur ke dalam pelukannya. "Ah sayang, you're wet..., pasti lupa bawa payung lagi." Kataku, walaupun sesungguhnya aku tidak keberatan.

Wajahnya lembab namun bibirnya terasa hangat menyentuh bibirku, saat hati-hati dia mengecupku, takut menularkan basah bajunya ke tubuhku. "Selamat ulangtahun kekasihku.." Bisiknya dengan mata berbicara, dan mataku berbinar karena kami sama-sama tahu, ini bukanlah hari ulangtahunku, bahkan sama sekali tidak mendekati hari kelahiranku. Tapi, dia tahu dan aku pun tahu, bila boleh memilih, aku ingin dilahirkan saat hujan-hujan seperti ini, bahkan hari ini, sehingga segala sesuatu dapat dimulai dari awal lagi.

"Aku senang kamu ada di sini,"bisikku ke telinganya saat kami bergandengan memasuki apartemenku.

Hujan turun semakin deras, bagaikan tercurah dari tingkap-tingkap langit yang dibuka lebar-lebar. Aku ingat, saat itu aku sempat bertanya-tanya, sedang marahkah Dia yang menguasai semesta, atau mungkin Ia sedang menangisi hilangnya sesuatu yang sangat dikasihiNya?

Sementara di ruang tengah, aku dan dia duduk berdampingan, dia mengeringkan rambutnya yang seperti tanah basah diluar sana dengan sehelai handuk yang kuberikan, matanya yang panjang dan sipit, seperti sebuah garis hitam tebal di wajahnya yang putih. Sambil mengamati keadaan di luar jendela, sejenak kami diam, menikmati dengan hikmat kemegahan guntur dan kilat yang dipamerkan alam di luar sana.


4/ Lihat, seekor kucing kecil terperangkap!

Lalu, sembari menghirup kopi hangat, kami mulai bicara, dari hati ke hati.

"Kalau aku mati..." Kataku saat itu.
"Ssshh..." Dia menutup bibirku dengan telunjuknya, dan menggelengkan kepala, "Don't say that. Kamu tidak akan mati."
Aku tertawa ringan, pernyataannya terdengar konyol, walaupun penuh cinta, tapi tidak menutupi kekonyolannya. "Kita semua akan mati, Sayang. Tidak ada apapun juga yang abadi di tempat ini. aku tidak abadi, kamu tidak abadi, bahkan hujan, guntur, petir dan kilat di luar sana pun tidak abadi." Kukecup lembut telapak tangannya, lalu kubiarkan dia mengusap pipiku.
"Baiklah. Kalau kamu mati, aku juga akan mati."
Dalam hati aku tergelak, "Gombal.." aku tersenyum geli, "Kamu tidak akan ikut-ikutan mati. Kamu akan hidup, dan menemukan lagi kebahagiaan, mengerti?"
Dia menatap wajahku sangat lama, ada sesuatu di sana yang seakan ingin berkata tetapi kelu, akhirnya dia berkata, "Haruskah kamu sekejam itu?"
"Kejam?"
"Kamu tidak pernah mempercayai ketulusanku."

Saat itu aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, mendengarkan bunyi desir hujan memukul atap dengan iramanya yang khas.

"Oohh...lihat!" Kataku kepadanya, "seekor kucing kecil terperangkap," ya, anak kucing itu terperangkap di sela-sela atap gedung sebelah, mengeong-ngeong sedih sebelum akhirnya induknya datang menjemput dan mengangkat anaknya dengan mulutnya untuk membawanya menuju ke tempat aman.

Saat itu, tiba-tiba saja aku merasa sangat merindukan sesuatu, yang aman, yang konsisten, yang akan menopang aku ketika aku jatuh. Kubaringkan kepalaku di pundaknya, mencari rasa aman itu di sana. Dia merangkulku. Kami membiarkan hujan menjadi musik hati kami sore itu.

5/ Keping-keping Hati.

Lalu kenangan berikutnya melintas...

Aku ingat suatu saat di bulan Desember yang basah. Sore-sore menjelang malam Natal. Seisi kota sudah berdandan, siap untuk berpesta. Sejak dari Bukit Panjang, City Hall, sepanjang jalan di Orchard Road hingga Pasir Ris, ornamen-ornamen indah dipasang dimana-mana.

Kota nampak berdandan bagaikan seorang perempuan berhias lengkap untuk kekasihnya, pikirku saat itu dengan hati yang enteng dan pikiran yang dipenuhi rencana-rencana kencan dengannya nanti malam.

Sambil menenteng sejumlah belanjaan, aku berencana hinggap sebentar di Starbucks, Plaza Singapura, untuk segelas kopi hangat, ketika kulihat mereka: dia, dan wanita bergincu YSL itu, tenggelam dalam dunia milik mereka sendiri. Berciuman dalam satu nafas. Tepat di sana: di depan mataku, di antara lalu lalang pejalan kaki yang mengejar lampu merah bagi kendaraan dan lampu hijau bagi pedestrian.

Saat itu, aku merasa berdiri di tepi sebuah jurang, antara keabadian dan kenyataan. Sebuah kesadaran menghantam hatiku begitu keras seakan meledak dengan tawa terbahak yang membukakan sebuah rahasia: keabadian memang tidak ada di tempat ini. Kedok kepalsuan yang mengugurkan semua teoriku tentang cintanya dan kesetiaannya, membenarkan kenyataan, segala sesuatu hanya temporer, seperti halnya hidup ini, dan tidak ada apapun juga yang konsisten dari detik ke detik. Tidak juga dia. Tidak juga aku. Atau kata kolektif itu: kami, tidak pernah sungguh-sungguh ada.

Ketika mata kami, aku dan dia, akhirnya bertemu, sudah terlambat baginya untuk meyakinkan aku bahwa keping-keping hati yang berceceran di jalanan itu bukanlah milikku.

Segala sesuatu seakan bergerak dalam gerakan lambat. Saat itu aku tak mampu berkaca di matanya lagi. Aku bahkan tak dapat menangkap jejak bayanganku di sana. Aku menyadari, ketidak-mampuanku untuk menemukan diriku di sana bukan disebabkan oleh jarak yang terentang beberapa meter di antara kami.

Aku ingin terbang, namun tidak punya sayap. Aku ingin berlari, namun kehilangan arah. Sejenak aku tidak lagi tahu mau kemana. Lalu tiba-tiba aku merasa sangat kehausan, aku merasa hanya ingin mereguk secangkir kopi saja agar aku benar-benar yakin bahwa saat ini aku memang sedang terjaga dan semua yang aku saksikan tadi bukan berasal dari salah satu adegan dalam koleksi mimpi-mimpi burukku.

Bersambung...

***

Catatan khusus:

Dimuat di Kampung Fiksi dengan perubahan-perubahan, tidak persis sama dengan versi awal yang dimuat di Kumcer Pilihan Femina November 2003.

Cerpen lawas ini ditulis tahun 2003, untuk mengenang seseorang yg dekat di hati, ia baru saja meninggal (30 Maret 2003) setelah perjuangan selama 11 tahun melawan kanker payudara. Saat cerpen ini selesai ditulis, ternyata cukup waktu untuk mengirimkannya ke Lomba Cerpen Femina, tidak menang, tetapi dianggap cukup layak untuk dimuat dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Femina November 2003, yang terdiri dari 3 cerpen: Bicara pada Imel oleh Risnawati Tambunan, Deadline! oleh Setiyo Bardono, dan Hujan Dedaunan oleh Gratcia Siahaya.

Cerpen ini hanyalah hasil dari membayangkan apa yang mungkin pernah dirasakan, dan mendramatisir apa yang pernah dialaminya, selebihnya hanyalah rekayasa belaka dari kepala yang penuh nuansa romantis (tidak lebih).

Untuk: TL. Wagiu (1948-2003)--tante, sahabat dan soulmate yang sering berujar, 'ayo G kita menulis, menulis dan menulis! walaupun tidak perlu ada yang membacanya.' (Kami berdua kerap menulis dan saling bertukar cerita (puisi dan prosa), sekedar untuk memuaskan imajinasi berkata-kata.)