Skip to main content

Kekasih Suamiku

Pagi ini sudah tiga kali Ibu menelponku. Suamiku yang sedang asyik mengotak-atik mobilnya jadi ingin tahu. Tidak biasanya laki-laki yang sudah kunikahi hampir lima belas tahun itu bertanya-tanya urusan pembicaraanku dengan Ibu.

“Ada apa sih, Lin? Gencar banget Ibu nelpon pagi ini?”

“Nggak tahu juga. Ibu nanya-nanya terus soal Betty,” jawabku sambil memotong daun-daun kering dari pagar hidup yang kubangga-banggakan. Semua orang yang datang ke rumah kami pasti memuji perdu yang daunnya menyerupai daun teh itu. Tanaman yang biasa ditanam berdempetan sebagai pagar yang di kota sudah jarang ditemui lagi.

“Betty? Ada apa emangnya dengan dia?” tanya suamiku lagi

“Nggak ada apa-apa. Cuma Ibu curiga. Katanya, jangan-jangan Betty ada apa-apanya sama kamu.” Kuangkat mukaku dari perdu kesayanganku, menoleh memandangi suamiku. Menunggu reaksinya.

“Ada apa-apanya bagaimana?” Suamiku meletakkan alat yang tengah ia pegang, meraih kain kumal yang tergeletak dekat kaki dan mengelap kedua tangannya dengan cepat. “Lin!” Suara suamiku meninggi, “Ada apa-apa bagaimana?”

“Yaaaa… Mungkin maksudnya apa dia pacaran sama kamu, gitu.” Jawabku enteng sambil kukedipkan mata kiriku.

“Ini dagelan atau apa?” suamiku menutup kap mesin mobil. “Aneh-aneh aja Ibumu itu,” gumamnya sambil menggosok kap mesin dengan kain yang tadi dipakai untuk membersihkan tangannya.

“Sudahlah! Ibu belakangan ini memang suka parno.” Kudekati suamiku yang mukanya terlipat tidak senang. “Semua dikuatirkan. Andri mau belajar naik motor dilarang. Renny nggak boleh jalan-jalan sendiri, takut diculik. Aku disuruh sering-sering cek HP-mu jangan-jangan kamu sms-an sama perempuan. Sekarang Betty dicurigai lagi.” Kuusap punggung suamiku dengan sayang supaya dia tenang.

Suamiku pada dasarnya pendiam. Dia jarang sekali bicara kecuali soal mesin mobil. Dia menyayangiku dengan caranya sendiri, tidak berlebihan namun memberi rasa aman. Kami jarang bertengkar. Selama lima belas tahun ini kehidupan kami menggelinding dengan lancar. Pekerjaanku sebagai designer interior khusus restauran cukup untuk memenuhi semua kebutuhanku sendiri. Sebagian besar penghasilan suamiku dari bisnis jual-beli mobil bisa kami tabung setelah diambil untuk kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak. Dua anak kami juga tumbuh besar nyaris tanpa masalah.

Suamiku hampir tidak pernah pergi jalan-jalan tanpa aku. Jadi untuk apa curiga? Apalagi Betty sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi sahabat kami.

“Mungkin saja suamimu berduaan kalau kamu sedang kerja,” sergah Ibuku di telepon ketika aku jelaskan, “Kamu kalau kerja kan lama. Kadang-kadang juga lembur dan nggak sempat pulang kalau ada deadline. Iya kan?” tambah Ibuku lagi dengan tajam.

“Sudahlah, Bu.” Aku minta Ibu tidak terlalu kuatir. Tapi Ibu tampaknya tidak puas. “Awas ya. Nanti kapan-kapan kalau kamu lagi kerja aku mau datang ke rumahmu tanpa bilang-bilang dulu. Biar suamimu tahu rasa!” Ancam Ibuku sambil menutup teleponnya yang keempat kalinya pagi itu.

***

“Lin. Ibu tadi mampir ke rumah. Cuma ada Ndari.” Ibu menelponku ketika aku tengah mengawasi seorang tukang baru yang sedang belajar memotong wallpaper.

“Lin sedang kerja, Bu.” Jawabku pelan. “Nanti Lin telpon lagi.”

“Nggak. Jangan ditutup. Tadi Ibu lihat ada dua cangkir di dapur. Kata Ndari barusan ada Betty. Terus Ibu lihat di belakang ada seprei yang baru mau dicuci. Bau parfum.” Suara Ibuku keras sekali sampai aku malu pada tukang baru itu karena dia pasti bisa mendengarnya. Sambil memejamkan mata kuputus telpon ibuku dan HP kumatikan agar beliau tidak menggangguku lagi.

Baru setelah aku selesai memberi pengarahan pada anak buahku Ibu kutelpon lagi. Kalau tidak beliau pasti akan menelpon rumah tiap lima menit untuk menanyakan apa aku sudah pulang. Begitu HP kuhidupkan sebuah panggilan telpon langsung masuk. Dari Ibu.

“Ya, ampun! Ibu!” aku berbisik cepat sambil menyingkir dari pegawaiku.

“Ibu juga lihat ada bekas tiket bioskop di keranjang sampah dekat TV. Sama nota cafĂ© apa, gitu. Tanggalnya sama.” Suara Ibu terdengar sangat tidak sabar. Semakin heran aku, bisa-bisanya ibuku bertindak seperti detektif begitu, ngadul-adul keranjang sampah segala.

“Itu punyaku, Bu. Aku pergi sama Betty,” jawabku

“Kamu!” bentak Ibu, “Nutup-nutupi keburukan suami di depan Ibu. Kalau Ibu bener kamu jangan nangis sama Ibu ya!” Dan kemudian tuuut, tuuut, tuuuut… Ibu menyudahi pembicaraan.

Sekali lagi aku cek semua ruangan yang dikerjakan hari itu, kemudian aku pamit pada pegawaiku dan meminta salah satu dari mereka untuk lapor seperti biasa kalau-kalau masih ada kekurangan. Kepalaku pusing gara-gara Ibu.

Kutelpon Betty dan kuminta agar untuk sementara dia tidak main ke rumah kami. Awalnya Betty protes tapi akhirnya ia mengalah setelah kuberitahu kalau Ibu bisa nekat nginap di rumahku sampai seminggu bahkan sebulan hanya untuk membuktikan bahwa kecurigaannya benar.

***

“Tumben Betty sudah empat hari nggak kelihatan. Gara-gara Ibu?” Tanya suamiku setelah anak-anak berangkat sekolah.

“Siapa lagi?” jawabku sambil merapikan dandananku.

“Ibu sering-sering aja diantar ke Bandung, biar kita nggak ditelpon tiga kali sehari.” Suamiku bercanda. Sudah tiga hari ini Ibu jarang telpon, sedang menemani kakakku di Bandung. Katanya Ibu akan berada di sana selama sepuluh hari.

“Aku mau cek ruangan dan ketemu supplier. Untuk grand opening besok malam pemiliknya minta sebanyak mungkin mawar putih dan pink dirambatkan di semua tiang. Persis kayak aslinya. Jadi harus cari batang dan daun mawar segar juga.” Kuraih kunci mobil dari gantungan. “Kamu pergi nggak, Mas?”

“Iya. Sampai malam mungkin. Ada yang minta dicarikan Holden tahun 60-an. Kamu pulang sore?” Suamiku membukakan pintu garasi.

“Sekitar jam empat udah selesai.” Kami bertukar kecupan seperti biasa dan aku meluncur ke kota memulai hariku yang panjang.

Sudah empat hari Betty tidak main ke rumah kami. Tapi bukan berarti aku tidak ketemu atau jalan sama dia. Sore ini kuputuskan untuk mengundang Betty ke rumah biar tidak sepi karena anak-anak ada acara di sekolah sampai malam. Ada pameran dan festival band.

***

Suara langkah memasuki teras rumah disusul dering bel pintu. Ndari mengecilkan volume TV lalu tergesa membuka pintu. Ibu. Rupanya beliau pulang dari Bandung lebih awal tapi adikku yang tinggal dengan Ibu tidak mengabari. Kakakku juga tidak menelpon. Pasti ini akal-akalan Ibu. Kudengar Ibu bertanya pada Ndari soal mobil Betty yang terparkir di halaman. Aku lupa mengunci pintu kamar. Tak ada lagi waktu.

“Ketangkep basah kamu sekarang yaaaaa!!!” kudengar suara Ibu berteriak keras sekali sambil membuka pintu. Ibu mendapati Betty tergolek di ranjangku tanpa baju. Matanya lalu tertancap pada sesosok tubuh di bawah selimut.

“Dasar suami tak tahu diri!!!” Ibu menyingkap selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Begitu dilihatnya wajahku, tangan Ibu gemetaran. Mulutnya terbuka. Matanya tertutup pelan-pelan diikuti tubuhnya yang limbung dan jatuh pingsan.

***


Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…