Wednesday, August 24, 2011

Ketika Lala Berulang Tahun

“Lala, ini bekal makan siangnya, jangan sampai ketinggalan!”

Dengan sedikit cemberut Lala beringsut mengambil kotak makannya. Sedikit diliriknya wajah mamanya, tapi tidak ada yang berubah sama sekali. Selalu sama setiap paginya. Datar tanpa ekspresi tapi penuh konsentrasi pada pekerjaan rumahnya.

Hfff.. Padahal Lala berharap pagi ini ada senyum tersungging sebagai penghias wajah mamanya, meskipun sedikit sekali. Hanya pagi ini saja.

“Ma, hari ini Lala puasa makan siang!” suara Lala yang sedikit bergetar memecah kebisuannya.



Mama menengok sedikit pada Lala walau masih sibuk dengan segala perkakas yang dicucinya, juga sampah-sampah yang siap dibuangnya.

“Kalau nggak makan siang nanti kamu masuk angin. Atau kamu masuk angin ya? Nggak enak badan?” Mamanya berkata sambil masuk ke dalam kamar. Bersiap merapikan diri untuk segera berangkat ke kantor.

“Lala males makan aja ma.”

Mama yang sudah berdandan rapi segera mendekati Lala, meraih pundaknya dan segera memasukan kotak makan Lala ke dalam tasnya. Kemudian digandengnya Lala untuk segera berangkat.

“Pokoknya Lala harus makan siang, biar nggak sakit. Sekarang kita berangkat, nanti terlambat” Suara tegas mama menutup percakapann pagi itu.

***

“Ini kotak pensil baru, cantik ya, isinya lengkap, satu paket. Tuh liat pinsilnya sama khan gambarnya  dengan kotaknya.” Nina memamerkan kotak pinsil warna ungu muda bergambar hati merah jamu pada Lala. Matanya berbinar-binar ceria.

“Hadiah ulang tahun dari mama papaku. Tasnya juga.”

“Trus yang dari tante sudah kusumbangkan ke tetanggaku. Kata mama aku harus rajin berbagi.”

Lala hanya tersenyum kecut. Teringat perbincangannya dengan Nina seminggu yang lalu.
Hatinya sedih. Hadiah ulang tahun? Dari mama? Bahkan senyumpun tidak Lala dapatkan, dihari ini, tepat di hari ulang tahunnya ini.

Lala masih belum mengerti benar kenapa mamanya sampai lupa. Apa memang kesibukan mamanya sebagai single parent begitu menyita semua perhatian, sampai-sampai lupa segalanya?

Bekal makan siang di depannya tak berkurang sedikitpun. Di kepalanya penuh tanda tanya dan harap, juga sedikit ide dan pemikiran. Dipandangnya bekal makannya, ditutup dan disimpannya kembali. Dia berharap, dengan tidak makan, nanti dia masuk angin dan sakit. Pasti mamanya akan bingung dan menaruh perhatian padanya. Ya, itu ide yang bagus. Lala merasa bersemangat.

Teng! Teng!

Bel berbunyi tanda istirahat sudah selesai. Para murid kembali ke kelas masing-masing.

***

Mama masuk ke UKS dengan tergesa-gesa. Barusan wali kelas Lala menelpon kalau putrinya itu muntah-muntah. Sepertinya masuk angin. Dilihatnya Lala yang sedang duduk dipinggir tempat tidur. Mama menghampiri, menyentuh dahinya.

“Lala masih mual? Lemas?” Matanya memancarkan rasa cemas yang besar, lalu memapahnya pulang setelah berterima kasih dan berpamitan pada petugas disana.

Sentuhan lembut mamanya tiba-tiba membuat Lala ingin menangis. Apalagi demi melihat wajah mama penuh rasa cemas dan khawatir.

“Maafin Lala ya ma, sudah buat mama khawatir.”

“Lala kenapa? Mama nggak marah sama Lala, mama cuma khawatir kalau kamu sakit.”

“Bekal dari mama nggak Lala makan. Habis Lala marah sama mama. Hari ini kan Lala ulang tahun, mama cuek aja.”

Mama tersentak… tidak Lala, mama tidak melupakannya sayang.. satu-satunya yang mama ingat hanya Lala, semua tentang Lala.

“Mama juga minta maaf ya Lala. Akhir-akhir ini mama sibuk sendiri, perusahaan tempat mama bekerja sedang ada masalah. Mama harus pintar-pintar cari uang. Semua buat Lala. Mama juga ingat kok, hari ini Lala ulang tahun. Kalau gitu sekarang kita cari makan dulu ya, sambil merayakan ulang tahun Lala. Kadonya sudah sejak semalam mama simpan di bawah tempat tidurmu. Tadinya buat kejutan.. “

“Waaaa.. makasih mama.. aku sayang mama. Aku mau jadi anak yang baik ma…” Sebuah ciuman mendarat di pipi mama. Mama tersenyum dan balas mencium Lala.

Mereka bergandengan tangan sambil tertawa bersama.

***