Tuesday, August 9, 2011

Layla & Sebuah Suara

Gambar diambil dari sini
Layla terlonjak bangun dari tidurnya, dadanya berdegup kencang. Untuk menenangkan diri, Layla meraih botol air mineral yang selalu disediakannya di pinggir ranjang namun ternyata malam sebelumnya ia lupa mengisinya sebelum tidur, karenanya ketika hendak menenggak air dari dalam botol itu, tidak ada setetespun yang keluar. Botol itu dalam keadaan kosong.

Bagus, bagus sekali, demikian keluh Layla seraya menendang selimutnya kemudian menjejakkan kakinya ke lantai. Telapak kakinya menyentuh permukaan lantai yang dingin setelah semalaman dimanjakan hawa dingin yang keluar dari mesin pendingin ruangan yang selalu diatur dengan suhu terendah oleh Layla.
Sambil menguap, kakinya mencari-cari letak alas kaki untuk digunakannya, kakinya yang sebelah kanan telah berhasil menemukan alas kaki bergambar beruang merah muda yang langsung melindungi telapaknya dari serbuan udara dingin. Sebelah kakinya yang lain masih berjuang mencari alas kaki bagiannya namun usahanya tidak membuahkan hasil sehingga Layla terpaksa berdiri dan ikut melongok ke berbagai tempat yang mungkin menjadi tempat alas kaki itu menyembunyikan diri dari pandangan matanya. Rupanya alas kakinya itu memilih tempat yang aman untuk berlindung dari terpaan udara dingin dengan bersembunyi di bawah ranjang tempat tidur Layla. Dengan penuh kemenangan, ibu jari dan jari telunjuk kaki Layla menjepit alas kaki yang sedang melakukan aksi mengumpet di kolong ranjang dan menariknya keluar dengan paksa.

Layla menyambar jubah tidurnya dan mengikatkan tali yang melilit pinggangnya itu kemudian beranjak keluar ruangan. Layla menyalakan tombol lampu di depan kamarnya untuk memberikan secercah cahaya di tempat yang dipenuhi kegelapan itu.

Setelah bisa melihat dengan jelas arah mana yang harus dilaluinya, Layla berjalan menuruni tangga sambil sesekali memamerkan kuapan lebarnya karena tidak kuasa menahan rasa kantuknya. Ingin rasanya Layla kembali bergelung di balik selimutnya dan melanjutkan tidurnya serta sepenggal mimpi yang sempat terputus, namun tenggorokannya terasa amat kering yang membuatnya meneruskan langkah menuruni anak tangga satu demi satu.

Di anak tangga kesepuluh yang diinjak telapak kaki kanannya, langkah Layla terhenti oleh sebuah suara yang membuat jantungnya kembali berdebar kencang. Layla menajamkan pendengarannya untuk memastikan suara itu benar didengarnya dan bukan suara dari alam mimpinya yang terbawa keluar ke dunia nyata. Namun tidak lama kemudian suara itu kembali terdengar, kali ini dengan volume yang lebih keras dari sebelumnya.

Layla mematung di tempat dan untuk sesaat Layla tidak tahu apakah lebih baik dirinya berlari kembali ke kamarnya dan tidak mempedulikan suara apapun itu yang didengarnya ataukah ia sebaiknya melanjutkan menuruni belasan anak tangga yang masih tersisa untuk mengambil air sekaligus mencari tahu sumber suara yang didengarnya. Layla menghela napas panjang ketika dirinya memutuskan untuk menjalankan pilihan terakhir.

Layla meneruskan langkah dengan berjingkat untuk meminimalkan suara yang ditimbulkan oleh kakinya agar siapapun pihak di balik suara yang didengarnya tidak menyadari kedatangannya, bagaimanapun tidak ada salahnya untuk bersikap waspada, bukan?

Di lantai bawah, suasana terlihat sunyi senyap. Mata Layla beredar ke seluruh penjuru ruangan yang temaram, hanya mengandalkan cahaya dari lampu di teras halaman belakang yang menerobos masuk melalui kaca yang membatasi ruangan dalam rumah dengan luar rumah.

Tempat pertama yang menarik perhatian Layla adalah sofa biru yang terletak di depan televisi. Layla membayangkan akan menemukan sosok seseorang yang sedang berbaring di sofa tersebut sambil mengeluarkan suara yang tadi didengarnya itu. Layla memicingkan mata sambil mengepalkan kedua telapak tangannya, bersiap melayangkan tinju pada siapapun yang menyerangnya. Tetapi tidak tampak siapapun di sofa biru yang dipenuhi bantal-bantal mungil dengan sarung bergambar Mickey Mouse serta Winnie The Pooh.

Diam-diam Layla menarik napas lega karena tidak menemukan siapapun di sofa itu. Baru sekarang terlintas dalam pikiran Layla mengenai kemungkinan ia akan menemukan sosok orang asing yang ternyata adalah sumber dari suara yang didengarnya itu! Jika demikian, apa yang akan dilakukannya? Layla tidak yakin dirinya cukup berani untuk benar-benar melayangkan tinjunya pada orang asing yang didapatinya sedang tertidur di dalam rumahnya itu, paling-paling ia akan menjerit sekuat tenaga yang akan membangunkan seisi rumah. Bagaimana bila orang itu bersenjata tajam dan menjadi kalap mendengar jeritannya untuk kemudian mengarahkan senjatanya itu ke lehernya? Layla susah payah menelan ludahnyasambil menggelengkan kepala kuat-kuat berusaha mengusir kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi itu.

Layla masih bergidik ketika beranjak menuju lemari pendingin, sudah kepalang tanggung sampai di lantai bawah, sungguh konyol rasanya apabila ia tidak minum terlebih dahulu ketika lemari pendingin itu hanya tinggal beberapa langkah saja dari tempatnya berdiri saat ini.

Dengan pelan Layla membuka lemari pendingin itu dan mengambil sebotol minuman dingin dari rak paling bawah di lemari pendingin tersebut lalu segera meneguk isinya untuk memuaskan rasa dahaganya. Aliran air sejuk membanjiri rongga mulutnya dan membuatnya mendesah nikmat setelah kebutuhannya akan air terpenuhi dengan baik. Layla menutup botol itu dan mengembalikannya ke tempat semula, masih tersisa setengah botol yang akan diminumnya nanti. Dengan hati-hati Layla kembali menutup pintu lemari pendingin itu agar tidak menimbulkan suara.

Layla kemudian melirik ke arah dapur melalui pintu kaca yang terletak di samping lemari pendingin. Pintu itu dalam keadaan terkunci namun melalui pintu itu Layla bisa melihat tempat mencuci piring dan tempat kompor gas berada dan memastikan tidak ada suatu apapun yang terlihat mencurigakan.

Awalnya Layla berniat membuka pintu kaca itu dan melakukan inspeksi mendadak menyusuri area dapur yang ada di sebelah kiri dan tempat mencuci pakaian yang ada di sebelah kanan tetapi lalu Layla teringat bahwa pintu kaca itu akan menimbulkan suara berderak yang cukup gaduh ketika digeser dan dapat dipastikan tidak hanya dirinya yang akan mendengar suara pintu itu melainkan juga siapapun yang ada di dekatnya.

Layla melirik jam dinding yang ada di atas lemari pendingin, jarum pendeknya ada di angka empat sementara jarum panjangnya masih diam di angka di sebelahnya, tiga. Menyadari hari ternyata masih sedemikian paginya, rasa kantuk kembali menyerang Layla yang membuatnya kembali menguap. Dengan jarinya Layla menghitung bahwa ia masih mempunya waktu sekitar dua sampai tiga jam untuk kembali beristirahat sebelum mulai menjalani rutinitas hariannya.

Baru saja Layla berbalik dan berjalan beberapa langkah untuk kembali menuju lantai atas dengan terkantuk-kantuk, yang diinginkannya saat ini hanyalah kembali tidur. Tiba-tiba suara itu sekali lagi terdengar dengan amat jelas seakan-akan ada di dekatnya. Selama semenit dua menit, Layla tidak bergerak sama sekali dan kali ini Layla bersyukur bahwa tempatnya berada sekarang itu cukup temaram sehingga bisa menyembunyikan dirinya dari pandangan mata orang lain.

Layla menunggu dan menunggu. Waktu seakan mengejeknya dengan berdetak dalam gerakan yang amat lambat. Untungnya tidak ada suara lainnya yang didengarnya dan Layla merasa sudah aman bagi dirinya untuk kembali melanjutkan langkahnya kembali dengan berjingkat. Layla sempat melirik ke arah kursi yang ada di dekat telepon namun kursi itu kosong dan Layla mempercepat langkahnya menuju tangga.

Di anak tangga paling atas, suara itu kembali terdengar yang membuatnya kaget dan membawa kantuknya serta merta pergi melayang jauh. Baru disadarinya sekarang bahwa suara itu berasal dari lantai atas, pantas saja tadi selama mencari-cari di lantai bawah, ia tidak menemukan apapun. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Layla merasa familiar dengan suara itu. Dalam hati Layla berdoa agar suara itu kembali terdengar dan kali ini keinginannya terkabul dengan cepat karena tidak lama kemudian suara itu terdengar lagi.

Layla kembali melangkah, namun kali ini tidak ada rasa takut dan cemas di wajahnya, hanya terdapat sebuah senyuman lebar di sana dan dengan langkah pasti Layla beranjak menuju teras samping yang terletak di sebelah kamar kakak lelakinya, Layla yakin sekali suara itu berasal dari sana.

Kali ini tanpa acara mengendap-ngendap Layla berjalan tanpa berjingkat dan menempelkan wajahnya di pintu kaca untuk melihat apa yang ada di teras samping sana. Si pembuat suara itu sedang tertidur nyenyak dan sesekali mulutnya bergetar dan mengeluarkan suara dengkuran yang sedari tadi didengarnya.

Layla tertawa kecil, pantas saja suara itu terasa familiar karena bukan kali ini Layla pertama mendengarnya. Suara yang sedari tadi didengarnya dan menimbulkan rasa penasaran dalam dirinya itu ternyata adalah suara dengkuran Trielle, anjing buldog milik kakak lelakinya itu! Seakan ingin mengkonfirmasi, Trielle kembali mendengkur yang membuat Layla kembali tertawa kecil.

Setelah melambaikan tangan ke arah pintu kaca, Layla membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke kamar tidurnya sambil tidak lupa mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang bisa menerobos masuk tanpa sepengetahuannya. Tidak ada salahnya untuk selalu berjaga-jaga untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan.

Layla pun kembali tertidur dan sesekali mengeluarkan suara dengkuran yang tidak kalah nyaringnya seperti yang diperdengarkan oleh Trielle, namun sayang tidak ada seorangpun yang mendengarnya dan menjadi penasaran untuk mencari tahu siapa di balik sumber suara yang cukup keras itu.