Thursday, August 18, 2011

Lucy & Isabel : Uncle J

Gambar diambil dari sini
'Oh, Lucy, apa yang kamu pikirkan, anakku?' Uncle J mengusap kepala Lucy dengan penuh sayang dan membereskan anak rambut yang berjatuhan di keningnya.

Lucy tidak menyahut, dia hanya terbaring diam dengan mata terpejam dan kesadaran yang masih belum kembali ke alam nyata.

'Maafkan, Uncle, Lucy, maafkan Uncle yang tidak mengetahui apa yang berkecamuk dalam hatimu. Andai Tantemu masih ada di sini, tentu semuanya ini tidak akan terjadi.' Pikiran itu membuat Uncle J menghentikan usapannya. Dengan helaan napas panjang, Uncle J mendudukkan diri di kursi sebelah ranjang Lucy. Tatapannya menerawang ke masa-masa Louisa dan Bradley masih hidup.


Louisa. Louisa-nya yang cantik dengan senyum secerah mentari pagi yang selalu menghangatkan keluarga kecil mereka. Suaranya yang merdu bagaikan kicauan burung selalu memberikan efek menenangkan pada dirinya.

Louisa. Louisa-nya yang baik hati dan mempunyai intuisi yang tajam. Louisa biasanya menjadi orang yang paling pertama tahu mengenai kondisi psikologis seseorang. Dia yang menjadi penghibur pertama bahkan kala orang tersebut belum menceritakan masalahnya.

Aku sering bertanya padanya, "Lou sayang, bagaimana kamu tahu dia sedang kesusahan? Apa kamu ini dulu kuliah Psikologi sehingga hal-hal kecil yang luput dari sebagian besar dari kami, justru menjadi perhatianmu?"

Louisa-nya hanya tersenyum sebelum berkata, "Jem, aku tidak melakukan sesuatu yang luar biasa, aku hanya mengamati dengan kadar yang sedikit lebih banyak dari yang kalian biasa lakukan. Hanya itu saja rahasianya." Kemudian dia akan meringkuk manja dalam pelukanku dan membiarkan bibirku mengecupnya mesra.

Jem. Ahh, sudah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali dirinya mendengar panggilan sayang itu meluncur dari mulut istrinya. Uncle J tersenyum membayangkan istrinya itu, senyuman yang dibarengi guratan kesedihan yang melintas di matanya. Uncle J kembali menghela napas panjang dan kali ini pikirannya membawanya teringat akan Bradley.

Bradley. Anak semata wayangnya, buah hati kebanggaannya, walau hal itu tidak pernah dikatakannya kala anak itu masih hidup. Denyut kepedihan mulai menyelusup masuk ke dalam hatinya.

Bradley. Little Brat, begitu kadang Uncle J suka memanggilnya walau Bradley bukanlah anak nakal, dia hanyalah bocah cilik dengan segudang pertanyaan akan segala sesuatu yang seringkali membuat dirinya kewalahan dalam usahanya menjawab pertanyaan-pertanyaannya, dan Bradley biasanya tertawa melihat ayahnya kelimpungan dengan rentetan pertanyaannya. Sambil memamerkan barisan giginya yang putih, Bradley berkacak pinggang di hadapan ayahnya dan berkata, "Ayah, jika Ayah tidak tahu jawabannya, mungkin Ayah yang seharusnya pergi ke sekolah setiap pagi, dan bukan aku!", dan dengan tawanya yang membahana Bradley akan berlari menghindari kejaran Uncle J.

Uncle J kembali tersenyum, kali ini rasa kangen menyeruak ke permukaan. Uncle J tampaknya sudah siap membiarkan pikirannya kembali membawanya ke masa lalu namun geliat gelisah Lucy menyadarkannya kembali ke masa kini. Uncle J menggeser kursinya agar lebih dekat ke ranjang Lucy, kemudian ia mengulurkan tangannya dan mengenggam tangan keponakannya, berusaha menyalurkan denyut kehidupan ke tubuhnya. Lucy tidak bereaksi namun Uncle J tetap menggenggamnya sambil menatap wajah Lucy, dan kali ini Uncle J melihat keponakannya seakan-akan dia baru pertama kali melihatnya.

Sejak kapan pipinya menjadi tirus seperti itu? Sejak kapan lingkaran hitam mulai menghiasi bagian bawah matanya? Dalam ingatannya hanya terpatri Lucy yang selalu tampak segar dan ceria. Ahh, Lucy.. apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa kamu tidak mau berbagi cerita dengan Uncle-mu ini?

Kata-kata itu membuat Uncle J tercenung. Baru kini Uncle J menyadari sesuatu. Bukan, mungkin bukannya Lucy tidak mau berbagi cerita dengannya, namun dirinya yang menutup diri terhadap Lucy. Ya, kali ini Uncle J bisa melihat segalanya dengan lebih jelas.

Dari dulu Uncle J memang lebih dekat dengan Isabel, terlebih sejak kepergian Bradley, Uncle J semakin dekat dengan Isabel karena Isabel mengingatkannya pada Bradley, bukan hanya karena Isabel seumur dengan Bradley, tapi karena keduanya mempunyai daya imajinasi tinggi yang membuat mereka berdua sibuk dalam dunia khayal-nya sendiri ketika sedang bermain bersama. Sesekali Uncle J bisa masuk ke dalam dunia khayal mereka, karena sosok mereka berdua mengingatkannya akan masa kecilnya yang juga dipenuhi imajinasi.

Senyum kembali menghiasi wajah Uncle J ketika ingatannya kini menyeretnya jauh ke puluhan tahun silam yang mana dalam benaknya hadir seorang bocah lelaki berusia tujuh tahun berambut pirang mencuat ke atas dan pipi bersemu kemerahan, napasnya tersengal-sengal karena dirinya baru saja berlari melintasi perbukitan untuk segera tiba di rumah dan mencari sang ibu, "Mama.. Mamaa.. tebak apa yang baru saja aku temukan?!" tanyanya senang ketika berhasil menemukan ibunya di dapur sedang menanak nasi dan bersiap memasak hidangan untuk makan siang.

"Apa yang kamu temukan, Jeremiah?"

"Ughh.. Mamaa.. apa perlu memanggil namaku selengkap itu? Aku sebel dengan namaku itu. Panggil aku Jeremy, Mamaa.. Jeremyy!"

"Baiklah, Jeremii," Kilatan menggoda tampak di mata sang ibu, "..aahh.." dan sang ibu tertawa melihat anaknya memberengut.

"Mamaa.. aku sebel ama Mama, aku tidak jadi cerita ah!" Sang anak ngambek dan bersiap meninggalkan dapur sambil berharap sang ibu akan memanggilnya kembali namun sang ibu malah melanjutkan kesibukannya yang sempat terputus karena kedatangan sang anak.

Akhirnya sang anak tidak tahan juga dan kembali berkata, "Aku menemukan telur naga, Mamaa!"

Mata sang ibu membulat mendengar perkataan anaknya, "Masa? Coba Mama lihat." Sang ibu mengelap tangannya yang kotor di celemek yang menggantung di badannya dan mengalihkan perhatian pada sang anak.

Dengan penuh kemenangan sang anak merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebutir telur yang hanya sebesar satu ruas ibu jari, kulitnya berwarna putih dengan bercak-bercak coklat.

"Kok kecil sekali yaa, Jeremiah?" Sang ibu bertanya heran.

Sang anak mengabaikan panggilan ibunya dan menjawab, "Tentu saja kecil, Mama, namanya juga masih berupa telur! Tapi nanti kalo udah dierami oleh induknya tentu telur ini akan semakin membesar dan terasa denyut kehidupan ketika kita menaruh telapak tangan kita di kulitnya, Mama, dan nanti bila telurnya sudah sebesar ini," Sang anak mengatupkan kedua tangannya menjadi satu gumpalan besar, "baru dia akan menetas menjadi anak naga, Mama!"

Sang ibu mengangguk-angguk seakan semua yang anaknya bilang masuk akal baginya. Sang anak tersenyum senang melihatnya dan berkata murah hati, "Kalo Mama mau, Mama boleh menyimpan telurnya itu."

"Oh tidak, sayangku, nanti ibu naga akan mencarinya ke sini, tidak, tidak! Mama tidak mau itu terjadi." Sang ibu menggeleng-gelengkan kepalanya tegas.

Sang anak cekikikan mendengar jawaban ibunya, "Mamaa.. Mamaa.. itu khan hanya telur burung puyuh biasa, jadi Mama tidak perlu kuatir akan dikejar-kejar ibu naga."

Sang ibu tertawa renyah mendengar ucapan anaknya, "Mama tahu, Sayang, hanya saja Mama tidak ingin merusak daya imajinasimu itu." Sang ibu mengelus sayang anaknya.

Mendengar ucapan ibunya, sang anak memeluk erat ibunya dan berbisik penuh sayang, "Mama, aku sayang sekali sama Mama, Mama tahu itu?"

"Iya, Sayang, Mama juga sayang sama kamu." Mereka berdua tersenyum sambil berpandangan.

'Jangan tinggalkan aku ya, Maa,' sang anak berbisik dalam hatinya karena mulutnya tidak sanggup mengucapkan kata-kata itu. Sebersit airmata tampak di pelupuk mata Uncle J.

Betapa inginnya ia kembali ke masa itu, masa di mana ia masih bisa mendengar suara sang ibu, masa di mana ia masih bisa memeluk tubuh ibunya dan menyurukkan kepalanya ke dada sang ibu yang akan membalas pelukannya dan mengusap kepalanya sambil bertanya mengapa ia bersusah hati.

'Oh, Mama.. andai Mama tahu, aku rela mendengarmu memanggilku Jeremiah ribuan kali asalkan Mama masih ada di sisiku.' Airmata itu kembali menitik.

'Uncle.. Unclee..' Sayup-sayup terdengar suara lemah yang menyadarkan Uncle J dari lamunannya akan masa lalu. Uncle J juga merasakan ada gerakan jemari dari tangan yang digenggamnya. Uncle J mengalihkan pandangannya ke arah Lucy dan melihatnya membuka matanya.

Uncle J  mengusap matanya, "Oh, Puji Tuhan, Lucy, syukurlah kamu telah sadar!!"

Lucy tersenyum lemah dan tatapan matanya masih terlihat sayu, "Uncle, Uncle masih akan di sini khan?" Lucy berkata terbata-bata, "Uncle tidak akan meninggalkan Lucy khan?"

"Tentu saja, Lucy." Lucy kembali tersenyum dan menutup matanya kembali. Hanya sesekali terdengar dengkuran lembut Lucy. Pintu kamar terbuka. Uncle J menoleh dan melihat Papa, Mama serta Isabel baru kembali dari makan siang mereka. uncle J menempelkan telunjuk ke bibirnya agar mereka tidak berisik.

Dengan langkah pelan ketiganya berjalan mendekati Uncle J.

"Bagaimana, J? Dia sudah sadar?" Mama berbisik menanyakan kabar putri sulungnya. Papa menarik sebuah kursi lagi ke samping tempat tidur dan duduk sambil memandang wajah putrinya yang tertidur dengan tenang.

"Ya, dia tadi sempat membuka matanya untuk kemudian kembali tertidur." Uncle J memutuskan untuk tidak memberitahukan dulu perkataan Lucy padanya tadi. Tentunya bukan itu yang ingin didengar kedua orangtuanya saat ini, bukan?

"Uncle, Uncle ngga mau makan? Ini, aku bawakan burger dari kantin rumah sakit, semoga rasanya enak." Isabel menyerahkan kantong kertas berisi burger dan kentang goreng.

"Makasih ya, Isabel, kamu udah makan, Sayang?" Isabel mengangguk.

"J, kamu istirahat dulu saja." Mama menunjuk ke arah sofa.

Tanpa protes, Uncle J menurut dan berjalan ke sofa ditemani Isabel. Uncle J bolak balik menatap ke arah Isabel dan Lucy. Hanya mereka berdua kini yang dimilikinya setelah Bradley tidak ada lagi bersamanya. Uncle J menatap sayang Isabel.

"Kamu ada berita apa hari ini, Isabel?" Mata Isabel berbinar dan ia mulai bercerita pada Uncle-nya yang sesekali mengangguk dan tersenyum.

~.*.~

Cerita terkait bisa dilihat di "Lucy & Isabel".