Skip to main content

Pemisalan Tentang Orang Gila yang Bahagia dan Sombong

gambar diunduh dari sini
-satu-

“Menjadi gila adalah pencapaian terbesar dalam hidupku”, katanya sambil memasuki sebuah kubikel putih dengan lantai, dinding dan langit-langit putih. “Senang rasanya terbebas dari ikatan kewarasan yang selama ini memasungku.”

Lelaki itu lalu menari dalam putaran tiga kali, meneriakkan sesuatu yang telah lama tak terdengar dari negeri ini, “Merdeka! Merdeka! Merdeka!”




-dua-

Setiap Minggu sore, sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka Komunitas Anti Kemapanan berkumpul di bawah sebatang pohon akasia di depan kompleks perumahan. Di sana, mereka mengenakan topeng kegilaan, menandak-nandak serupa pemain kuda lumping yang kesurupan. Esok harinya, masing-masing seperti biasanya, mengenakan dasi mereka, berangkat kerja dan menyebut diri mereka para eksekutif muda.

-tiga-

Pernah, aku bertanya pada orang gila yang sering nongkrong di pasar, “Apa tidak bosan menjadi orang gila?”
Ia seketika tergelak, “Aku pernah hendak menjadi pengemis, tapi memasang tampang memelas pada akhirnya hanya akan memutuskan saraf kebahagiaanku. Lagian, aku ingin bebas, tidak dilindungi oleh Undang Undang Dasar 45.”

-empat-

Kabarnya, ia menjadi gila setelah gagal menjabat sebagai bupati di daerahnya. Ketika kutemui sedang menghirup segelas susu di warung kopi, lelaki tua itu terlihat begitu bahagia. Katanya, “Aku menolak menjadi pejabat dan memilih menjadi gila. Kukorbankan diriku sendiri supaya rakyat tidak menjadi gila karenaku.”

-lima-

Siapa bilang orang gila tak perlu identitas? Di jaman sekarang ini, banyak yang suka berpura-pura gila. Untuk menjadi seorang gila yang diakui negara, maka serangkaian tes dan ujian perlu dilewati.

“Mulai detik ini aku resmi menjadi orang gila,” katanya sambil memperlihatkan Kartu Tanda Gila yang baru ditandatangi Pak Camat. “Sekarang aku berhak menjadi bahagia.”

-enam-

Apa bedanya orang kaya dengan orang gila?
Orang kaya mempunyai rumah besar, istri yang cantik dan uang yang berlimpah. Mereka kerap terlihat bergerak sibuk dan gelisah.

Orang gila mempunyai semesta sebagai rumahnya, Dewi Persik sebagai istri dan tak pernah dipusingkan oleh uang. Mereka selalu berjalan santai dan terlihat sangat bahagia.

-tujuh-

Aku menatap formulir isian untuk laporan kelulusanku dengan gamang. Di kolom cita-cita, aku berhenti lama sekali. Haruskah kujawab dengan jujur atau mengikuti sebagian besar temanku, yang memilih menjadi pejabat koruptor, politikus perampok, atau pengacara pemeras?

Gemetar, kugerakkan pulpenku menulis dengan huruf besar-besar. Cita-cita: menjadi GILA.

-delapan-

Seorang pendatang baru di kampung kami yang katanya datang dari negeri yang jauh, sukses menjadi orang kaya dalam waktu dua bulan. Ia membuka kursus. Di depan rumahnya, berdiri sebuah plang kayu bertuliskan: Kursus Menjadi Orang Gila yang Bahagia.

-sembilan-

Orang gila itu menatapku dengan marah. “Kau pikir orang gila itu tak punya harga diri?”
Itu, ketika kutawari ia menjadi pemeran utama di filmku dan kujanjikan akan mengorbitkannya menjadi seorang selebriti.

-sepuluh-

Gila itu romantis. Bahagia itu gila. Gila itu gila. Gila itu tak mengerti. Untuk apa dimengerti kalau gila? Gila yah gila. Aku gila. Kau mau ikutan gila kah?

Gila! yang nulis ini
(lebih gila lagi yang baca)

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…