Monday, August 22, 2011

Pergi...


Sumi mengemasi barang-barangnya dengan hati riang. Apalagi ya, ia memperhatikan seisi kamarnya dan menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya sudah semuanya, ia menarik napas dalam-dalam. Ia toh tidak membawa banyak baju ketika datang ke Jakarta dan bekerja di rumah majikannya.

Ah, tidak terasa sudah tiga tahun ia tidak pulang. Sumi duduk dan pikirannya melayang ke rumahnya di Ringinpitu. Ia ingat kedua adiknya yang masih kecil ketika ia tinggalkan. Orangtuanya yang keberatan ketika ia yang saat itu berusia 16 tahun pergi bersama temannya ke Jakarta. Sudah begitu banyak berita kejahatan yang terjadi di sana. Tapi Sumi tetap memaksa karena ingin membantu orangtuanya. Lagipula, alasan utama ia berani berangkat karena ia akan bekerja dengan temannya di rumah majikan yang sama. Ibu dan Bapak Siswono yang memerlukan penjaga anak dan juga seorang pembantu. Mereka adalah pasangan yang berusia di awal 40 tahun dan selalu bersikap ramah. Sikap ramah itu yang membuat Sumi betah hingga berani bekerja sendiri ketika temannya memutuskan pulang kampung sendirian. Dan sekarang, tiba saatnya ia pun harus kembali ke rumah orangtuanya.



"Kamu sudah siap Sumi?" ia nyaris terlonjak dari tempat tidur ketika menyadari bahwa Ibu Siswono sudah ada di kamarnya. Ia mengangguk seraya diam-diam memperhatikan Ibu Siswono yang tersenyum padanya. Majikannya itu sungguh cantik dengan kulitnya yang kecoklatan namun terlihat seolah berkilau. Rambutnya yang hitam legam dan menjuntai halus di punggungnya. Belum lagi alis mata yang tebal dan bulu mata yang lentik. Tidak ada cacat sama sekali baik dari luar maupun dari dalam. Ia membandingkan dengan dirinya yang pendek dan kurus ceking. Kulitnya yang banyak bekas luka walaupun sudah jauh berkurang dibandingkan ketika ia pertama kali tiba di Jakarta. Luka yang didapat karena ia sering terjatuh ataupun terbaret kayu. Rambutnya kering dan kasar dan tidak bercahaya sama sekali.

"SUMI! Kamu melamun lagi ya? Wah, kebiasaan ini ternyata susah sekali hilangnya," suara Ibu Siswono agak meninggi. Sumi terlonjak lagi dan buru-buru berdiri namun bingung akan menjawab apa. Jadi ia hanya terdim di tempat seraya berharap Ibu Siswono akan mengulang pertanyaan atau perintah atau komentar. Ibu Siswono menggelengkan kepalanya dan meminta Sumi untuk mengikutinya ke ruang tamu.

Di ruang tamu sudah ada Bapak Siswono yang tengah menonton acara berita di televisi. Ketika dilihatnya sang istri telah datang menghampirinya ia pun langsung mengecilkan volume televisi. Mereka berdua duduk berdampingan dan mempersilahkan Sumi untuk duduk. Sumi pun mengucapkan terima kasih dan duduk di pinggir sofa di ruang tamu tersebut dan menunggu.

"Nah, Sumi besok kamu akan kami antar ke terminal Pulo Gadung. Tapi sebelumnya ada yang ingin kami tanyakan," Bapak Siswono berpandangan sejenak dengan istrinya dan kembali memandang Sumi. "Apa benar kamu mau membawa sendiri uang gaji kamu beserta THR? Jumlahnya cukup besar..."

Sumi menganggukkan kepalanya seraya menghela napas. Ia sudah menjelaskan bahwa ada sesuatu yang ingin ia beli sebelum tiba di rumah. Karenanya untuk gaji bulan ini akan ia bawa langsung dan tidak di transfer lagi lewat temannya. Ya, selama ini ia meminta tolong temannya untuk menyerahkan gajinya pada orangtuanya. Bahkan bersedia untuk menjadi tempat komunikasi dengan meminjamkan handphone. Ia mulai lagi membayangkan suara orangtuanya yang terdengar senang ketika tahu ia akan pulang tahun ini.

"Dan karena kamu suka melamun seperti inilah makanya kami khawatir, SUMIII... Kamu dengar gak sih?" Ibu Siswono mulai meninggikan lagi volume suaranya. Astaga, untunglah anak ini tidak pernah melamun ketika sedang bekerja dan mengurus anaknya, ia mengeluh dalam hati.

Sumi yang kembali lagi ke dunia nyata tergagap namun berusaha terlihat mantap. Karena Sumi terlihat sudah tidak bisa dirubah lagi pendiriannya, maka Bapak Siswono beranjak dari ruang tamu menuju kamar. Ia lalu keluar lagi seraya membawa amplop yang terlihat tebal dan mengangsurkannya pada Sumi. Dengan hati yang gembira Sumi pun menerima amplop tersebut dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ia meminta ijin ke kamarnya dan begitu di dalam ia langsung menghitungnya. Aduh, bener-bener baik sekali mereka berdua memberikannya THR di bulan ini sementara bulan puasa saja belum berlangsung. Ia bersyukur dalam hati berterima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukannya dengan orang-orang yang baik hati.


Dan senyuman serta rasa syukur itu masih terlihat menempel di wajahnya ketika keesokan harinya pasangan suami istri tersebut mengantarkannya ke terminal Pulo Gadung.

"Sumi, ingat nasehat saya ya...," suara Ibu Siswono kembali menyadarkannya bahwa mereka masih dalam perjalanan. "Jangan mau diajak ngobrol sama orang yang gak kamu kenal, jangan mau menerima apa-apa sama orang yang gak kamu kenal, jangan mau diajak kemana-mana sama orang yang gak kamu kenal... Ngerti kamu?" Ketika dilihatnya Sumi hanya mengangguk-angguk Ibu Siswanto memintanya mengulangi lagi apa yang sudah ia katakan. Wanita tersebut baru terlihat puas ketika Sumi berhasil mengulangi nasehatnya. Tidak disadarinya bahwa Sumi sekarang tengah ingin berkonsentrasi pada tujuannya pulang ke rumah. Namun Sumi merasa sedih juga berpisah dengan Lili, anak majikannya yang sekarang dititipkan pada kakek neneknya. Ia menyambut pelukan Ibu Siswanto yang lalu menepuk-nepuk pundaknya. Lalu ia mengucapkan terima kasih perlahan pada Bapak Siswanto yang memberikan tasnya. Lalu mereka pun kembali ke mobil dan meninggalkannya.


Ia menghembuskan napas lega dan berusaha memastikan bahwa mobil majikannya sudah hilang dari pandangan. Lalu ia menyeberang jalan menuju ke dalam terminal dan merasakan tepukan di pundaknya.

"Mas!" dengan gembira ia menyambut pria yang menepuknya itu. Pria itu hanya tersenyum tipis dan pertanyaan yang pertama diajukan adalah,"Kamu bawa gak uangnya?" Sumi tersentak mendengar pertanyaan tersebut dan sejenak merasa kecewa. Namun ditepisnya perasaan itu karena pria ini lah yang akan ia kenalkan pada orangtuanya nanti. Mereka akan mampir di Grobogan untuk membeli cincin dan ia tidak keberatan walau harus menggunakan uangnya. Pria tersebut lalu mengajaknya ke warung terdekat karena bus yang akan mereka tumpangi masih belum tiba. Sumi menganggukkan kepala pertanda setuju dan mengikutinya dengan hati riang. Pria yang sesekali datang ke rumah majikannya untuk memotong rumput di rumah majikannya itu terlihat tegap dari belakang. Mudah-mudahan ia bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik di kampung, desah Sumi dalam hati. Ia ingin membuktikan bahwa apa yang sering ia dengar dari majikannya mengenai pria itu tidak benar. Bahwa pria miliknya itu suka menganggu para pembantu wanita di kompleks mereka. Bahwa sebenarnya majikannya khawatir Sumi akan bernasib sama seperti temannya yang terpaksa mereka pulangkan akibat termakan rayuan pria tersebut dan hamil di luar nikah. Tidak mungkin pria calon pasangan hidupnya seperti itu.

Matanya nyaris tidak lepas dari pria tersebut bahkan ketika mereka makan siang bersama. Khayalannya melambung, membayangkan kehidupan indah yang akan di tempuhnya nanti. Ia tersenyum menyambut minuman yang diberikan oleh pria tersebut padanya. Sungguh sangat perhatian, pikirnya dengan senang. Perasaan melambung itu masih dirasakannya ketika langkahnya mulai terasa berat dan pandangannya mengabur. Ia merasakan sakit yang aneh di perutnya dan mual sehingga meminta untuk dipapah agar bisa mencari tempat duduk. Pria tersebut membantunya untuk duduk dan mengatakan akan membeli obat. Dirasakannya pria tersebut mengambil tasnya dan ia tahu semuanya akan aman. Pria itu pasti berniat untuk menjaganya dari orang-orang tidak dikenal yang sekarang mengerumuninya. Ia memandangi orang-orang yang terlihat seperti berbicara namun teringatnya pesan Ibu Siswono untuk tidak berbicara pada orang yang tidak dikenal. Karenanya ia pun terdiam dan melayangkan matanya ke langit yang cerah. Tunggu, kenapa ia seperti bisa melihat rumahnya? Oh, itu temannya yang sedang memegang bayi mungil dan orangtuanya yang tengah duduk di depan rumah. Dua anak lelaki yang kelihatannya baru menginjak usia remaja terlihat keluar dari dalam rumah dan bersenda gurau. Apakah itu adik-adiknya? Lalu ia merasa seperti melayang dan melaju dengan cepat melalui lorong-lorong yang berwarna putih. Beberapa wanita yang berpakaian putih terlihat mengelilinginya. Matanya memutar sejenak dan ia tercekat melihat pria kekasihnya itu tengah berada dalam bus dengan seorang wanita muda cantik. Mereka memegang amplop uang miliknya dan tertawa-tawa bersama. Dirasakannya pandangannya memutar dan yang ada dihadapannya adalah rumah majikannya. Ia terpana ketika melihat Lili yang mengulurkan tangan padanya. Ia menggapai ingin meraih tangan tersebut tapi Lili tidak terjangkau juga olehnya. Ia berusaha keras karena khawatir melihat raut wajah Lili yang mulai terlihat menangis. Tapi ia tetap tidak bisa dan hanya mampu melambaikan tangan. Tangisan Lili mulai berkurang dan ia pun membalas melambai. Kemudian Lili pun menghilang tergantikan oleh awan kelabu gelap. Dan lama kelamaan awan tersebut memenuhi pandangannya sehingga yang tidak ada lagi yang bisa terlihat.


"Duh, anak ini kenapa ya kok menangis melulu," Ibu Siswono sembari memeluk putrinya yang terus menangis. Tangannya terulur ke depan seolah ingin mengajak orang lain memeluknya. Tapi ia merupakan orang terakhir yang kebagian giliran memeluk Lili setelah orangtuanya dan suaminya gagal menenangkan anak tersebut. Badannya tidak panas kok, keluhnya dalam hati. Matanya memandang keluar dan ia tersentak ketika melihat sesosok wajah yang dikenalnya. Ia pun berteriak memanggil orang tersebut sehingga suaminya nyaris menumpahkan teh yang tengah diminumnya.

"Loh, kok Sumi balik lagi? Bukannya ia ngotot mau pulang?" ia menjulurkan lehernya dan mulai berjalan menuju ke teras. Suaminya menyusulnya di belakang dan ketika mereka sampai di depan ternyata tidak ada siapa-siapa.

"Ah, kita kok gak terpikirkan kalau Lili kangen sama Sumi...," suaminya menepuk dahinya. "Dan ternyata kamu juga sama saja... Ayolah, jangan dipikirkan terus. Nanti dia gak tenang sepanjang perjalanan..." Dan tanpa menunggu jawaban, Bapak Siswono pun masuk ke dalam rumah. Ibu Siswono menghela napas dan mengusap kepala Lili yang masih terisak-isak. Sabar ya sayang, bisiknya dalam hati. Sumi cuman pulang sebentar kok... Nanti dia pasti balik lagi... Pasti...

Ia pun masuk ke dalam rumah mengikuti suaminya tanpa memperhatikan bahwa anaknya tengah melambai ke arah pintu pagar. Dan matanya terus menatap ke sana hingga akhirnya pintu rumah ditutup.