Saturday, August 20, 2011

Rindu, Dua Minggu Mencari Cinta

Colour Sketch Of A Redhead Oleh Azam Raharjo
1/ Mimpi?

Kamu punya mimpi? Kita semua pastinya punya mimpi, ada yang memimpikan hal-hal yang besar, ada yang memimpikan hal-hal yang sederhana. Ada yang kerja keras untuk mewujudkan impiannya, ada yang hanya sekedar bermimpi dan merasa puas dengan bermimpi. Ada juga yang menyusun hidupnya sesuai dengan mimpi-mimpinya. Balok demi balok di susunnya mimpi itu, bata demi bata membentuk sebuah bangunan kehidupan, miliknya.

Tapi, sebenarnya kita semua sudah tahu kan, kalau beberapa hal dalam hidup ini bisa saja tidak berjalan sesuai dengan skenario yang sudah begitu rapi dan cermat disusun? Dalam kondisi tertentu, selalu saja ada faktor x yang tiba-tiba muncul, tak terdeteksi sebelumnya di radar, sama sekali tak terprediksi. Begitulah yang sedang terjadi saat ini kepada Rindu.


Rindu yang ini bukan sebuah rasa, dia seorang perempuan muda yang menanti kekasihnya datang menjemput. Yang sudah beberapa minggu melaksanakan mogok makan demi angka timbangan ideal sesuai dengan mimpinya. Yang sengaja memesan baju pengantin berukuran satu nomor lebih kecil dari ukuran tubuh sesungguhnya. Nggak masuk akal? Siapa bilang, bagi Rindu, yang selalu bekerja mengejar target, size itu menjadi target yang harus dikejar dan tantangan untuk ditaklukkan.

Rindu punya mimpi, dibopong oleh tangan-tangan kuat seorang kekasih saat memasuki rumah baru mereka, lalu mereka pun bercinta dengan tubuhnya yang super langsing itu agar kekasihnya lebih-lebih lagi jatuh cinta kepada Rindu seperti Rindu mencintai Rindu.

Mimpi Rindu itu sebetulnya, selain self-centered, mirip seperti kertas yang rapuh lalu hancur saat terendam air. Saat dia bangun dari tidurnya, dia bisa saja sudah lama kehilangan mimpinya, sehingga sama sekali tidak ingat apa mimpinya. Atau, dia ingat apa mimpinya sampai detik-detil terkecil sekalipun, namun tak mampu kembali ke dalam mimpi yang sama untuk menemukan sebuah detil yang seharusnya bisa diperbaiki. Tidak perlu heran kalau mimpi-mimpi itu sama rapuhnya dengan kehidupan nyata yang bisa tiba-tiba berbalik menjadi sangat tidak nyata sama sekali, berubah menjadi lebih mirip sebuah mimpi buruk, ya mimpi buruk itu juga bagian dari mimpi, kan? Seperti saat ini.

Rindu memandang sepasang cincin yang diterimanya pagi tadi. Dan sepucuk surat, singkat saja, “Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Maafkan aku.”

Tidak bisakah kita bicarakan baik-baik? Tanya Rindu.
“Tidak. Tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan.”
Setidaknya. Temui aku dulu.
“Sebaiknya tidak. Aku perlu waktu untuk sendiri.”
Kau perlu waktu untuk sendiri? Lalu bagaimana dengan aku!?
“Ini sebabnya aku tidak bisa bertemu denganmu. Kamu pasti emosional.”

Ya iyalah, geblek! Kamu memutuskan tidak jadi menikah setelah kartu undangan disebarluaskan, gedung sudah dibayar lunas, baju pengantin sudah siap, aku sudah berhasil mencapai berat idealku, dan rumah itu sudah siap buat kita tempati. Brengsek kau! Dan kalau kamu pikir aku akan menangisi kepergianmu, ha! jangan ge-er! The show must go on, with or with-out you!

Percakapan imajiner itu begitu menggoda. Menggoda untuk menjadi pelampiasan dari hancurnya kepingan mimpi paling akhir. Skenario itu berputar-putar di kepala Rindu. Tapi..., tunggu dulu. Rindu menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan-pelan. Inhale..., exhale...., inhale...., exhale.... Marah-marah bisa ditunda, Rindu menganggukkan kepalanya keras-keras dan mengepalkan tangannya kuat-kuat, the show must go-on, itu jelas! Ini kan mimpinya. Ini skenarionya.

Tidak ada yang bisa menghancurkan mimpinya. Ohoho! Rindu mengeraskan rahangnya. Dikibaskannya rambutnya yang kemerahan dan sangat terawat itu. Mereka bilang, perempuan berambut merah biasanya keras hati dan keras kepala, tentu saja cerdik dan tidak gampang putus asa. Itu sebabnya dia memilih untuk meng-highlight rambutnya, selain karena sangat cocok dengan kulitnya yang putih susu dan wajahnya yang memiliki susunan tulang pipi tinggi, hidung mancung dan bibir yang penuh, juga karena kualitas-kualitas yang, katanya, melekat pada rambut merah. Sudah saatnya membuktikan bahwa hal itu benar!

Baiklah. Baiklah. Dia menimbang-nimbang sambil menggerak-gerakkan lehernya ke atas dan ke bawah lalu ke kiri dan ke kanan. Tidak perlu panik. Katanya sembari tersenyum. Apa yang kurang? Hanya pengantin laki-laki saja. Tidak masalah. Aku hanya perlu mencari penggantinya. Yes! Itu dia! Oke, mari kita lihat berapa banyak waktu yang masih tersisa?

Rindu mengangkat pantatnya dari atas sofa menjangkau alat komunikasinya untuk menemukan tanggal pernikahannya yang tiba-tiba saja menguap dari otaknya. Kalem, Rindu, kalem, katanya kepada diri sendiri. Oh, Okei, masih ada waktu dua minggu lagi. Masih cukup waktu. Tidak ada waktu untuk bermellow ria. Dia memencet tombol otomatis, “Hai.. kira-kira, ada nggak laki-laki yang siap nikah dalam waktu 2 minggu?” Diliriknya arloji mungil pada pergelangan tangannya, pukul 10 lewat tiga menit. Ah, betapa jauh rasanya jarak antara pukul delapan pagi, saat ia menerima paket dan surat tak terduga itu, dengan saat ini, pukul sepuluh pagi menuju siang. Rindu ingin menendang pantatnya sendiri karena sudah menyia-nyiakan dua jam. Dua jam! Pekiknya dalam hati, dan dia tidak ingat apa yang dilakukannya selama dua jam itu. Jelas dia tidak menangis. Mungkin terlalu sibuk mengatur susunan otaknya yang berantakan karena terguncang.Sial! Dua jam!

"He dumped you?!" Jeritan itu terdengar begitu tinggi menembus gendang telinga Rindu. "Heh, nggak heran. Sudah dari awal-awal aku kepingin banget ngomong ke kamu, dia itu brengsek. Nah, terus terang, aku malah senang dia out of the picture. Good for you! Gimana ceritanya?"

Good for me? Rindu melotot tak percaya. Apakah ada sesuatu yang terlewatkan olehnya selama ini, selain tentu saja sibuk dengan diri sendiri, tetapi siapa yang dapat menyalahkannya. Dia memang super sibuk, dengan pekerjaannya, dengan kehidupan sosialnya, dengan dirinya sendiri yang juga menuntut perhatian penuh, siapa lagi yang akan menyayangi diri sendiri kalau bukan diri sendiri? Apa maksud Nadine dengan good for you-nya itu? Ah, sudahlah, Rindu menepiskan pertanyaan itu, fokus, prioritas utama saat ini adalah mencari jalan keluar, bukan sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Nadine! Aku nggak punya waktu untuk bercerita." Lagipula, Rindu memang tidak tahu apa ceritanya, dan apakah penting-penting amat untuk saat ini? "Yang aku perlukan adalah jalan keluar dari semua ini. Aku memerlukan laki-laki pengganti Dewa."

"Beuh, namanya saja menyebalkan, Dewa. Nggak ada dewa yang nggak menyebalkan, Rindu. Dewa-dewa itu semuanya memuakkan dan egois, dari dulu kala mereka begitu, itu sebabnya kemudian para polytheist mengganti mereka dengan Tuhan yang monotheist, pastinya tidak banyak maunya seperti dewa-dewa yang seringkali saling berperang sendiri dan mengadu domba manusia."

"Nadine. Fokus. Sekarang ini, dia bukan lagi masalahku. Masalahku adalah mencari penggantinya."

"Tunggu. Kamu tidak ingin menangis, walaupun cuma sedikit?"

Rindu memutar matanya. Menangis? Dia lebih ingin bertinju dan mengeluarkan keringat atau meninju seseorang hingga berdarah dibandingkan dengan mengeluarkan air mata. "Nggak." Jawabnya tegas. "Aku perlu laki-laki. I am desperate!"

"Kalau saja kamu ngomong begitu dalam situasi yang berbeda." Nadine jelas-jelas berusaha menahan diri dari tertawa terbahak-bahak.

"Sama sekali nggak lucu, Nadine! Seluruh reputasiku dipertaruhkan di sini. Aku tidak bisa.. No, aku tidak mungkin membatalkan pesta pernikahan itu. Aku tidak mau! Tanggal yang tepat, bulan yang tepat, tahun yang tepat! Semuanya tepat..."

"Kecuali pengantin laki-lakinya?"

"Gini deh, kamu mau ngebantuin aku atau nggak, kalo kamu nggak mau, bilang! Jadi aku nggak buang-buang waktu ngobrol nggak jelas gini sama kamu!"

"Okei, okei... calm down. Beri aku waktu setengah jam, Ok?"

***

Aku sering berpikir, kalau pada suatu ketika nanti, dia menengok ke belakang, apa yang akan ditemukannya? Apakah dia akan menemukan begitu banyak hal yang sudah disusun dan diinvetarisirnya baik-baik, malah menjadi hal-hal setengah jadi yang tak berguna ataukah setiap stock mimpinya benar-benar berhasil diwujudkan sesuai dan sewarna dengan apa yang diinginkannya?

Tentu saja, mimpi-mimpi tanpa realisasi, terpaksa harus dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan disimpan di gudang. Mungkin, itu sebabnya ada istilah “segudang mimpi” karena memang lebih banyak mimpi-mimpi yang kemudian masuk ke dalam gudang dan tidak pernah lagi berhasil menghirup udara bebas. Selamanya ia tertahan di sana, di tempat yang sumpek dan mampet itu. Lalu dilupakan, begitu saja.

Bagaimana dengan mimpi Rindu ini? Kayaknya kita sama-sama harus menunggu setengah jam yang dijanjikan Nadine. Ah, janji, itu lagi, sebuah topik yang perlu dibahas juga, deh. Berapa banyak janji-janji yang tidak dipenuhi bila dibandingkan dengan janji-janji yang dipenuhi? Mari kita simpan dulu topik yang satu ini.

2/ 30 Menit Kemudian