Friday, August 19, 2011

Sepucuk Janji kita yang Sampai ke Meja Kerjaku Pagi Ini

gambar diambil dari sini
Surat itu sekarang tergeletak di atas meja kerjaku, di samping tumpukan berkas-berkas yang menunggu tanda tanganku. Tadi pagi, ia diserahkan langsung ke tanganku oleh pengacara yang juga adalah sahabat masa kecilku. Aku mengangkat surat bersampul coklat itu, membaca sebaris nama yang tertulis di atasnya dengan nanar. Hati-hati dan perlahan, kusobek pinggiran surat yang bersegel itu, mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan tangan yang sudah sangat kuhafal. Tubuhku seperti kehilangan gravitasi, limbung dalam gamang yang panjang ketika kubaca kata demi kata yang kini seolah sedang mengejarku dengan janji dan panji-panji.



Kepada aku,


Selamat!
Hari ini kamu resmi dilantik menjadi anggota tim penyidik di KPK. Masih ingat dengan semua perjuangan berorasi menentang rezim orde baru ketika kamu masih berstatus mahasiswa? Ideologi mewujudkan Indonesia baru yang kamu doktrinkan diam-diam melalui surat edaran dan selebaran-selebaran? Perjuanganmu siang dan malam mengerjakan semua ketikan terjemahan demi biaya melanjutkan pendidikan S2? Semuanya terbayar hari ini!


Bagi orang lain, mungkin kamu hanya seorang anggota KPK biasa yang tidak bergaji tinggi. Tapi bagiku, kamu adalah seorang pahlawan, yang akan membantu mewujudkan Indonesia bebas dari korupsi! Kamu akan memastikan semua kekayaan yang diambil dari tanah pertiwi ini dikembalikan kepada rakyat dan tidak diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, siapapun itu. Kamu akan menyelidiki instansi yang dicurigai terlibat dalam penggelapan dana, mengumpulkan bukti-bukti dan mengejar mereka sampai ke belahan dunia terjauh sekalipun!


Dalam tugasmu mewujudkan cita-cita Indonesia yang bebas dari korupsi, tentunya kamu akan menghadapi banyak tantangan, juga godaan. Tapi aku tahu kamu akan selalu mengingat idealisme yang membakar dadamu dan rekan-rekanmu dengan warna merah dan putih Indonesia. Kamu akan menemukan keteguhan dari Tuhan dan genggaman tangan istrimu, istri kita, yang berjilbab dan berhati lembut seperti awan di langit. Kamu akan memandang mata kedua putramu dan mengingat janji masa depan negeri yang akan kamu wariskan kepada mereka, dan juga kepada jutaan anak-anak lainnya. Aku tahu kamu akan menepuk dadamu dengan bangga, mengatakan TIDAK dan hanya TIDAK kepada segala bentuk sogokan dan tawaran untuk menjual hati nuranimu!


Sepuluh tahun dari sekarang, kita akan bertemu di Indonesia yang lebih baik!




Dari aku, untukmu, seperti darimu selalu untukku.


[Jakarta, Agustus 2003]


***

Seperti ruh, surat yang masih berada dalam genggaman tanganku menjelma lompatan yang memutar balikkan dimensi waktuku. Mendadak aku merasa mual. Limbung oleh distorsi kata-kata di sepucuk surat yang kutitipkan kepada pengacaraku yang sekaligus sahabat karibku untuk diserahkan kembali kepadaku sepuluh tahun kemudian. Semacam pengingat atas idealisme dan cita-cita agar tak tergerus oleh waktu dan keserakahan.

Tanganku gemetar. Kuremas surat yang kembali dari masa lalu itu dengan perasaan yang tak terlukiskan, merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi berbentuk. Berhamburan ke lantai. Aku merasa seperti ada bagian besar dari diriku yang turut jatuh bersama. Menjelma ruang kosong dari kedalaman dadaku.

Nuraniku!

Aku telah menjualnya…