Skip to main content

Sepucuk Janji kita yang Sampai ke Meja Kerjaku Pagi Ini

gambar diambil dari sini
Surat itu sekarang tergeletak di atas meja kerjaku, di samping tumpukan berkas-berkas yang menunggu tanda tanganku. Tadi pagi, ia diserahkan langsung ke tanganku oleh pengacara yang juga adalah sahabat masa kecilku. Aku mengangkat surat bersampul coklat itu, membaca sebaris nama yang tertulis di atasnya dengan nanar. Hati-hati dan perlahan, kusobek pinggiran surat yang bersegel itu, mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan tangan yang sudah sangat kuhafal. Tubuhku seperti kehilangan gravitasi, limbung dalam gamang yang panjang ketika kubaca kata demi kata yang kini seolah sedang mengejarku dengan janji dan panji-panji.



Kepada aku,


Selamat!
Hari ini kamu resmi dilantik menjadi anggota tim penyidik di KPK. Masih ingat dengan semua perjuangan berorasi menentang rezim orde baru ketika kamu masih berstatus mahasiswa? Ideologi mewujudkan Indonesia baru yang kamu doktrinkan diam-diam melalui surat edaran dan selebaran-selebaran? Perjuanganmu siang dan malam mengerjakan semua ketikan terjemahan demi biaya melanjutkan pendidikan S2? Semuanya terbayar hari ini!


Bagi orang lain, mungkin kamu hanya seorang anggota KPK biasa yang tidak bergaji tinggi. Tapi bagiku, kamu adalah seorang pahlawan, yang akan membantu mewujudkan Indonesia bebas dari korupsi! Kamu akan memastikan semua kekayaan yang diambil dari tanah pertiwi ini dikembalikan kepada rakyat dan tidak diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, siapapun itu. Kamu akan menyelidiki instansi yang dicurigai terlibat dalam penggelapan dana, mengumpulkan bukti-bukti dan mengejar mereka sampai ke belahan dunia terjauh sekalipun!


Dalam tugasmu mewujudkan cita-cita Indonesia yang bebas dari korupsi, tentunya kamu akan menghadapi banyak tantangan, juga godaan. Tapi aku tahu kamu akan selalu mengingat idealisme yang membakar dadamu dan rekan-rekanmu dengan warna merah dan putih Indonesia. Kamu akan menemukan keteguhan dari Tuhan dan genggaman tangan istrimu, istri kita, yang berjilbab dan berhati lembut seperti awan di langit. Kamu akan memandang mata kedua putramu dan mengingat janji masa depan negeri yang akan kamu wariskan kepada mereka, dan juga kepada jutaan anak-anak lainnya. Aku tahu kamu akan menepuk dadamu dengan bangga, mengatakan TIDAK dan hanya TIDAK kepada segala bentuk sogokan dan tawaran untuk menjual hati nuranimu!


Sepuluh tahun dari sekarang, kita akan bertemu di Indonesia yang lebih baik!




Dari aku, untukmu, seperti darimu selalu untukku.


[Jakarta, Agustus 2003]


***

Seperti ruh, surat yang masih berada dalam genggaman tanganku menjelma lompatan yang memutar balikkan dimensi waktuku. Mendadak aku merasa mual. Limbung oleh distorsi kata-kata di sepucuk surat yang kutitipkan kepada pengacaraku yang sekaligus sahabat karibku untuk diserahkan kembali kepadaku sepuluh tahun kemudian. Semacam pengingat atas idealisme dan cita-cita agar tak tergerus oleh waktu dan keserakahan.

Tanganku gemetar. Kuremas surat yang kembali dari masa lalu itu dengan perasaan yang tak terlukiskan, merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi berbentuk. Berhamburan ke lantai. Aku merasa seperti ada bagian besar dari diriku yang turut jatuh bersama. Menjelma ruang kosong dari kedalaman dadaku.

Nuraniku!

Aku telah menjualnya…

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…