Thursday, August 4, 2011

Sketsa Tina dan Joni

Sumber Ilustrasi
Seolah sedang beradegan dalam sebuah iklan produk wewangian, gemulai tangan kanan Tina mengoleskan parfum ke belakang telinganya sementara tangan kirinya memegang botol cantik berbentuk bunga. Tergambar di benaknya sebuah wajah molek milik sang bintang idola. Perasaan Tina melayang-layang ke awang-awang, bila malam mungkin ia sudah hinggap di permukaan bintang. Lalu Tina membuka salah satu pintu lemari yang menempel memanjang di salah satu dinding kamar tidur. Lemari sepatu. Sepasang matanya berpindah-pindah dari sepatu warna merah, putih, hitam, keemasan dan biru malam. Selesai menimbang-nimbang, lengan kanannya terulur meraih sepasang yang berwarna keperakan, di ujung kanan. Pelan-pelan ia mundur ke belakang dan duduk di ujung tempat tidur yang empuk. Kaki kirinya ia silangkan di atas kaki kanan.

Di ruang lain, Joni tengah menimang-nimang kamera digital SLR yang nilainya setara dengan dua buah sepeda motor baru. Dua tangannya sedikit gemetaran. Kamera itu ia amati beberapa saat, penuh rasa bangga, hati-hati benda itu ia letakkan bersanding dengan sebuah tas berisi berbagai peralatan fotografi lainnya.

“Kalau Tina udah siap, aku akan segera beraksi,” pikirnya, “kamera ini pasti mampu merekam berbagai gaya yang ia peragakan.” Segurat senyum terukir di wajahnya yang tak begitu tampan.
Puas mengotak-atik pernak-pernik pada kamera itu Joni lalu melangkah menuju kamar depan, tempat Tina sedang asyik mematut-matut diri di depan cermin besar.

“Udah siap?” Joni mendorong daun pintu yang setengah terbuka. Matanya melahap tubuh perempuan yang terbalut gaun sutera itu.

“Cantik nggak?” Tina melenggot manja. Sepasang anting panjang berkilauan menghiasi telinga.

“Kok yang merah?” Joni heran melihat gaun yang dipakai Tina. Katanya tadi ia ingin difoto dengan baju sutera biru muda lengan setali berleher sabrina yang sangat ia sayangi itu.

“Baju yang itu nggak ketemu.” Mata Tina menatap Joni melalui cermin. Gadis itu menapak ke belakang, ke samping, ke depan, berputar dan berhenti dengan tangan kanan mendarat di pinggang. Sepatu keperakan berhak tinggi yang tampak mahal itu membuat tubuhnya sedikit oleng ketika ia berputar sekali lagi sambil merentangkan lengan.

“Mau difoto dimana?” Joni menuntun tangan kanan Tina ketika gadis itu keluar kamar.

Mereka berkeliling rumah, memilih sudut-sudut yang dianggap akan tampak indah di dalam foto nanti. Tertawa-tawa Tina berpose penuh gaya, laksana primadona; sedangkan Joni memutar-mutar kamera berlagak seperti fotografer profesional.

“Istirahat dulu, ya. Minum dulu.” Saking semangatnya mengambil gambar Tina, Joni sampai kehausan. Peluhnya mengalir lewat pelipis, lalu jatuh di dadanya. Tetesan keringat itu membasahi kausnya, membentuk noda yang agak gelap di atas kaus biru muda. “Huh!” keluhnya, menepis noda yang makin melebar karena keringat terus mengalir dari pelipisnya.

Sembari melenggang genit ke dapur meninggalkan Joni yang duduk di sofa bersilang kaki di depan TV, deraian tawa terlepas dari mulut Tina.

“Es coklat ya? Mau pakai gelas yang mana, Jon?” teriak Tina dari dapur.

“Yang biasanya.” Joni menyalakan TV, meletakkan punggungnya ke sandaran sofa, meraih sebuah bantal empuk bersarung sutera untuk mengganjal kepalanya.

“Hmmmm… nikmatnya….” Mata Joni terpejam diikuti senyum bangga yang terkembang di bibirnya. Ia tidak menikmati acara TV, namun tenggelam dalam impiannya sendiri, membiarkan seluruh inderanya meresapi segala kemewahan dan kenyamanan yang ada di depannya.

Ketika Joni sedang berada di puncak khayalnya, Tina datang membawa nampan berisi dua gelas besar es coklat dan sepiring pisang goreng dioles selai marmalade bertabur parutan keju.

Baru saja mereka menyeruput isi gelas, dari luar terdengar suara klakson mobil yang sangat mereka kenal.

“Kang! Nyonya pulang!” Tina belingsatan.

Dengan cepat mereka meneguk sisa es coklat di gelas. Kemudian Joni melompat, meraih kamera yang sejak tadi hanya ia pakai beraksi tanpa dinyalakan, lalu berlari mengembalikan benda mahal itu ke tempat semula.

“Cepat! Keluar! Buka pagar!” Perintah Tina pada Joni sementara dirinya melepas gaun merah dan sepatu keperakan milik majikannya, lalu buru-buru meletakkan benda-benda itu ke dalam keranjang rotan di atas meja setrika, menutupinya dengan baju-baju lain yang tadi ia angkat dari jemuran. Nanti kalau Nyonya sedang mandi, Tina akan menyelinap ke dalam kamar, mengembalikan barang-barang itu ke dalam lemari; seperti hari-hari lainnya bila Tuan atau Nyonya tergesa-gesa berangkat ke kantor hingga lupa mengunci pintu kamar.

Di depan rumah, Nyonya akhirnya turun dari mobil, membuka pagar karena Partinah maupun Daljono, dua pembantu kakak-beradik itu, tidak juga keluar.

“Ngapain aja, Daljo? Kok lama?” Nyonya mengangsurkan kunci mobil pada Daljo yang selalu bermimpi dipanggil Joni.

“Maaf, Nyonya. Lagi mbersihin kamar mandi.” Joni membuka pintu garasi sambil membesutkan lengan kaus ke wajahnya, menghapus sisa es coklat yang menempel di dagu.

“Inah, tolong bantu Daljo angkat belanjaan di bagasi.” Perintah Nyonya pada Tina sambil mencomot sepotong pisang goreng yang sudah tersaji di atas meja di depan TV.

“Baik, Nya. Maaf, pisang gorengnya sudah dingin. Saya kira Nyonya pulang lebih awal sore ini…” Inah berlari ke garasi, tangannya sibuk membenahi dasternya yang kancing-kancingnya belum terkait semua.

***