Wednesday, August 10, 2011

Tentang Rasa Ini


Melihat mereka berduaan selalu membuatku muak. Seperti tidak ada hal penting lain yang bisa mereka lakukan selain bermesraan. Ya, pasangan paling romantis itu, menurut orang lain sih, kerap datang di taman ini, seperti membuntutiku.

Saat senja menjelang, ketika pekerja-pekerja kantoran berlomba pulang menuju rumah masing-masing, pasangan ini justru baru saja datang di tempat ini. Memulai pertemuan mereka. Kadang si wanita datang lebih awal untuk kemudian menunggu kekasihnya. Lain waktu mereka datang bersamaan.

Rasanya sih aku tak peduli dengan kehadiran mereka. Tapi sepertinya mataku selalu mencuri pandang pada setiap gerakan apapun yang mereka lakukan. Bukannya aku tak ingin menghindar, sebab dari tiap sudut manapun di tempat ini, bayangan mereka selalu hadir di ujung mataku.


Aku sudah berusaha mencari tempat yang paling damai di sudut taman ini, sebuah bangku tua di sisi sebuah pohon besar, dekat sebuah sumur tua yang sudah ditutup. Bagi kebanyakan orang, tempat ini begitu suram, gelap. Tapi buatku paling indah, apalagi untuk menyembunyikan diri dari lirikan atau tatapan aneh yang seperti menghunjam ke ulu hatiku.

Dan semestinya bukan tempat yang romantis pula bagi mereka berdua ada di sudut taman ini. Tapi entah mengapa, si lelaki itu selalu menyempatkan diri menggandeng pasangannya ke sudut ini, untuk kemudian hanya memandang sendu ke arah sumur tua.

Oke, oke, tak masalah memang kalau hanya seperti itu. Tetapi, mengapa setiap senja? Dan selalu dengan gerakan yang sama mereka akan datang ke tempat terdamaiku itu. Aku sedikit terganggu, ah, bukan sedikit, justru aku sangat terganggu. Meskipun kesendirianku tidak menyita perhatian mereka, tapi kenapa mereka seperti tidak tahu, kalau itu singgasanaku? Mereka menempati bangku yang bersisian dengan bangku yang kutempati untuk membaca dan menghabiskan waktu.

Selalu begitu keadaanya, dan selalu aku yang terpojok. Tidak mungkin aku mencari tempat lain. Ya, aku seperti terpaku pada tempat ini. Tidak pernah bisa pergi ke tempat lain. Padahal aku pun sangat menginginkannya. Pergi menjauh. Namun seperti tertarik pada medan magnet, aku akan selalu kembali ke tempat ini. Dan dengan terpaksa tentunya aku menyaksikan drama percintaan ini setiap saat. Huh, sial!

***

Suara manja yang mendayu-dayu bersahutan suara bariton, menusuk-nusuk telingaku. Entah mereka membicarakan apa saja. Aku seperti tidak mengerti bahasa mereka. Yang kuinginkan sebenarnya hanyalah tidak ingin mendengar apa-apa. Tapi telingaku belum tuli. Huh!

Dan lagi-lagi, buku yang kubaca menjadi kosong tanpa isi. Otakku hanya berputar-putar pada pemikiranku sendiri. Ah seandainya.. Ya, seandainya, ada banyak andai-mengandai menguar dari kepalaku.

Kupalingkan wajahku dari mereka. Tapi tetap saja hatiku melihat dengan jelas bagaimana mereka saling bertatapan mesra. Tersenyum dan bercanda. Aku menundukan kepalaku, berharap dapat kulihat kedalaman hatiku, tentang perasaan benci itu. Aku berat mengakuinya. Mengakui perasaan yang tersimpan di hatiku ini.

Sebetulnya, bukan benci yang tersimpan di hatiku. Hanya perih dan luka akibat cemburu. Cemburu karena merasa tak mampu menjadi seperti si wanita itu, yang selalu bergelayut manja padanya, yang selalu dibelai tangan kekarnya. Apapun yang dilakukan si wanita itu selalu indah ditatap olehnya. Selalu bisa membuatnya tersenyum dan tertawa.

Aku menjerit dalam hati. Mestinya itu aku, yang membuat dirinya tertawa bahagia. Mestinya itu aku yang membuatnya mabuk asmara. Dan di taman ini juga mestinya kami selalu berkencan, saling bertemu melepas rindu. Rasanya aku ingin menangis. Ya, semua begitu indah, seandainya aku tidak terlalu gembira. Berlari-lari bagai anak kecil mendapat permen, saat dia berlutut meminangku. Sumur tua menarikku kedalamnya. Meninggalkan cintaku yang membahana.

Aku pernah mencintai lelaki itu, dulu, pada dimensi yang sama dengannya.

***