Skip to main content

Tidur Is My Middle Name

1312165770529010308Kalau Pak Ahmad di Kompasiana punya penyakit lupa yang parah, maka saya juga punya penyakit yang tak kalah parahnya dengan penyakitnya Pak Ahmad, yaitu ngantukan alias gampang tidur. Boleh ya saya iseng-iseng cerita tentang penyakit saya ini, siapa tahu ada yang punya penyakit sama (dalam rangka cari teman).

Berawal dari saat SMA kelas 3, sering terserang kantuk hebat yang tiba-tiba di dalam kelas. Awal-awal sih saya pikir karena kurang tidur, tapi ternyata mau tidurnya sejak sore atau dini hari, tetap saja kalau sudah di dalam kelas ngantuk pasti datang. Pokoknya, begitu guru mulai mendiktekan pelajaran, saya akan memulai kalimat pertama dengan mulus dan belum sampai titik akan menjadi urek-urekan ayam. Dan sejak saat itulah saya tidak pernah punya catatan segala mata pelajaran, mengandalkan feeling dan keberuntungan saja hihihi.


Ini betulan lho, sampai teman sebangku saya sempat deg-degan kalau lihat saya tidur. Apalagi tidurnya menjelang ulangan, wah, teman saya pasti dengan nisbinya akan ngumpetkan hasil ulangannya, takut saya mencontek (lha wong tidur, mana bisa mengerjakan). Tapi, dengan keberuntungan yang saya punya, 5 menit menjelang ulangan berakhir, saya terbangun dan mengerjakan ulangan Fisika dengan gagahnya. Dan ternyata sodara-sodara, ponten saya 8 dan ponten teman saya 5 whuehehehehe… Dan sejak saat itu, pinter-pinternya temen saya nih, saya disuruh tidur dulu, nanti menjelang 10 menit sebelum ulangan selesai, saya dibangunkan untuk mengerjakan ulangan, dan… dia mencontek saya….

Untung saja guru-guru akhirnya mengerti dengan penyakit saya ini, jadi setiap di kelas saya dibiarkan tidur. Bahkan saat ujianpun, akhirnya saya mengerjakan soal2 ujian di ruang guru, karena guru penjaga dari sekolah lain menganggap saya sakit parah hihihi…

Sampai pada saatnya saya harus kuliah, penyakit saya ini kok ya bukannya berkurang kadarnya. Malah semakin menjadi. Saya ingat saat mata kuliah komputer di lab, saya bisa duduk anteng di depan monitor komputer dengan mata terpejam sampai selesai mata kuliah. Belum lagi saat pelajaran shorthand, dosen yang kebetulan seorang Australian dan sudah hafal dengan penyakit saya ini, hanya akan melanjutkan mengabsen saya bila saat saya dipanggil tidak bersuara….”deasy… deasy… where are you?” “Gubraaaaaksss” buku-buku berjatuhan… “Oh, there you are…”lanjutnya tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun.


Menjadi satu keuntungan bagi saya, karena penyakit saya ini sangat ajaib, menyebabkan saya bisa tidur di manapun dan dalam posisi apapun. Bisa di atas pohon, di atas genteng, sambil berdiri gelantungan di bis, di pojok ruangan sambil jongkok (walaaah), dan yang aneh lagi, saya hobi naik gunung … saat turun gunung saya bisa tidur sambil jalan. Untung dua teman saya di kiri dan kanan menjaga arah…. (ini penyakit apa ilmu kanuragan sih???)

Menjalani hari-hari di dunia kerja bagi saya sangat-sangat menakutkan, khususnya dengan adanya penyakit saya ini. Lha wong kalau rapat dan saya sebagai sekertaris, seharusnya saya membuat notulen meeting, tapiiiiii… saya tidur dulu sodara-sodara… Boss saya yang nulis, dan setelah itu oret-oretannya diserahkan ke saya untuk diketik… ini benar-benar memalukan hiks…. (maaf ya boss, sekarang saya sudah melek )

Belum lagi kalau istirahat makan… biasanya ngobrol dengan teman-teman. Tapi, sekali lagi… teman saya cerita panjang lebar dengan saya di depannya menopang dagu … dengan mata tertutup.. ampuuuun, teman saya sering jengkel.

Nah, yang lebih heboh nih, saat saya masih pacaran dengan mantan pacar saya. Dia itu sering was-was kalau memboncengkan saya dengan sepeda motor. Sesaat masih ketawa ngakak-ngakak tiba-tiba.. pssssss… sudah ngorok di punggungnya. Pasti dia jadi panik dan kalap, kaki saya dicubit-cubit, tangan ditowel-towel, sampai saking ngerinya, dia pernah sengaja bawa jarit untuk persiapan mengikat saya di badannya. Parah! Hehehe…

Selain penyakit tadi, saya juga punya pobhia lho… pobhia saya adalah buku tebal dan berdoa. Bisa dipastikan kalau saya baca buku tebal, paling-paling pada halaman pertama saya sudah pulas ngorok. Nah kalau tentang berdoa, khususnya doa malam, saya bisa duduk bersila atau bersujud sampai saat saya bilang… Amiiiiin..!!! Ternyata matahari sudah bersinar trang dan ayam jantan berkokok dengan nyaringnya hehehe.

Ya sudah, cukup sekian saja saya menelanjangi diri, atau ini sejenis narsis ya? Monggo lho kalau mau ngejek saya, dijamin saya akan dengan senang hati .. menerima dengan hati terbuka, menyadari bahwa saya adalah Sleeping Beauty . Jangan Protes!

***

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…