Skip to main content

Bila Mengenai Dia

gadis itu mengenakan bunga rumput di kepalanya, atau lebih tepatnya disela-sela rambutnya yang ikal dan menari-nari cantik dimainkan angin sore. dia. adalah dia. yang selalu aku kenal-kekal dalam sepanjang waktu-waktu yang sama-sama kami lewati. tidak lebih, tidak kurang. selalu masih dikisaran yang sama 24 jam, 1440 menit, 86400 detik jarak hitungnya yang sama dengan satu putaran hari.

itulah waktu-waktu yang berguguran, selalu saja demikian katanya, yang suka memperhitungkan dan mengamati dengan sejuta logika. nalar. nalar. nalar. ah, betapa aku masih ingat saat bersama bermain layang-layang dan dia mencoba mencari kemana angin bertiup. enggan membiarkan lepas bambu dan kertas sebelum tahu dan mengimani bahwa kami dapat membumbungkannya tinggi ke birunya langit.

sore ini kami duduk bersisian, seperti halnya beberapa senja yang sudah lewat. aku merenungi tatapannya, mencoba mncari tahu apa yang disimpannya dalam kepalanya. apa di sana? tanyaku. dia menelengkan kepalanya. yang mana? dia balas bertanya. yang ada di dalam pikiranmu. sahutku. [G|g]

ah, jawabnya. masih hal yang sama.

bila mengenai dia aku berjarak dengan nalar
menangkupkan tangan dikedua sisi kepala biar
menutup mata erat-erat lekat
membiarkan lamun-lamun datang menyesat
ada kekekalan yang melesat dalam pepat

entah akan kemana menanamkan rasa ini
yang datang berkala ketika rindu menjenguk sepi
yang bertandang di tingkap-tingkap malam tak bertepi

nyanyian itu bernama sunyi, yang main musik dengan
nyanyian itu bernama kenangan, yang menari dalam
nyanyian itu bernama hati, yang memeluk dengan
nyanyian itu bernama nafas, yang menghembus dalam

bila mengenai dia.
keluh.
peluh.
berpagut dalam satu irama yang masih sama
mendengarkan satu swara yang masih sama
semua masih (terlalu) sama.
mengapa? [G|g]

aku terpana. haruskah aku yang menjawabnya? tanyaku. dia menggeleng sambil tersenyum. tidak. itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, bodoh! dan dia melempariku dengan angin senja yang melekat erat di sudut matanya. mari, katanya, kita harus pulang. jahitkan lagi belahan kita supaya tidak ada yang tahu bahwa kau punya entitas sendiri. itu rahasia kita.

maka, waktu bermain-main pun pupus sudah. aku mejadi dia, dia menjadi aku. satu. kini aku dapat merasakan rasanya. dia memandang ke dalam jiwaku dan dalam sembab itu kami tersenyum bersama. ah, jiwa dan hati, mari kita menyambungkan diri ke pikir yang sudah sama-sama kita bius hingga tertidur tadi, hanya agar kita dapat bermain di ruang kosongnya tanpa dia berteriak2 dan protes dalam ributnya yang mengganggu.

selamat menjelang sore, bisik kami, ketika ia membuka mata dan berpikir: ah, rupanya aku baru saja bermimpi tentang rindu? kami biarkan dia, dengan pikirannya. [G|g]

ditulis pada 16 maret 2009

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…