Friday, September 30, 2011

Biru

Lagu itu mengalun. Ah, bukan. Bukan mengalun, tetapi mendesah. Ah bukan. Bukan mendesah, tetapi berbisik. Sebab dia tidak berdesakan memenuhi seluruh partikel udara, hanya menggantung di samping telingaku.

"Tiada pernah, aku bahagia." Bisiknya lembut, mengelus sejumput anakan rambut yang bermain-main genit seperti biasanya di dekat telingaku. "Sebahagia kini oho kasih... sepertinya ku bermimpi dan hampir tak percaya, hadapi kenyataan ini.." Lembut-lembut ia membelai hatiku yang kini jatuh ke tangannya.

Lagu itu berlenggak. Ah, bukan. Bukan berlenggak, tetapi menari. Ya, itu dia. Dia menari. Dia menari sambil membawa hatiku, yang diletakkannya dalam sebuah mata bandul yang tergantung di lehernya yang jenjang. Kelebatan biru mengiringi setiap gerakannya. Ah, dia bukan menari. Lebih tepatnya ia berdansa. Ia berdansa dengan jiwaku, yang tiba-tiba saja memutuskan untuk menemaninya.

"Belai manja, serta kecup sayang... kau curahkan, penuh kepastian, hingga mampu menghapuskan, luka goresan cinta, yang sekian lama sudah menyakitkan." Dia menatap dalam-dalam ke jiwaku dan meneguk mesra setangkup rindu di sana. Hmm... rindu untuk melepaskan penat-penat rindu. "Kau terangkan gelap mataku. Kau hilangkan resah hatiku. Kau hidupkan lagi cintaku. Yang t'lah beku dan membiru. Kini tetes air mata haru. Menghiasi janji yang terpadu..."

Ya, lagu itu melepaskan ruang rindu. Ah bukan, ia membuka sebuah ruang rindu, dengan bidang-bidangnya yang terbentang bak sepasang sayap yang bergetar, menunggu waktu untuk terbang, menanti-nantikan sebuah pertanda saja, aba-aba untuk menerobos sekat-sekat tanda-tanya. Ia menarik tangan jiwaku, membukanya dengan desakan lembut, lalu menempelkan bibirnya yang lembut dan mengecup.. cup... ringan, menggetarkan sayap-sayap yang berlatih untuk dikepakkannya kembali.

Seketika, mataku terbuka, seakan baru kali ini melihat terang. Spektrum cahaya warna-warni menari-nari disekelilingku, membuatku bertanya-tanya, sedang ada dimana aku saat ini? Sebab semua terasa begitu ringan. Ringan seringan udara, seperti juga kepalaku yang penuh dengan puzzle tanda tanya menemukan susunan demi susunan jawaban, walau aku tak tahu apa makna kata-kata yang tersusun di sana, namun pikirku merasa tahu, dan rasa ku berpikir mengerti.

Sesuatu pecah dengan bunyi yang berdenting-denting. Aku menjerit. Lagu itu membiarkan mata bandulnya terbuka dan menjatuhkan sesuatu. Sebentuk beku dan biru. Jangan! Aku berseru namun terlambat, sebab suaraku tak mengeluarkan bunyi. Tak ada satu alfabet pun mampu lolos ke udara. Aku bicara dalam kebisuan. Jangan! Dan hati itu pecah. Berderai.

Sunyi...

Lalu aku mendengar suara itu, sesuatu yang berderap teratur, berbunyi. Sebuah degup. Degup. Degup. Degup lagi. Dan degup itu berasal dari dadaku. Kuraba sisi kiriku. Ya, dia ada di sana. Berdegup, hidup. Degup itu hangat.

Seakan tak percaya aku memandangnya, dan Lagu itu tersenyum. Ah, lebih tepatnya ia mendekatkan parasnya ke wajahku dan membiarkan aku tenggelam dalam senyumnya. Hatiku berdegup! Setelah sekian lama beku dalam biru.

Tuhan, apapun yang terjadi, kuingin selalu dekat kekasihku. Itu, desah rinduku yang selalu mengerti dimana rumahnya.

***

Didedikasikan untuk: Irene Juliency ;)