Skip to main content

Biru

Lagu itu mengalun. Ah, bukan. Bukan mengalun, tetapi mendesah. Ah bukan. Bukan mendesah, tetapi berbisik. Sebab dia tidak berdesakan memenuhi seluruh partikel udara, hanya menggantung di samping telingaku.

"Tiada pernah, aku bahagia." Bisiknya lembut, mengelus sejumput anakan rambut yang bermain-main genit seperti biasanya di dekat telingaku. "Sebahagia kini oho kasih... sepertinya ku bermimpi dan hampir tak percaya, hadapi kenyataan ini.." Lembut-lembut ia membelai hatiku yang kini jatuh ke tangannya.

Lagu itu berlenggak. Ah, bukan. Bukan berlenggak, tetapi menari. Ya, itu dia. Dia menari. Dia menari sambil membawa hatiku, yang diletakkannya dalam sebuah mata bandul yang tergantung di lehernya yang jenjang. Kelebatan biru mengiringi setiap gerakannya. Ah, dia bukan menari. Lebih tepatnya ia berdansa. Ia berdansa dengan jiwaku, yang tiba-tiba saja memutuskan untuk menemaninya.

"Belai manja, serta kecup sayang... kau curahkan, penuh kepastian, hingga mampu menghapuskan, luka goresan cinta, yang sekian lama sudah menyakitkan." Dia menatap dalam-dalam ke jiwaku dan meneguk mesra setangkup rindu di sana. Hmm... rindu untuk melepaskan penat-penat rindu. "Kau terangkan gelap mataku. Kau hilangkan resah hatiku. Kau hidupkan lagi cintaku. Yang t'lah beku dan membiru. Kini tetes air mata haru. Menghiasi janji yang terpadu..."

Ya, lagu itu melepaskan ruang rindu. Ah bukan, ia membuka sebuah ruang rindu, dengan bidang-bidangnya yang terbentang bak sepasang sayap yang bergetar, menunggu waktu untuk terbang, menanti-nantikan sebuah pertanda saja, aba-aba untuk menerobos sekat-sekat tanda-tanya. Ia menarik tangan jiwaku, membukanya dengan desakan lembut, lalu menempelkan bibirnya yang lembut dan mengecup.. cup... ringan, menggetarkan sayap-sayap yang berlatih untuk dikepakkannya kembali.

Seketika, mataku terbuka, seakan baru kali ini melihat terang. Spektrum cahaya warna-warni menari-nari disekelilingku, membuatku bertanya-tanya, sedang ada dimana aku saat ini? Sebab semua terasa begitu ringan. Ringan seringan udara, seperti juga kepalaku yang penuh dengan puzzle tanda tanya menemukan susunan demi susunan jawaban, walau aku tak tahu apa makna kata-kata yang tersusun di sana, namun pikirku merasa tahu, dan rasa ku berpikir mengerti.

Sesuatu pecah dengan bunyi yang berdenting-denting. Aku menjerit. Lagu itu membiarkan mata bandulnya terbuka dan menjatuhkan sesuatu. Sebentuk beku dan biru. Jangan! Aku berseru namun terlambat, sebab suaraku tak mengeluarkan bunyi. Tak ada satu alfabet pun mampu lolos ke udara. Aku bicara dalam kebisuan. Jangan! Dan hati itu pecah. Berderai.

Sunyi...

Lalu aku mendengar suara itu, sesuatu yang berderap teratur, berbunyi. Sebuah degup. Degup. Degup. Degup lagi. Dan degup itu berasal dari dadaku. Kuraba sisi kiriku. Ya, dia ada di sana. Berdegup, hidup. Degup itu hangat.

Seakan tak percaya aku memandangnya, dan Lagu itu tersenyum. Ah, lebih tepatnya ia mendekatkan parasnya ke wajahku dan membiarkan aku tenggelam dalam senyumnya. Hatiku berdegup! Setelah sekian lama beku dalam biru.

Tuhan, apapun yang terjadi, kuingin selalu dekat kekasihku. Itu, desah rinduku yang selalu mengerti dimana rumahnya.

***

Didedikasikan untuk: Irene Juliency ;)

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…