Saturday, September 10, 2011

Dialog Dengan Si Butut

"Selamat pagi, Jema. Kenapa pagi ini tak kulihat sapaanmu seperti biasa? Biasanya kau mulai hari dengan menyapa seluruh dunia dengan kalimat sapaan andalanmu itu. 'Good morning, guys! Have a nice day! Mudah-mudahan gak kena macet hari ini.’ Atau kadang kau menyapa dengan kata-kata penuh nasehat seperti, 'Pagi semuanyaaa!!! Semoga hari ini lebih baik daripada kemarin.’ Tapi hari ini kamu kenapa, Jema? Jemu?"

"Nggak apa-apa!" jawabmu singkat.

"Ah, nggak mungkin! Kamu nggak mungkin melewatkan kesempatan menyapa semua orang, kecuali kalau ada sesuatu yang sangat penting. Jema gitu, lho!"

"Lagi males aja!" jawabmu singkat lagi.
"Hmmm...aku tahu. Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian semalam, kan?"

"Maksud loh?" tanyamu cepat.

"Hehehe...Ada yang menyindirmu, kan tadi malam? Dia bilang 'Ih, tu orang haus perhatian kali, ya. Tiap menit ganti-ganti status di Facebook.’ Ahahahaaa...aku masih ingat bagaimana kamu seperti kebakaran jenggot tadi malam membacanya.”

"Ih, ngapain juga gue mikirin status nggak penting kaya gitu!" sahutmu ketus sambil cemberut.

"Jemaa...Jemaa...Aku tahu persis kamu pasti mikirin. Kan kamu langsung pasang status baru lagi, isinya, 'Kenapa tu orang ya? Sirik status gue banyak yang komen kali, ya?' Hahahaa...ya kan?"

"Weeeeks....nggak juga ah! Gue cuma nggak suka aja sama orang yang beraninya nyindir doang. Kalo berani, langsung aja ngomong di wall gue. Ngapain pake nyindir-nyindir? Hih!" Kamu terpancing emosi.

"Naaah, kan..berarti benar kan, kamu kesal baca status orang itu. Tapi, Jem...kamu kok sensitif gitu, sih? Kamu kan juga nggak tahu kepada siapa statusnya itu ditujukan.”

"Pasti ke gue lah! Ke siapa lagi?" katamu cepat.

"Kok bisa yakin gitu?"

"Ya, pasti ke gue! Itu orang emang dari dulu sukanya cari gara-gara sama gue. Inget gak waktu gue masang status, 'Duuh, hari ini mau makan apa ya? Nasi goreng Mang Ucup atau makan di resto mahal aja sekalian? Udah lama nih gak makan enak!' Eh, nggak lama kemudian dia nongol dengan status, 'Masih banyak orang miskin di luar sana yang kelaparan. Malu dong bisa makan di tempat mahal, tapi nggak bisa ngasih sedekah buat mereka!' Coba! Nyindir gue kan?" katamu tambah emosi.

"Ah, belum tentu juga, Jem. Temannya ribuan, sama seperti temanmu. Siapa tahu dia memang cuma mau berbagi nasehat aja. Kebetulan aja munculnya hampir bersamaan dengan status makan siangmu itu.”

"Nggak! Itu pasti ditujukan buat gue! Pernah juga nih ya, gue masang status, 'Kenapa ya Innova gue bunyi-bunyi gini. Padahal baru enam bulan dibeli. Ada yang ngalamin juga nggak?' Trus dia langsung masang status, 'Banyak orang kaya bermobil mewah di Jakarta, tapi nggak tau gimana cara ngerawatnya. Kasian...' Kurang ajar, kan?" katamu makin emosi.

"Lho, ya sama aja kejadiannya seperti tadi, kan? Belum tentu dia menujukannya untuk kamu, Jema. Kalau menurutku sih, itu status umum. Siapa aja bisa merasa kalau status itu ditujukan untuk mereka. Lagian kamu juga suka mamer...padahal mobilmu kan sudah lebih empat tahun kamu beli, kenapa kamu bilang baru enam bulan? Biar orang lain mengira kamu punya mobil baru? Sudahlah, Jema....Jangan terlalu terpancing dengan hal-hal sepele seperti ini. Bisa-bisa, sebelum usia empat puluh kamu sudah jantungan.”

"Eh, sialan lo ya! Nyumpahin gue lo?" Kamu hampir meledak.

"Hahahaa...tenang, Jemaa....Santai...Kamu terlalu terobsesi dengan Facebook-mu. Sebaiknya kamu hati-hati. Kamu ingat kan waktu ada yang masang status, 'Duuuh, kok nggak punya ide mau nulis apa ya? Gimana mau jadi penulis terkenal nih? Baru nulis blog aja stuck.’ Lalu kamu dengan sewotnya langsung ganti status kamu juga, 'Gak penting deh segala tulisan-tulisan lo itu!' Hahahaa...kamu mau ngaku nggak kalau kamu kadang juga suka iseng nyindir orang. Jadi terima aja kalau ada yang menyindirmu juga.”

"Ah, nggak ah! Aku nggak nyindir dia, Kalau dia tersindir, ya berarti dia aja yang sensi. Weeeks...." jawabmu mengelak.

"Nah, sama kan berarti dengan kejadian sebelumnya. Status orang lain belum tentu ditujukan untuk kamu pribadi. Please, Jema...hidup mereka tidak terpusat pada kamu seorang. Memangnya kamu siapa? Hahahaha..."

"Eh, gak sopan banget sih lo! Gue nggak peduli sama status-status nggak penting mereka itu ya! Dan gue nggak terobsesi sama Facebook! Ingat itu!" jawabmu dengan nada semakin meninggi.

"Aku setuju kalau kamu bilang kamu tidak terobsesi dengan Facebook. Masalahmu lebih dari sekedar itu. Kurasa kamu terobsesi ingin mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitarmu. Kamu ingin dilihat dan dipandang sukses, walaupun kamu belum ada apa-apanya. Jadi satu-satunya jalan, kamu manfaatkan status di Facebook untuk menaikkan harga diri dan gengsi kamu. Kadang kamu ngomongin mobil kamu dengan kedok kamu seolah-olah mengeluh kalau mobilmu sedang rusak. Kadang kamu ngomongin kerjaan kamu yang super sibuk dan berhubungan dengan orang-orang penting dengan kedok seolah-olah kamu capek banget kerja seperti itu setiap hari. Kadang kamu ngomongin rumah kamu yang asri dan luas dengan kedok seolah-olah kamu kesepian berada di rumah seluas ini. Hahahaa...aku tahu persis kamu cuma mau memperlihatkan pada seribu dua ratus temanmu di Facebook kalau kamu punya mobil baru, punya pekerjaan bagus dan punya rumah besar. Ya kan?"

"Nah, kan sekarang lo yang berprasangka. Gue nggak maksud kaya gitu kok. Tapi ya maaf kalau ada yang menangkap kesan kaya gitu. Bukan salah gue dong!" jawabmu keras kepala.

"Belum lagi masalah gede rasa kamu yang sudah keterlaluan. Semua status teman-temanmu kamu hubung-hubungkan dengan kamu. Seolah-olah semua status mereka pasti berbicara tentang kamu. Kamu terlalu gede rasa alias GR, Jema! Dan itu kelihatannya makin akut sejak kamu mengenal Facebook. Tidakkah kamu berpikir kalau keadaan ini sudah tidak sehat lagi bagi jiwamu?"

"Eh, jangan sok ceramahin gue, ya! Gue bisa buang lo kapan aja tau! Jadi hati-hati deh kalau menilai orang" Kamu sudah siap meledak.

"Hahahaha..terus kalau kamu buang aku, pakai apa dong kamu update statusmu tiap jam? Kamu kan belum mampu beli Blackberry yang kamu idam-idamkan itu. Ini juga jadi pelajaran buat kamu. Kenapa ketika kamu tidak mampu, kamu tidak share di statusmu? Kamu malu ya belum pake Blackberry. Aku masih ingat bagaimana kamu menyindir teman-temanmu yang memakai Blackberry di status. Kamu bilang, 'Tau BB cuma buat fesbukan. Buat apa?'.Hahahaha...padahal kamu sendiri ingin sekali punya benda itu!”

"Diem lo, henpon butuuuut!!!!"

Image from www.fotosearch.com