Skip to main content

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (10)

"Apalagi yang bakalan terjadi?" Kasenda berkata dengan suara keras. "Akan muncul di mana lagi aku kali ini?" Gerutunya.

"Astaga! Kasenda!" Seorang wanita dewasa muncul dihadapan Kasenda. Wajahnya nampak kesal sekali.

Kasenda menggoyangkan kepalanya yang terasa agak pusing, lalu melihat ke sekelilingnya.Ia berada di dalam sebuah ruangan yang serba pink.Cahaya matahari nampak jatuh dengan meriahnya dari jendela-jendela besar di ruangan itu. Bau harum sesuatu membuatnya sadar ia sedang kelaparan. Perutnya langsung berkriuk agak keras.

"Dimana aku? Bau enak apa itu?" Desisnya keheranan sambil mengendus-endus udara.

"Tepat sekali." Kata wanita itu sambil melipat tangannya dan menatapnya dengan tajam. "Dimana kamu selama dua jam ini? Ngapain saja kamu? Bagaimana mungkin bajumu sampai menjadi sekotor itu dan wajahmu... Astaga!!! Darimana sih kamu? Kamu kan tahu ini adalah hari ulang tahun sepupumu dan kita semua diundang ke sana. Apa sih yang kamu lakukan? Kamu belum membungkus hadiahmu, belum menyetrika baju dan belum mandi juga. Padahal sejak bangun pagi tadi mama sudah berulangkali mengingatkanmu. Sarapanmu juga belum kamu sentuh. Kita harus berangkat lima belas menit lagi, Kasenda. Apa-apaan sih kamu ini? Mama nyaris putus asa dengan kelakuanmu."

Mulut Kasenda nyaris menganga lebar karena kebingungannya semakin menjadi-jadi, "Mama?" Katanya seperti orang linglung.

Wanita itu benar-benar kehilangan kesabarannya. Dia mendekati Kasenda dan menjewer kupingnya keras-keras, "Jangan berlagak linglung! Mama sudah capeeek melihat sandiwaramu. Selaluuu saja pura-pura linglung setiap kali kamu selesai dari menghilang entah kemana. Jangan sampai mama betul-betul membawamu ke psikiater! Baiklah, mama tidak peduli kamu tadi kemana atau ngapain saja. Mama tidak akan bertanya lagi. Buang-buang waktu saja! Cepat mandi. Sekarang juga! Cepat!"

"Aduuuh!!!" Jerit Kasenda kesakitan. Tetapi wanita itu sama sekali tidak mengendurkan jewerannya. Dia tetap menjewer Kasenda sambil menyeretnya ke depan sebuah ruangan.

"Masuk ke sana dan mandi. Sekarang juga! Mama, kasih waktu lima menit. Segera, Kasenda! Se-ge-ra!"

Cepat-cepat Kasenda masuk ke dalam ruangan itu agar segera terbebas dari jeweran yang membuat kupingnya terasa panas. Segera ditutupnya pintu berwarna putih itu rapat-rapat dan menarik nafas lega. Ya ampun, galaknya wanita itu, gerutunya kesal.

Apa sih yang terjadi? Dia menggaruk kepalanya, kebingungan. Bagaimana mungkin aku bisa muncul di sini? Tempat apa ini? Dimana ini? Cepat-cepat Kasenda tunduk untuk melihat kakinya. Yap! Sepatu boot merah nampak di sana. Apakah ini gara-gara si sepatu boot? Pikirnya. Pastilah! Apalagi kalau bukan gara-gara si boot merah ini. Dengan sigap Kasenda memegang pantatnya, mencari ekornya. Tidak ada! Kemana ekorku? Pikirnya penasaran.

Ah, ada sebuah kaca di sudut dekat bathtub. Kamar mandi yang bagus sekali, pikir Kasenda, dan baunya pun wangi. Sampai di depan kaca, Kasenda terpekik kaget melihat pantulan dirinya.

Siapa itu, siapa di sana? Pikirnya dengan mata membesar. Gadis kecil yang balas menatapnya dari balik kaca itu memiliki mata lebar yang kini sedang terbelalak kebingungan. Walaupun wajahnya tercemong-cemong tetapi dia manis sekali. Kasenda cepat-cepat memegang telinganya, saat menyaksikan telinga itu bundar dan nampak sempurna di samping kanan dan kiri kepalanya, kemana telinganya yang lancip itu? Pikirnya heran. Rambutnya sendiri, hitam legam dan lurus, berponi dan jatuh dengan manis di kedua bahunya.

"Halooo... kamu bukan aku!" Katanya kepada diri sendiri. Tidak ada sahutan sama sekali. Tiba-tiba matanya melihat sebuah amplop disematkan pada sudut cermin. Diambilnya. Di sana tertulis: Untuk Kasenda, pukul 08:00, dari Kasenda.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…