Sunday, September 4, 2011

Empat Perempuan

Iroh oleh Azam Raharjo
Episode 14: Menjadi Seperti

Aroma timun menguar segar dari rambut Iroh yang terurai menutupi punggungnya. Sayangnya, wajahnya berselaput kabut. Sambil duduk di depan Runi, matanya memandangi saja kaki majikannya. Sesekali tangannya menyibakkan rambut yang jatuh menyentuh pipinya.

“Rambutmu indah, Roh,” Runi berusaha membuka percakapan seraya menghalau kabut di mata Iroh. “Cuma perlu dirapikan sedikit ujung-ujungnya.”

Masih dengan mata ke bawah, tangan Iroh menarik seikal rambut yang tergerai di lengan kiri, jarinya menyentuh ujung-ujungnya, “Biar nanti dirapikan Non Dea aja.” Akhirnya Iroh membuka mulutnya.

Selepas mandi keramas tadi Iroh minta ijin untuk bicara dengan Runi. Katanya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Namun 10 menit berlalu dan Iroh hanya duduk membisu. Dua hari lalu bapaknya datang, menginap semalam. Agak tidak biasa karena Iroh baru saja menengoknya. Runi menduga, sesuatu telah terjadi di desanya. Mungkin simboknya sakit. Mungkin salah satu adiknya minta berhenti sekolah dan memilih bekerja. Atau jangan-jangan Iroh mau dikawinkan?

“Sebaiknya kamu cerita, Roh. Supaya kami bisa bantu…”
“Saya bingung mau bilang apa, Bu,” suara Iroh berupa bisikan. Pasti ada hal sangat penting karena ia menyebut Runi dengan ‘Bu’ dan bukan ‘Nyonya atau Nya’.

“Simbokmu sakit? Adikmu mau berhenti sekolah? Mau pindah kerja?” Runi bertanya untuk memancing Iroh bercerita. “Atau… kamu disuruh kawin?” Runi menebak. Iroh tersentak. Wajahnya mendongak. Matanya membelalak. Mereka saling menatap sejenak.

Setelah berpikir sebentar, pelan-pelan Iroh mengangguk. Menelan ludah. Gelisah. “Inggih, Bu.”

“Inggih itu yang mana?”

“Saya mau dikawinkan…”

Terdengar suara nafas terhela panjang. Pikir Runi si Iroh gelisah karena ingin pamit, mau berhenti bekerja. Itulah yang biasa terjadi. Setiap kali pembantu rumah tangga minta berhenti bekerja biasanya karena orang tua sakit atau mau kawin. “Aku ikut senang, Roh. Semoga kamu sudah kenal laki-laki itu. Semoga ia baik dan punya pekerjaan.”

“Itulah soalnya, Bu. Saya ndak mau… Saya ndak akan kawin sebelum adik-adik saya selesai sekolah. Sebelum saya bisa mbantu simbok nembok rumah.” Iroh lalu menceritakan perkembangan sekolah dua adiknya, Yarti dan Karti. Dua-duanya akan lulus SMK setahun lagi. Namun Iroh masih punya keinginan lain. Ia ingin orang tuanya bisa tinggal di rumah bata, bukan rumah bambu seperti sekarang ini.

“Apalagi orangnya nganggur, Bu. Udah malas. Ndak punya sawah… ndak punya sapi… ndak punya apa-apa… cuma jual tampang saja,” gerutu Iroh tentang lelaki yang akan mengawininya. “Saya ndak mau punya nasib kayak Sunarti itu, Bu.” Iroh menyebut perempuan yang pernah bekerja di rumah tetangga Runi. Karena terburu-buru dan khawatir dicap perawan tua, Sunarti mau saja dinikahi lelaki yang jelas-jelas tidak bekerja dan hanya pandai bergaya dengan sepeda motor yang dibeli dari menjual sapi milik keluarga. Cinta bagi si lelaki ternyata hanya sebatas malam pertama. Ia lupa kalau cintanya itu akan membuahkan bayi yang butuh makan juga.

“Sekarang Narti hidupnya soro, Bu. Saya ndak mau jadi seperti itu. Laki-laki yang nglamar saya itu persis suami Narti…” Wajah Iroh terlihat kesal.

“Lalu maumu bagaimana?”

Iroh memandang majikannya malu-malu. “Saya ingin menjadi seperti Bu Runi. Ingin mandiri. Sekarang ini saya mau tetep kerja di sini, Bu. Dibilang perawan tua ndak apa-apa…”

“Kamu masih sangat muda, Roh. Umurmu belum genap 21.” Runi tersenyum trenyuh. Betapa besar tekanan yang ditindihkan pada perempuan, pikir Runi. Bila tak juga menikah di usia tertentu, meskipun ia menumpu ekonomi keluarga, tetap dicap perawan tua, bukan dianugerahi bintang keluarga.

“Simbok dan bapak maunya saya cepet kawin mumpung masih ada yang mau… Tapi mau saya beda…”

“Menikah itu sangat dianjurkan kalau mampu,” ujar Runi.

“Maksudnya?”

“Yaaa… sehat jiwa raga, cukup usia, punya penghasilan cukup untuk keluarga, saling cinta…” Runi sengaja menyebutkan 'cinta' di belakang. Banyak contohnya, cinta memudar karena perut yang lapar. Sudah sering Runi ingin menasihati Iroh. Keinginan itu muncul setiap kali Iroh bercerita ada teman perempuannya yang menikah dan tidak bahagia karena suaminya tidak bekerja sementara dirinya telah hamil tua. Kini, kesempatan itu datang dan Runi tak ingin melewatkannya. Runi mengerti, bagi perempuan miskin seperti Iroh bekerja bukan aktualisasi diri, tapi perjuangan agar perut terisi nasi meskipun hanya sekali sehari. Runi tahu, salah satu senjata pemutus rantai kemiskinan yang membelenggu perempuan adalah pendidikan. Dengan bekerja sejak muda Iroh membiayai pendidikan dua adiknya agar mereka tidak terjebak dalam lubang kemiskinan yang sama. Runi ingin mendukung Iroh supaya ia berani menjadi penentu jalan hidupnya sendiri sekaligus membuka jalan yang lebih lebar untuk dilalui dua adiknya.

“Iroh…” Suara Runi melembut namun tegas, “Kita semua sering memilih menjadi seperti yang diharapkan orang lain dan bukan menjadi seperti yang kita maui.” Runi berhenti sebentar, melihat mata Iroh yang memandangnya penuh perhatian. “Menjadi seperti yang kita maui itu kadang-kadang tidak mudah. Kita harus berani menghadapi ejekan kalau kita berbeda dengan mereka. Aku sering menghadapi hal seperti itu. Aku dulu sering menipu diri sendiri hanya agar orang bisa menerima diriku. Tapi sekarang tidak lagi. Aku ingin menjadi diriku. Menjadi seperti yang aku mau.”

Iroh takjub meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti kata-kata majikannya. Iroh hanya tahu kalau teman-teman perempuannya sesama pekerja rumah tangga banyak yang berhenti bekerja untuk menikah meskipun tahu kalau calon suami mereka menganggur. Setelah punya anak mereka baru sadar kalau mereka tak mungkin kembali bekerja, sedangkan si anak butuh biaya dan si suami kerjanya kelayapan saja. Bila beruntung, neneknya bisa membantu momong si anak sementara ibunya mencari kerja. Namun Iroh tak punya kemewahan semacam itu. Orang tuanya harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri. Dua adiknya dibiayai Iroh sepenuhnya. Kalau Iroh berhenti bekerja untuk kawin dengan lelaki pengangguran, akan ada tiga perempuan yang masa depannya terancam.

Aku tak mau mempertaruhkan masa depan adik-adikku dan masa depanku, tekad Iroh dalam dada. “Sekarang ini saya ingin tetep kerja, Bu. Saya ingin Yarti dan Karti lulus sekolah. Saya ingin mereka bisa kerja juga. Itu yang saya mau.” Suaranya tegas meskipun terucap lirih.

“Apa aku perlu bicara sama bapakmu?”

“Ndak usah, Bu. Nanti saya bilang sendiri,” ucap Iroh lega, kabut terangkat dari matanya. “Saya permisi, mau njemur cucian…” Iroh berdiri, meraih tangan kanan Runi dan menciumnya dengan khidmat. “Nyuwun pengestu, Bu,” ujarnya.

“Roh…”

“Ya, Bu?”

“Lakukan apa saja yang membuatmu merasa nyaman.”

“Ya, Bu. Nyaman itu yang bagaimana, ya?”

Runi tergelak. Suasana haru berubah menjadi lucu.

“Nyaman itu… apa saja yang kamu bisa dan kamu percaya itu benar dan yang bisa bikin kamu seneng, yang bisa bikin kamu tentram, tidak bikin kamu gelisah, tidak bikin kamu bingung…”
Iroh manggut-manggut berusaha memahami. Nanti siang sepulang Non Dea dari berenang ia akan memintanya menjelaskan lagi.

“Roh…”

“Ya, Bu?”

“Aku lebih suka dipanggil bu daripada nyonya.”

“Tapi saya lebih nyaman kalau panggil nyonya, Bu.”

Terdengar gelak tawa menghiasi ruang makan. Dari ruang tengah Eyang ikut tersenyum. Sejak tadi ia mencuri dengar sambil pura-pura membaca koran Minggu.

***