Sunday, September 11, 2011

Empat Perempuan

Empat Perempuan oleh Azam Raharjo

Episode 15: Jeng Sekar

“Eyaaang…!!!” Jerit Dahlia mengungguli gemericik air kran dan denting alat-alat makan yang tengah dicuci Runi dan Iroh di dapur. Disusul suara sendal yang diseret oleh dua kaki kurusnya.

“Deaaa…” Ganti suara Eyang menegur cucunya yang selalu lupa perintahnya untuk tidak berjalan menyeret sendal, sebab itu tidak sopan.

“Ini nih… ada yang nanyain Eyang…” Derai tawa Dea terdengar hingga ke dapur, meledek sang nenek. “Ini nih… nggak tahu siapa. Ada yg kirim message. Foto profilnya burung perkutut, namanya Sentot Borot… iiihhh… namanya… amit-amit!” Dea terkikik.

Perempuan awal enampuluhan itu menatap cucunya. Mulutnya ternganga. Sosok dari masa lalu menyelinap ke dalam benaknya. Namun bukan nama Sentot Borot itu yang membuatnya heran, melainkan mengapa lelaki itu sampai bisa berhubungan dengan cucunya.

“Ini apa?” Eyang membuka kacamatanya, memakainya kembali, lalu mengamati layar laptop Dea. “Ini Facebook. Eyang tahu. Tapi ini apa?” Tangan Eyang menunjuk-nunjuk layar.

“Baca sendiri.” Laptop ia taruh di pangkuan Eyang. “Ini inbox. Sesama pengguna FB bisa kirim pesan lewat inbox ini.”

“Walaaah… ada-ada aja si Sentot itu. Kurang kerjaan! Ganjennya nggak sembuh juga sampai tua,” Eyang ngedumel setelah membaca isi pesannya. Teman semasa mudanya itu tanpa sengaja melihat foto-foto Dea. Dari foto-foto itu ia bisa mengenali Eyang. Kemudian kakek tiga cucu itu menulis pesan, menanyakan apa benar perempuan berambut perak yang masih cantik di foto itu bernama Sekar.

“Bisa-bisanya kamu berteman dengan kakek-kakek!” Seru Eyang.

“Yeee… bukan gitu!” Dea menjelaskan kalau setting Facebook bisa diatur semau si empunya akun.
Dea men-setting semua orang bisa melihat foto-fotonya, meskipun belum berteman. “Naaahhh… Si kakek ganjen itu lalu menemukan mantan ceweknya. Jeng Sekar. Gituuu…” Dea terkekeh panjang sampai-sampai Runi dan Iroh yang masih sibuk di dapur ikut tertawa.

“Ayo, Eyang! Cerita! Si Borot itu siapa! Ih… namanya!!!” Dea kembali tertawa.

“Itu… tolong ambil album di rak itu.” Eyang memindah laptop ke atas meja. Tangannya menunjuk rak buku di dekat meja kerja Runi. “Ya, di tumpukan album itu. Yang hijau itu… yaaa…”

Dea membersihkan debunya dengan tisu lalu menyerahkan benda itu pada Eyang. Dengan album tua di tangan, Eyang pindah duduk ke sofa, diikuti cucunya yang tak lagi tertawa. Dari ambang pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang makan Runi mengamati dua perempuan penghias hari-harinya itu. Dua perempuan yang memberinya alasan untuk terus berjalan meniti kehidupan meskipun separuh hatinya telah ia kubur jauh di belakang.

Tangan Eyang mengelus album tua yang warna hijau sampulnya telah pudar. Di sampul itu tertulis dengan tinta, ‘Sekar Jatiningsih’. Namanya. Bunga intisari cinta. Nama Sekar begitu dipuja oleh suaminya hingga menjadi ilham untuk menamai tiga anak perempuan mereka dengan nama-nama bunga: Seruni, Kana dan Melati.

“Ayooo… ceritaaa!!!” Dea mendesakkan tubuhnya.

“Sebentar…” Pelan-pelan Sekar membukai halaman album yang usianya lebih tua dari Runi itu.

“Eyang cari dulu foto Si Borot itu,” ujar Sekar tertawa. “Naaah… ini… ini…!” Tangan Sekar menunjuk foto lima lelaki muda. Khas foto hitam putih tahun enampuluhan. “Ini Eyang.” Yang dimaksud Sekar tentu suaminya. “Yang ini sekarang udah jadi jenderal, yang kena kasus korupsi itu.” Sekar menunjuk lelaki paling kiri sambil menyebutkan nama yang sejak pertengahan 2010 sering menjadi berita utama di surat kabar dan televisi.

“Itu temen Eyang Kakung?” potong Dea. “Mama tahu?” Matanya beralih ke ibunya yang duduk menatap mereka dari belakang meja kerjanya. Si ibu mengangguk sambil mengedipkan mata. “Jangan-jangan jenderal itu dulu juga naksir Jeng Sekar.” Dea kembali tertawa.

“Nggak. Seleranya beda. I am not his type,” canda Eyang.

Not his type…” Dea menirukan neneknya, terkekeh sambil geleng-geleng kepala.

“Si Sentot itu dari muda dijuluki borot karena banyak bicara. Kayak ember bocor. Kamu tahu borot, kan? Bocor,” Sekar menjelaskan kalau-kalau Dea tidak tahu. Anak seusia Dea umumnya kehilangan bahasa daerahnya. Aneh sekali, pikir Sekar, nilai Bahasa Jawa Dea dan teman-temannya sekarang ini jauh ketinggalan dibanding Bahasa Inggris dan Jerman. Sungguh suatu kerugian yang tak ternilai. Meskipun di rumah Sekar berusaha mengajaknya berbahasa Jawa, namun Dea selalu menjawab dengan Bahasa Indonesia. Rupanya teman-teman Sekar mengalami hal serupa, cucu-cucu teman-temannya yang berasal dari berbagai suku tak lagi berbicara bahasa daerah mereka.

“Keren juga, ya!” Dea mencubit neneknya, mengamati foto Sentot, tak tahu kalau sang nenek sedang prihatin akan dirinya yang tak lagi bisa berbahasa Jawa.

“Sentot itu dulu naksir Jeng Sekar!” celetuk Runi tak bisa menahan diri. “Makanya Mas Sukaji cepet-cepet melamar Jeng Sekar!” Runi menyebut nama bapaknya. “Kalau Jeng Sekar nikah sama Mas Sentot, Seruni nggak bakal ada, apalagi Dahlia!” gurau Runi. “Makanya kamu harus berterima kasih sama Si Borot itu…”

“Eyang dulu populer, ya?” Dea membuka beberapa lembar album dan berhenti pada foto Sekar muda. Rambut ikalnya jatuh sempurna tepat di dua pundaknya. Senyum samar terukir di sepasang bibir penuhnya. Sepasang mata bulat dengan sorot bersahabat mengungkapkan kebaikan hati pemiliknya. Seraut wajah dengan kecantikan yang bersahaja.

“Bukan populer. Cuma banyak yang suka,” sergah Runi.

“Ah. Jaman dulu beda dengan jaman sekarang.” Sekar malu kalau cucunya sampai tahu bahwa ketika muda namanya pernah terpahat di sekian banyak hati lelaki. Salah satunya milik Sentot.

“Makanya Jeng Sekar kawin muda,” tambah Runi.

“Nggak juga,” protes Sekar, “usia Ibu waktu itu 20 tahun. Jaman dulu nggak ada model pacaran kayak sekarang. Kebanyakan orang tua melarang anak perempuannya dipacari. Kalau suka, ya langsung dilamar. Tidak banyak pilihan untuk perempuan. Masih jarang perempuan kerja sampai kemana-mana. Penyiar TV cuma satu-dua. Bintang film ya cuma Rima Melati. Penyanyi ya Titik Sandhora dan Titik Puspa. Dulu orang tua kebanyakan malu kalau anak perempuannya jadi penyanyi apa bintang film. Rata-rata jadi guru, dosen, dagang, sekretaris. Makanya banyak kisah boss nyeleweng sama sekretarisnya, karena semua boss laki-laki. Sekarang aja banyak pegawai laki-laki selingkuh sama boss perempuan…” Sekar tertawa.

“Itu namanya kemajuan!” sergah Dea.

“Selingkuh kok kemajuan,” gerutu Eyang.

“Bukan selingkuhnya. Jadi boss-nya ituuu…” Dea mbesengut, “Ayooo… cerita Sentot Borot lagi,” pinta Dea.

“Nggak ada ceritanya. Ya cuma begitu itu. Dia pernah suka sama Eyang. Hampir saja melamar. Tapi keduluan Eyangmu. Dia patah hati. Lalu pindah ke Kalimantan. Nikah sama perempuan Dayak sepuluh tahun kemudian.” Sekar berhenti sebentar, meraih laptop Dea, mengamati profil Facebook Sentot. Foto burung perkutut di profilnya menandakan lelaki itu tidak banyak berubah. Sejak muda ia memang suka burung perkutut. “Lho… ini nggak kelihatan apa-apa. Gimana, nih caranya?” Sekar menyodorkan laptop ke cucunya.

Dea mengklik sana-sini lalu terpampang foto-foto. “Kita cuma bisa ngelihat foto-fotonya aja. Nggak bisa nulis komentar, soalnya Dea belum temenan. Tapi bisa kalau mau nulis pesen. Eyang mau?”

“Mau apa?”

“Dea bikinin akun FB?” Wajah Dea terlihat serius. “Kasih nama Jeng Sekar. Terus pakai foto Eyang yang tadi itu. Yang cantik itu. Nanti di-scan dulu.”

“Ah! Nggak usah.” Suara Sekar terdengar ragu, antara mau dan malu.

“Nggak apa-apa, Bu. Siapa tahu…” Runi menggoda.

“Siapa tahu apa?” Sekar menoleh.

“Ketemu temen-temen lama,” Runi menahan tawa. “Memangnya apa?”

“Nggak, ah… nggak usah…” Sekar yakin.

“Terus?” tanya Dea.

“Apanya?”

“Sentot Borot ini mau diapain? Dea mesti bilang apa?”

“Apa, ya?” Eyang kembali membukai lembaran albumnya. “Anu… titip salam saja.” Sekar meletakkan album kesayangannya. Meraih laptop cucunya dan meneruskan mengamati foto-foto koleksi lelaki yang dulu pernah menjadi salah satu di antara delapan pemujanya.

Tiga cucunya masih balita, pikir Sekar. Semoga ia tidak memerlukan waktu sepuluh tahun untuk menyembuhkan luka hatinya. Sentot yang baik hati itu terlihat bahagia bersama istri, empat anak dan tiga cucunya. Ia amati istri Sentot yang menurutnya cantik dan tampak awet muda.
Peristiwa masa lalu, meskipun getir, jadi terasa manis ketika sudah mengendap di dalam kenangan. Bahkan yang sangat menyedihkan bisa memancing senyuman.

“Facebook ada baiknya juga…” bisik Sekar.

“Eyang mau, ya?” Dea berseru gembira. “Bikin akun sekarang? Ya?” Desaknya.

“Kapan-kapan aja.” Sambil tersenyum, Sekar mengangsurkan laptop pada Dea. “Terima kasih,” ucapnya. Benda kecil itu ternyata banyak manfaatnya, termasuk mengantarnya kembali ke masa muda.

***