Wednesday, September 7, 2011

Faith

Aku duduk di luar gerbang kedatangan internasional. Kutengok arloji untuk kesekian kali. Duapuluh menit lagi pesawat dari Kuala Lumpur mendarat. Mataku menatap kosong pada orang-orang yang lalu-lalang di Bandara Adisucipto. Inilah tempat perjumpaan diakhiri dan perpisahan diawali; atau sebaliknya. Ada tawa tergelak mesra menyambut sang kekasih yang baru tiba. Ada seorang anak menangis tak rela berpisah dengan sang ayah. Ada airmata buaya yang menetes agar dikira melepas pergi dengan berat hati. Ada duka bersembunyi di balik kacamata hitam dan senyum yang dipaksa mengembang. Tempat ini bagai panggung yang mementaskan aneka sandiwara.

Kupejamkan mataku. Terbayang wajah ibuku yang terbaring lemah di rumah sakit, sehabis dioperasi,  saat ia berbisik di telingaku enam bulan lalu.

“Nia, ada hal penting yang kamu harus tahu. Ibu kira sudah saatnya.”

“Ya, Bu?” Badanku condong ke ranjang, leher kujulurkan agar kepalaku lebih dekat.

“Kamu punya seorang adik perempuan.”

Merinding seluruh permukaan kulitku mendengar suara lirihnya. Sesaat kukira obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan ke tubuhnya telah membuatnya mengigau.

“Faith,” ibuku tak lagi berbisik. Matanya lurus menatapku. Sorotnya lembut namun menembus ke dalam hati. “Faith. Ya. Gadis yang sering Ibu ceritakan itu,” lanjut ibuku. Suaranya pelan. Jernih.

“Maafkan Ibu, Nia. Maafkan Ibu.” Tangan kanan Ibu meraih kepalaku dan membelai rambutku yang poninya sudah kepanjangan.

Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Bagai sepotong daging yang lama teronggok di dalam freezer, begitulah rasa di ulu hatiku. Keras. Beku. Anehnya, pelan-pelan muncul rasa panas menjalari mukaku. Kepalaku berat. Leherku kaku. Nafasku memburu. Aku tersedu-sedan, menangis begitu lama di sisi ranjang Ibu.

***

Usiaku delapan tahun ketika aku harus merelakan Ibu pergi Amerika. Aku dititipkan pada kakek-nenekku, karena Bapak dipanggil Tuhan saat aku baru saja bisa berjalan. Ya. Ibu menjada sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke 27, hanya 2 tahun lebih tua dari usiaku saat ini.

“Ibu sekolah lagi agar naik pangkat,” bujuk Eyang Putri, “Kalau naik pangkat gaji Ibu bertambah banyak. Untuk biaya sekolah Nia. Untuk memperbaiki rumah,” tambahnya. Bermalam-malam semenjak kepergian Ibu, aku sering menangis, sulit tidur meskipun Eyang Putri tak pernah lepas mendekapku. Beberapa bulan berjalan, aku tak lagi kesepian karena Eyang Kakung dan Eyang Putri sangat sayang padaku dan Ibu mulai mengirim buku-buku cerita yang mereka bacakan sebagai pengantar tidurku.

Dua tahun kemudian, seminggu sebelum aku naik kelas lima SD, Ibu pulang menyandang tambahan gelar. Aku luar biasa senang. Bukan saja karena aku bisa merasakan pelukan hangatnya, tapi karena setiap malam Ibu bercerita tentang kota-kota yang ia kunjungi di sana dan teman-temannya dari berbagai negara.

Ibu juga menunjukkan foto-foto. Salah satunya foto bayi cantik bernama Faith. Katanya, untuk mengisi waktu di akhir pekan Ibu mengasuh si mungil itu, sekalian menambah uang saku agar Ibu bisa membelikanku banyak buku. Ya. Hampir tiap bulan Ibu mengirimiku tiga atau empat buku yang di Jogja harganya mahal sekali.

“Ceritakan tentang dia, Bu,” pintaku pada Ibu, lima belas tahun yang lalu. “Ceritakan tentang Faith.” Aku suka sekali menyebut namanya.

“Faith sejak lahir tidak dibedong, tidak dikasih gurita seperti waktu kamu baru lahir dulu,” cerita Ibu suatu malam, “Ia suka tidur tengkurap. Hidungnya mungil sekali waktu baru lahir. Matanya biru seperti mata boneka. Kulitnya halus seperti kulitmu. Rambutnya hitam kecoklatan. Orang sana menyebutnya brunette.” Sebelum Ibu selesai cerita, aku pasti sudah jatuh tertidur. Malam berikutnya aku akan minta Ibu melanjutkannya.

Aku lupa berapa lama kisah Faith itu menjadi semacam dongeng sebelum tidur. Mungkin sampai setahun sejak Ibu pulang. Dua-tiga kali sebulan, ibu Faith yang bernama Josephine menelpon Ibu, mengabarkan perkembangan anak itu.

“Josephine sangat menyayangi Ibu, Nia.” Cerita Ibu suatu kali sehabis menerima telponnya. “Katanya Ibu adalah baby-sitter terbaik di dunia.” Lalu Ibu tertawa. “Makanya dia sering kangen sama Ibu dan minta Faith ngobrol dengan Ibu. Sekalian pamer kalau dia sudah pandai bicara.”

Pertama kali Ibu memintaku berbicara di telpon dengan Faith, aku menolak karena malu. Aku baru mau bicara setelah bahasa Inggrisku bagus.

Ketika aku duduk di bangku SMP, sesekali aku masih sering melihat foto-foto Faith yang dikirimkan oleh Josephine untuk Ibu. Aku suka sekali melihat foto gadis itu. Mata Faith berubah jadi coklat setelah ia lebih besar, tidak serupa dengan mata Josephine yang hijau zaitun. Rambut mereka juga berbeda. Josephine berambut lurus dan pirang. Dalam beberapa foto close-up, terlihat jelas Faith berdarah Asia. Aku pernah bertanya pada Ibu tentang hal itu. Namun Ibu tidak menggubrisku.

Di tahun 1998, saat usiaku menginjak 13 tahun, orang sudah menggunakan telepon genggam meskipun belum sebanyak sekarang. Ibu juga punya. Ibu mulai menggunakan internet dengan sistem dial-up yang lambat. Surat-surat Josephine untuk Ibu digantikan email. Kadang Faith mengirim email pendek untuk Ibu dan untukku. Kadang aku juga menerima email pendek dari Josephine. Keluargaku dengan keluarga Faith bersahabat erat, meskipun aku tidak pernah melihat foto ayah Faith atau menerima email darinya.

Salah satu foto dari Josephine menampakkan wajah Faith yang mengingatkanku pada bunga sakura. Mungkin karena Josephine dan Faith mengirimiku rangkaian sakura kering yang elok, yang dibingkai dengan pigura keemasan, yang menghiasi dinding kamarku. Ibu juga dikirimi satu, ukurannya lebih besar, pas untuk menghiasi dinding di atas kepala ranjangnya.

“Ayah Faith orang Jepang, Bu?” tanyaku sewaktu kami menerima kiriman hadiah mahal itu.
Ibu tersenyum sambil menggeleng. “Menurutmu dia seperti gadis Jepang?”

Aku ganti menggeleng. “Sepertinya dia berdarah campuran,” tebakku.

“Mungkin karena ia lahir di awal April, di musim semi, Nia. Saat bunga-bunga sakura di sekeliling Tidal Basin di Washington DC bermekaran. Saat di sana diadakan Festival Nasional Cherry Blossom.” Jelas Ibu. Dari bibirnya lalu meluncur cerita tentang festival yang berlangsung tiap tahun itu.

Konon pada tahun 1912, Walikota Tokyo Yukio Ozaki menghadiahkan 3 ribu pohon sakura, atau cherry blossom, untuk ditanam di Washington DC, ibukota Amerika. Saat Faith lahir itulah, di bulan April 1994, jangka waktu festival diperpanjang, dari beberapa hari menjadi 2 minggu.

“Kelahiran Faith dirayakan jutaan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dunia, yang menikmati indahnya bunga sakura yang mekar di musim semi itu.” Wajah Ibu terlihat seindah bunga saat ia bercerita. Aku terpesona. Ibu mengecup pipiku. “Suatu hari, Ibu akan mengajakmu melihat festival itu.”

***

Sore itu, seminggu setelah Ibu pulang dari rumah sakit, kami duduk di ruang tengah. Ibu terlihat segar meski masih lemah. Sepoci teh dan dua cangkir ada di atas meja, ditemani sepiring penuh bakwan jagung.

“Semua terjadi begitu saja, Nia.” Ibu mulai bercerita. Aku tak berani menatap matanya. Aku takut ia melihat kemarahanku yang berhari-hari kutekan kuat-kuat hingga sering membuatku tiba-tiba berkeringat. Aku dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi rasa hormat pada sosok ibu. Berkali-kali Eyang Putri berpesan pada semua cucunya agar tidak sekali-kali membantah ibu, kecuali bila sang ibu menyuruh si anak berbuat maksiat. Pesan itu terpahat di hatiku.

“Faith. Ya. Faith. Nama itu pemberian ayahnya,” bisik Ibu. “Sebagai simbol cinta kami yang kuat,” tambahnya. “Lelaki itu namanya Liam MacKenna. Ibunya dari Swedia. Ayahnya dari Irlandia. MacKenna itu nama Irlandia.” Mata Ibu menatap cangkir yang kini digenggamnya. “Cinta kami berawal dari selembar rok lilit batik. Ibu sedang berjalan melintasi halaman perpustakaan yang luas.” Ibu memejamkan mata. Senyum halus terukir di bibirnya. Membayangkan kejadian saat itu, di suatu siang, di bulan Mei, 17 tahun yang lalu.

***

“Nice skirt,” kata Liam yang berjalan tak jauh di belakang Ibu.

Ibu menoleh. Sepasang mata coklat bernaung alis tebal memandang rok lilit batiknya. Kaki-kakinya yang panjang melangkah lebar menjajari Ibu. “Thank you,” jawab Ibu.

“Are you Thai?”

“No. Indonesian.”

“I see. Going to the library?”

“Yes.”

“That’s a pretty skirt.” Liam mengulang pujiannya. Senyumnya terkembang ramah, matanya masih memandangi rok lilit Ibu yang ujungnya melambai-lambai ditiup angin bulan Mei yang membawa sisa-sisa harum bunga di akhir musim semi.

Mereka berkenalan. Di dalam perpustakaan Liam duduk di meja tak jauh dari meja Ibu, di lantai dua. Sebelum gelap tiba, Ibu mengemasi buku-bukunya. Si Amerika keturunan Irlandia itu beranjak dari kursinya lebih dulu, mendekati Ibu. Begitulah. Sepotong rok lilit batik mempertemukan mereka. Ibu menyambut baik pertemanan yang ditawarkan associate professor berusia 47 tahun itu. Saat itu Ibu sedang memasuki masa tujuh tahun menjada di usia yang baru 33.

Hubungan mereka berkembang cepat. Bagai sepasang burung, Liam dan Ibu bercengkerama di hangatnya musim panas. Matahari yang ramah, yang menyebarkan gairah di sepanjang pantai Timur Amerika itu melenakan sepasang manusia yang tengah dimabuk asmara. Bara cinta Ibu yang padam semenjak Bapak meninggal tersulut kembali. Ibu jatuh cinta. Liam demikian pula. Di akhir bulan Juli, saat musim panas mencapai puncaknya, janin usia 4 minggu telah tumbuh di rahim Ibu.

Tidak ada mahasiswa Indonesia yang mengetahui peristiwa itu. Ibu tidak berteman dengan mereka dan sengaja jarang datang ke acara-acara yang diadakan perkumpulan mahasiswa Indonesia. Ia menutupi kandungannya dengan blus-blus longgar, jaket dan scarf. Musim dingin membantu menyamarkan perutnya yang membuncit. Teman-teman kuliahnya mengira berat badannya bertambah, hal biasa yang terjadi pada banyak orang. Ibu memilih tinggal sendirian di apartemen satu ruang yang disebut studio, di sebuah gedung tinggi yang tak banyak dihuni mahasiswa.

Satu-satunya orang yang tahu selain keluarga Liam adalah Kioni, sahabat karib Ibu, mahasiswi dari Kenya. Ia pula yang menjaga dan mendampingi Ibu. Kioni pernah mengunjungi kami, beberapa tahun lalu. Ia kini tinggal di Washington DC dan menjadi warganegara Amerika.

“Let me marry you, Astari,” Liam memohon berkali-kali. “Let me go to Indonesia to meet your parents.”

Ibu menolak keras. Ibu takut bapaknya murka. Aku tak heran. Kakekku tak merestui anak-anaknya menikahi orang beda suku, apalagi beda negara. Ia bersumpah akan membawa kemarahannya hingga ke kubur bila ada yang menentangnya.

Ibu dan Liam bertengkar. Ibu memohon agar Liam mengerti. Awalnya Liam tidak mau tahu meskipun Eyang Kakung mengancam akan memisahkan Ibu dariku bila ia menikahi lelaki Amerika itu. Ibu minta bantuan keluarga Liam. Mereka berpihak pada Ibu, terutama Josephine, adik Liam.

"They will separate her from her daughter," ujar Josephine pada kakak lelakinya, "Let her raise her daughter and you raise yours," bujuknya.

Menjelang kelahiran si bayi, lelaki itu akhirnya mengalah meski dengan hati terbelah. Ibu menyusui Faith hingga masa tinggalnya di Amerika berakhir.

“I will take care of her like my own daughter. She is my flesh and blood too.” Josephine berjanji pada Ibu.

Ibu terbang pulang ke Jogja dengan sebelah sayap yang patah, untuk membesarkanku dengan merelakan Faith diasuh oleh ayahnya. Aku memiliki ibuku dan Faith memiliki ayahnya.

***

Lelehan air mata mengakhiri cerita Ibu. “Faith itu adikmu, Nia. Buah rahim Ibu juga.” Pundaknya berguncang keras membentur-bentur punggung kursi. Tubuhku bagai terpaku di kursi yang kududuki. “Faith terlahir karena cinta, Nia. Percayalah.”

Aku percaya. Sepanjang yang bisa kuingat, sekembalinya dari Amerika, tak pernah sekalipun kulihat ibuku bersama lelaki. Ia sendiri hingga kini.

“Sebenarnya mudah kalau Liam ingin kemari,” jelas Ibu. Air matanya berhenti mengalir. “Namun Ibu tidak ingin menyakiti Eyang Kakung dan Eyang Putri. Sesekali kami bertemu juga, Nia. Kalau Ibu sedang tugas ke luar negeri itu, kami pasti bertemu. Liam tidak menikah. Dia membesarkan Faith dengan sempurna. Hanya hal-hal baik yang ia ceritakan pada Faith tentang Ibu.”

Cinta mereka tetap terpelihara, Faith sebagai pengikatnya. Faith adalah sekuntum bunga yang tak pernah layu, seperti cinta Liam pada Ibu. Bagai sakura yang selalu mekar di musim semi. Ya, kini aku tahu. Sakura itu lambang cinta mereka. Sakura yang mekar di awal bulan April, bersamaan dengan kelahiran Faith. Rangkaian sakura kering itu ternyata pemberian Liam untuk aku dan Ibu.

“Sejak awal engkau telah menjadi bagian cinta kami, Nia. Sebelum ada Faith. Buku-buku itu semua dari Liam. Ibu tak pernah lupa mengirimkan foto-fotomu untuk mereka.” Mata kami beradu. “Maafkan, Ibu, Nia.” Entah untuk keberapa kalinya Ibu mengucapkan kata maaf sejak ia mulai bercerita di rumah sakit itu.

Ibu memendam duka begitu lama demi menjaga perasaan dan martabat orangtuanya; duka yang ia tanggung hingga keduanya meninggalkan dunia.

“Sekarang Ibu siap menerima marahmu,” bisik Ibu ke telingaku.

Aku beranjak, membenamkan wajahku ke pangkuannya, dua tanganku mendekap erat kakinya. Duhai Ibu, tak berhak aku marah padamu, jeritku di dalam hati. Ibu membesarkanku sendiri sejak usiaku 1,5 tahun. Sambil bersimpuh kutempelkan pipiku di perut Ibu yang habis dioperasi. Rahimnya diambil bersama tumor sebesar telur angsa yang tumbuh di dalamnya. Di rahim itulah aku dan Faith tercipta.

***

Dari speaker kudengar suara perempuan mengumumkan kedatangan pesawat Airbus A320-200 dari Kuala Lumpur. Dentuman jantungku memukul-mukul rongga dada. Bulir-bulir keringat dingin keluar dari pori-pori ketiakku, menyusuri kulit lenganku, membasahi kausku. Tak lama lagi, sebuah perjumpaan akan kami awali, sebuah sandiwara segera kami akhiri.

Satu persatu penumpang keluar dari gerbang kedatangan internasional yang dipadati puluhan penjemput. Pekikan senang dan seruan bahagia berlompatan dari mulut-mulut yang tertawa. Tubuh-tubuh berpelukan, pipi-pipi bersentuhan. Aku berdiri agak jauh, mataku terpancang ke pintu gerbang.

Itu dia. Kulihat sosoknya. Tinggi semampai. Rambut brunette-nya yang panjang diikat ke belakang. Gadis 16 tahun itu melangkah melewati kerumunan. Kepalanya menengok kiri-kanan, sepasang mata coklatnya mencari-cari seseorang. Tas cangklong besar tersilang di pundak kanan. Tangan kirinya memegang gagang koper kulit ukuran sedang. Seikat bunga sakura kering tergenggam di tangan kanan.


Jogja, awal April, 2010.

***