Skip to main content

Jangan Menangis untuk Ananda

Ananda oleh Azam Raharjo

Tidak ada yang tahu mengapa Ananda meninggalkan orang tuanya lalu memilih hidup di jalanan. Gadis kecil 12 tahun itu mestinya berada dalam kehangatan dekapan ayah-bunda dan bergelimang suka-ceria bersama teman-temannya di sekolah.
Namun Ananda berada di sini. Di Gupon Hijau, sebuah rumah singgah yang didirikan oleh Ratna, sahabatku.

Rumah kecil berhalaman luas itu bernama Gupon Hijau. Gupon yang berarti rumah merpati dan hijau yang menunjuk warna catnya.

“Mengapa gupon? Mengapa merpati?” Tanyaku.

“Itu pilihan anak-anak sendiri. Mereka menyebut diri seperti merpati. Yang mau terbang kemana-mana untuk belajar hidup mandiri tapi juga ingin punya rumah untuk pulang kalau mereka lelah.” Jelas Ratna.

Ananda hanya salah satu penghuni tetapnya bersama sekitar selusin lainnya. Gadis kecil berkulit sawo matang, bermata bulat dan berambut ikal panjang dengan poni itu sudah jadi remaja. Ketika bertemu tadi kulihat buah dadanya telah menyembul cukup besar dari balik kausnya. Aku menemui Ratna sambil membawa buku dan pakaian untuk Ananda. Kuberi dia enam potong kutang yang baru dan bagus, belasan lembar celana dalam dan satu set alat perawatan diri seperti gunting kuku dan sisir.

“Dia sepertinya tidak trauma,” gumamku, lebih pada diriku sendiri, namun Ratna mendengarnya.

“Dia hanya menipu diri saja. Itu salah satu cara yang dipakai oleh anak-anak seperti Ananda ketika mereka dicabuli.”

Ah! Dicabuli! Sakit nian telingaku mendengar kata itu. Apa beda dicabuli dan diperkosa? Apa beda diperkosa dengan dibunuh jiwanya? Kukatupkan bibirku untuk menahan airmataku. Kalau Ananda tidak menangis sehabis diperkosa, mengapa aku mengeluarkan air mata hanya mendengar kisahnya saja?

“Mungkin itu bukan yang pertama kali,” kata Ratna. Yang dimaksud dengan ‘itu’ adalah pencabulan terhadap Ananda. “Kemungkinannya untuk anak laki-laki dan anak perempuan sama saja. Mereka bisa menjadi mangsa dimana saja, kapan saja, siapa saja.” Ratna tersenyum segetir-getirnya ketika mengucapkan kata-kata yang sama dengan jingle minuman bersoda itu.

Kuedarkan pandangku mencari sosok Ananda. Kulihat dia tengah bermain badminton bersama dua gadis kecil lainnya. Rambut lurus panjangnya diekor-kuda dan menari-nari seirama dengan lompatan-lompatan kakinya.

Sambil mengamati permainan mereka, pikiranku terbang mengunjungi masa kecilku yang serba indah serba mudah serba bahagia. Ketika aku sebaya Ananda orang tuaku menjagaku sepenuh hati, karena kata mereka aku adalah harta titipan dari surga.

“Lina…” Suara lembut Ratna mengejutkanku. “Mau kamu serahkan sendiri barang-barang untuk Ananda?”

Kuremas kardus besar yang terbungkus kertas kuning dan berpita biru. “Tidak, Ratna. Kamu saja yang menyerahkannya.”

Aku tidak percaya pada diriku sendiri kalau aku akan kuat memandang dua bola mata Ananda. Apa yang kuberikan itu, tidak akan menyembuhkan luka batinnya. Tak akan melindunginya dari rimba raya jalanan yang tak kenal cinta.

Ada ribuan anak bernasib seperti Ananda. Mereka bungkam atas kekejian yang menimpa hidupnya. Namun mereka, sungguh, tampak biasa saja. Apakah di dalam tubuh mereka yang tampak rapuh dan lemah tersimpan kekuatan dahsyat yang tak terlihat?

Sambil melangkah meninggalkan Gupon Hijau, hatiku berkata, jangan menangis, Lina, berbuatlah sesuatu untuk mereka. Lalu aku bedoa, Tuhan, jadikanlah jiwa mereka sekuat kuda, yang mampu menembus tandusnya gurun dan luasnya savanna.

***


UUD RI 1945, Pasal 34:
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…